
Bintang menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah merah. Sepulang sekolah, ia meminta izin pada sang mami untuk pergi ke restonya lebih dulu, agar perempuan itu tak cemas menunggunya pulang.
Kedua netranya memicing saat ia melihat seseorang yang ia kenali juga menghentikan kendaraannya tak jauh dari mobilnya. Seseorang itu tak sendiri, ada seorang gadis yang duduk di boncengannya. Mereka tampak asik bicara, sesekali mereka tampak tertawa, terlihat jelas kedekatan yang terjalin di antara mereka.
Entah mengapa hatinya terasa panas, Bintang memalingkan wajah.
"Ck, kenapa harus ketemu sih!" gerutunya. Meski hatinya memanas, ia justru menginjak gas mobilnya mengikuti arah motor itu melaju.
Sementara itu, Angkasa menghentikan motornya di parkiran caffe. Ia membuka helmnya kemudian menoleh, "Bisa gak bukanya?" Tanyanya pada Bulan yang baru saja turun dari boncengannya.
Bulan mengangguk, ia membuka kaitan helm yang masih menutupi kepalanya, "Bisa lah. Ini mah gampang," celoteh Bulan.
Angkasa tertawa saat Bulan kesulitan membuka kaitan helmnya, "Katanya gampang?" sindirnya.
"Ini helm kamu-nya aja yang jelek. Harusnya sih gampang," elaknya.
Angkasa mengulurkan tangannya, menarik lengan Bulan agar mendekat, "Gak bisa ya bilang aja gak bisa. Sini gue bantuin.."
Bulan terkikik, ia sedikit mendongak saat Angkasa mulai membantunya melepas kaitan helm miliknya.
"Siap untuk berperang hari ini, Nona cantik?" Canda Angkasa sesaat setelah ia berhasil membuka helm Bulan.
Bulan mengangguk semangat, "Siap, Tuan muda." Jawabnya, sebelah tangannya terangkat memberi hormat, lalu mereka tertawa bersama. Keduanya pun memasuki caffe.
"Jadi Bulan kerja disini? Di cafe Angkasa." Gumam Bintang, "Mereka kelihatan sangat dekat. Ok, Angkasa emang lebih baik dari aku, aku juga yakin Angkasa bisa menjaga kamu Bulan."
Bintang kembali menyalakan mesin mobilnya, lalu ia lajukan menuju rumahnya. Melihat pemandangan itu, moodnya sedikit berubah, membuatnya merubah rencana juga. Niatnya ingin pergi ke resto ia urungkan, sepertinya Bintang membutuhkan istirahat.
Di dalam sana, Angkasa tersenyum melihat mobil Bintang kembali melaju, "Tuh anak, lama-lama jadi penguntit. Apa susahnya sih nyamperin terus ngaku suka, gengsi amat."
"Sa, ada apa?"
Bulan yang baru saja berganti pakaian menghampiri Angkasa, tadi Angkasa memintanya berganti pakaian dengan pakaian seragam cafe miliknya. Lalu Angkasa akan memperkenalkan Bulan pada semua karyawannya.
"Gak ada apa-apa, yuk gue kenalin ke semua teman-teman baru Lo."
Bulan mengangguk, ia mengikuti Angkasa yang berjalan mendahuluinya.
Hari ini, bimbingan belajar mulai di berlakukan. Semua siswa siswi kelas tiga wajib mengikutinya. Jam bimbingan belajar di mulai pukul Tiga sore, setelah jam pelajaran inti berakhir.
Hal itu tentu berpengaruh pada jam kerja Bulan yang harusnya di mulai pukul Tiga kini menjadi pukul Lima, setelah jam bimbingan belajar selesai, yakni pukul 16.30 sore.
Tapi Angkasa pun mengerti, karena bimbingan belajar juga sangat penting dan wajib di ikuti semua siswa siswi. Ia memberi keringanan pada Bulan dan memberi pengertian pada semua karyawannya agar tak menimbulkan huru hara.
"Beneran gak papa, Sa?" Tanya Bulan, sudah ke sekian kalinya ia bertanya dengan kalimat yang sama. Pasalnya, ia merasa tak enak dengan karyawan yang lain.
"Gak papa, Lan. Lagian bimbel juga penting, teman-teman Lo di cafe pasti bisa ngerti kok. Lo tenang aja," jawab Angkasa.
Bulan mengangguk meski hatinya masih merasa tak enak. Tapi yang Angkasa katakan memang benar, bimbel sangat penting mengingat satu bulan lagi mereka akan melaksanakan ujian akhir.
Bimbingan belajar itu di adakan di dua ruangan. Sesuai jurusan, mereka akan di satukan dalam satu kelas. Di sekolah itu ada dua kelas jurusan IPA dan dua kelas jurusan IPS, itu artinya satu kelas untuk anak IPA dan satu kelas untuk anak IPS.
Pandangan Bulan teralihkan pada Bintang yang baru saja memasuki ruangan bimbel. Akhir-akhir ini pemuda itu tak pernah lagi mendekatinya. Entah harus senang atau tidak, tapi cinta dalam hatinya tetap saja tak berubah.
Zeni yang juga datang bersama Bintang tampak menatap Bulan dengan tatapan sinis, gadis itu semakin kesal saat Angkasa dekat dengan Bulan. Menurutnya, Angkasa jadi jarang mempunyai waktu berkumpul dengannya dan Bintang sejak dekat dengan Bulan.
Berbeda dengan Zeni, Bintang justru tampak acuh. Ia tak memperdulikan tatapan Bulan juga beberapa sapaan dari siswi-siswi yang merasa senang karena akhirnya bisa merasakan satu kelas dengan Bintang.
Tapi, entah mengapa wajah dingin dan datarnya itu justru menjadi daya tarik tersendiri untuk Bintang. Pemuda itu semakin di idolakan.
"Lan, Lo kenapa?" Tanya Angkasa saat Bulan menunduk murung.
Bulan menggeleng, ia kembali mendongak dan tersenyum, "Gak papa. Emmm..Sa, kamu jadi jarang kumpul-kumpul sama mereka gara-gara aku, mereka bisa tambah kesel sama aku."
"Gak gitu lah Lan, gue sama mereka baik-baik aja kok. Apalagi sama Bintang, Lo lupa yah kalau gue sama dia itu sepupuan? Kita jarang kumpul karena emang lagi pada sibuk aja, resto Bintang juga lagi rame, makanya kita sama-sama sibuk. Jangan mikir yang macem-macem, beban hidup Lo udah banyak, mending Lo fokus sekolah sama fokus buat kebahagiaan Lo, ok?"
"Iya juga sih, aku tuh suka aneh sama diri aku sendiri. Kenapa hal kecil aja bisa aku pikirin yah? Padahal beban hidup aku aja udah numpuk sampe kadang-kadang bikin aku muak sendiri," ucapnya di akhiri dengan tawa.
Angkasa ikut tertawa, percakapan mereka terhenti saat guru bimbingan belajar datang.
IKLAN
Udah tuh, Bulan udah aku jauhin dari Bintang. Tapi tunggu aja kejutannya entar, jangan pada ngambek pokonya! 🤣