MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
KENAPA HARUS KESAL?


PLUK


Angkasa mengusap keningnya saat Bintang melempar bantal sofa padanya. Pemuda itu mendelik, "Dendam amat Lo sama gue."


Bintang terkekeh, "Katanya mau ada yang di omongin, malah bengong." Bintang mengambil ponselnya, masih tak ada notifikasi pesan apapun dari Bulan, padahal akhir-akhir ini hubungan mereka membaik dan cukup dekat.


Angkasa kembali diam, ia bingung. Niatnya ke rumah Bintang memang ingin menceritakan perihal Bulan pada sang sepupu, tapi bagaimana jika nanti Bulan marah? Mengingat gadis itu sudah mewanti-wanti untuk tak menceritakan perihal keadaannya yang sekarang pada siapa pun. Bukan kah Bintang juga termasuk?


Pemuda itu menghela nafas gusar, kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Matanya terpejam, Angkasa benar-benar bingung. Kini ia tahu mengapa Bulan tak pernah lagi jajan di kantin, ternyata kondisi keuangan gadis itu tengah buruk. Bodohnya, Bintang justru setiap hari meminta bekal sarapannya.


"Sa.." Panggil Bintang lagi, ia berdecak kemudian menyimpan ponselnya kembali. "Kenapa sih? Kalau butuh bantuan ngomong aja, gak usah malu-malu seperti anak gadis. Butuh uang? Uang jajan kamu di potong om Alex lagi?"


"Sembarangan ni anak. Lo lupa kalau sekarang gue punya usaha sendiri? Sorry yah, udah setahun ini gue jarang minta jajan tambahan sama bokap, cafe gue udah stabil, bahkan rame." Sangkalnya, meski ia menolak uang pemberian sang papa setia bulannya, tapi Alex tak pernah absen mengiriminya uang jatah jajan bulanan.


Menurut Alex, meski Angkasa sudah mempunyai usaha sendiri, kewajiban tetaplah kewajiban. Angkasa masih tanggungannya, karena itu ia tak pernah lupa memberi uang jajan bulanan untuk Angkasa.


Bintang menghela nafas panjang, "Iya aku tahu."


"Oiya, ngomong-ngomong resto Lo gimana? Rame kan?"


Bintang mengangguk, "Alhamdulillah, rame. Mami rajin banget promosiin resto aku ke temen-temen kumpulan bapperwarenya," mengingat hal itu, Bintang jadi terkekeh. Karena banyak teman-teman Jingga yang kerap datang ke restonya, mereka bahkan menjodoh-jodohkan putri mereka dengannya.


"Syukur deh, gue ikut seneng. Emmm gue balik ya?"


"Loh, katanya mau cerita?" Bintang menatap Angkasa yang mulai beranjak, dari raut wajah tak tenang sang sepupu, Bintang yakin ada yang Angkasa sembunyikan darinya.


"Gak jadi, entar aja. Mami Ji dimana?"


"Dapur, lagi nyiapin makan malam. Kamu gak sekalian makan malam disini aja, Sa?"


Angkasa menggeleng, "Gak, lain kali aja. Kasian mama di rumah, dia juga pasti udah masak. Gue balik.." pamitnya.


Bintang mengangguk, "Salam buat mama Mega," ucapnya sedikit berteriak.


Angkasa hanya mengacungkan jempolnya sebagai pertanda mengiyakan, lalu ia menutup pintu kamar dan turun untuk berpamitan pada Jingga.


***


Pagi ini, seperti biasa Bintang datang lebih pagi. Ia lekas ke kelas, bukan ke kelasnya, melainkan kelas Bulan.


Sepertinya Bulan baru sampai, gadis itu bahkan belum duduk saat Bintang memanggilnya.


"Bulan.."


Bulan menoleh, ia tersenyum kemudian duduk. "Kamu baru dateng?" Tanya Bulan, entah mengapa sejak keadaan keluarganya kacau, Bulan tak seceria biasanya.


Bahkan terkadang Bintang melihat Bulan melamun sendirian. Tentu saja Bintang tak tahu alasan gadis itu melamun, meski ia masih bertanya-tanya tentang kondisi rumah Bulan yang bertuliskan DI SITA BANK.


"Aku gak bawa bekal, maaf.." ucap Bulan.


Belum sempat Bintang menanggapi, suara seseorang membuat ia dan Bulan menoleh kompak.


"Kebiasaan minta sama Bulan, ayo gue beliin sarapan. Emang di rumah mami gak masak? Jangan minta sarapan sama Bulan lagi," Angkasa menarik tangan Bintang, membuat pemuda itu terpaksa berdiri dan berjalan mengikuti sepupunya.


Sementara Bulan, gadis itu hanya terdiam menatap dua pemuda tampan yang kini semakin berjalan jauh. Helaan nafas panjang terdengar berhembus dari bibirnya, pagi tadi ia memang menyiapkan sarapan, tapi sarapan itu hanya cukup untuk satu orang saja.


Akhirnya ia mengalah dan membiarkan papanya lah yang memakan sarapan buatannya. Bulan tahu, hari-hari yang di lalui Bumi pasti lebih berat dan sulit, pria paruh baya itu pasti membutuhkan tenaga lebih besar dari biasanya.


Karena itu Bulan tak sarapan. Jika Bumi tahu, mungkin pria itu akan mengomel dan meminta Bulan lah yang sarapan, tapi Bulan pintar, gadis itu pergi ke sekolah saat Bumi masih membersihkan dirinya.


***


"Kenapa sih, Sa?" tanya Bintang, ia kesal karena Angkasa terus menariknya.


"Jangan minta sarapan ke Bulan lagi!"


"Ya tapi kenapa? Kamu cemburu? Jadi bener kamu suka sama dia?"


Mendengar rentetan pertanyaan itu, Angkasa berdecak. Ia bingung harus menjawab apa, apa ia memang harus mengatakan kondisi Bulan pada Bintang?


Melihat keterdiaman Angkasa, Bintang terkekeh, "Bener kan kamu suka sama Bulan? Kenapa gak jujur, Sa?"


"Gak gitu Bintang.."


"Lalu?"


Angkasa kembali menarik Bintang, mencari tempat nyaman dan sepi untuk mereka bicara. Sepertinya, Bintang memang harus tahu kondisi Bulan yang sebenarnya. Ia membawa Bintang ke taman belakang sekolah, tempat itu memang tempat ternyaman untuk bicara dan menenangkan diri.


"Lo masih inget kan tentang rumah Bulan yang di segel Bank?" Tanya Angkasa sesat setelah mereka duduk di bangku panjang tempat biasa Bulan menyendiri.


Bintang mengangguk, "Iya."


"Sebenarnya gue udah janji sama Bulan buat gak cerita ini ke Lo, tapi kayanya Lo emang harus tahu. Supaya Lo gak minta makanan Bulan lagi."


"Maksud kamu? Jangan berbelit-belit, Sa!"


Angkasa berdecak, lalu duduk miring dan menatap Bintang dengan serius, "Papanya Bulan bangkrut, jadi rumah itu di sita Bank. Gue juga gak tahu masalah detailnya apa, tapi yang pasti dia kehilangan semuanya. Perusahaan, rumah, mobil sama beberapa aset lainnya. Dia lagi susah, makanya gue larang Lo minta bekal dia lagi."


Bintang terkejut, ia jadi merasa bersalah. Tujuannya meminta bekal Bulan, selain karena rasa masakannya memang lezat, ia juga bermaksud meminta maaf karena sikapnya selama ini. Ternyata, ia justru menambah masalah untuk Bulan. Ia pikir Bulan akan senang jika ia memakan bekalnya, karena dulu gadis itu menyiapkan bekal untuknya dan meminta Bintang untuk memakan bekal pemberiannya. Ternyata sekarang situasinya lain.


"Jangan ngomong sama Bulan kalau Lo tahu masalah ini dari gue! Gue udah janji gak akan ngomongin masalah dia sama siapapun, termasuk Lo."


Bintang berdecak, tanpa mengatakan apapun ia beranjak meninggalkan Angkasa. Ada rasa kesal, kenapa Bulan memilih menceritakan masalahnya pada Angkasa? Bukan padanya? Tapi kenapa dia harus merasa kesal? Entahlah, yang terpenting sekarang ia harus meminta maaf pada Bulan.