
Sepulang sekolah, Bulan yang sudah meminta izin ingin mencari pekerjaan paruh waktu pada sang ayah tak lantas pulang. Ia berjalan kaki menyusuri jalanan untuk mencari pekerjaan apa saja yang bisa menerima pekerja paruh waktu dan masih pelajar sepertinya.
Awalnya Bulan hendak menanyakan pekerjaan pada teman-temannya, tapi ia melihat situasinya terlebih dahulu. Sepertinya tidak mungkin ia memberi tahu kondisi keuangannya pada teman-teman saat ini, tanggapan mereka berbeda-beda.
Hanya Cici yang sudah ia beri tahu, dan sayangnya Cici tengah sakit. Bulan tak sampai hati mengganggu sang sahabat untuk menanyakan perihal lowongan pekerjaan. Lagi pula, Cici atau keluarganya tak punya cafe, mereka pengusaha perkebunan. Tak mungkin Bulan bekerja di perkebunan yang letaknya jauh dari Jakarta.
Rasa lelah mulai menyapa, kakinya bahkan terasa perih, mungkin sedikit lecet karena sudah cukup jauh ia berjalan. Ia tak mau naik angkutan umum, karena keuangan yang menipis juga tak terlalu hafal dengan rute angkutan umum tersebut.
Melihat ada sebuah bangku, Bulan memutuskan untuk duduk disana. Ia keluarkan air mineral dari dalam tasnya, kemudian ia teguk dan hanya ia sisakan sedikit untuk nanti.
Dengan punggung tangan ia hapus keringat yang mengucur di pelipisnya, wajah putihnya tampak memerah karena kepanasan. Sesekali Bulan mengipasi wajahnya dengan kedua tangan, sesekali gadis itu mengusap keringat yang kembali mengucur.
"Ternyata susah cari kerja, udah hampir magrib aku belum juga dapet kerjaan.." gumamnya.
Suara klakson motor membuat Bulan menoleh, ia tersenyum saat ia tahu siapa orang yang ada di balik helm hitam full face itu.
"Ngapain disini?" Tanya Angkasa, ia yang baru saja pulang dari kantor sang papa tak sengaja melihat Bulan duduk di sebuah bangku, "Sendirian?"
Bulan mengangguk, "Lagi istirahat. Kamu dari mana?"
"Dari kantor bokap, kok masih pake baju sekolah? Belum pulang?" Tiba-tiba ia teringat tentang segel di rumah Bulan, haruskah ia tanyakan sekarang?
"Belum, aku.." jeda, ia ragu untuk bercerita. Tapi Angkasa adalah seseorang yang bisa di percaya, mungkin juga Angkasa bisa membantunya. Karena yang Bulan tahu, Angkasa mempunyai caffe.
"Kenapa? Ada yang bisa gue bantu?" Tanya Angkasa, melihat raut wajah Bulan, ia merasa gadis itu tengah membutuhkan bantuan.
"Emmm, kamu punya caffe kan?" Tanya Bulan akhirnya.
Angkasa mengangguk, ia menatap Bulan dengan kening mengkerut, ia semakin yakin, sepertinya Bulan memang tengah mengalami kesulitan.
"Kerja? Tapi sekolah Lo? Bentar lagi ujian loh, Lan. Lo harus fokus sama sekolah Lo, kalau Lo kerja, sekolah Lo keganggu.."
Bulan menggeleng, "Aku janji kerjaan aku gak sampai ganggu sekolah. Aku butuh banget sama kerjaan ini, please Sa, bantu aku. Aku gak mau putus sekolah, ini satu-satunya jalan supaya aku bisa tetap lanjutin sekolah tanpa membebani papa."
Penjelasan Bulan semakin membuat Angkasa penasaran, apa yang sebenarnya terjadi dengan Bulan dan keluarganya. "Apa yang sebenarnya terjadi, Lan? Lo bisa cerita ke gue.."
Bulan menunduk, bahunya mulai bergetar karena tangis. Selama ini, ia berusaha menahan air matanya. Bulan juga berusaha tak menunjukan kesedihannya di hadapan semua orang terutama sang papa, tapi kali ini ia tak kuat, ia tak bisa lagi berpura-pura baik-baik saja. Mungkin Bulan memang membutuhkan teman untuk bercerita dan berkeluh kesah.
"Papa aku bangkrut, Sa. Semua aset habis, termasuk rumah dan mobil. Perusahaan papa pindah tangan, papa tertipu sama salah satu rekan bisnisnya. Mereka sengaja bermain curang dan membebankan semua kerugian sama papa. Semuanya habis, aku harus kerja supaya aku bisa terus sekolah. Sebentar lagi ujian, aku gak mau putus sekolah, Sa.." Jelas Bulan seraya terisak.
Angkasa menghela nafas gusar, jadi dugaannya ternyata benar. Dan selentingan yang ia dengar di perusahaan LaGroup tadi ternyata benar perusahaan milik papanya Bulan.
"Gue bantu Lo, tapi jangan nangis lagi. Gue gak suka liat Lo nangis, jelek tahu!"
Seketika Bulan tersenyum, ia menghapus air matanya asal lalu berhambur memeluk Angkasa.
Pemuda itu tentu terkejut mendapat serangan dadakan, tapi pada akhirnya ia tersenyum dan membalas pelukan Bulan. Ia usap puncak kepala gadis itu dengan lembut, "Jangan nangis, kalau ada apa-apa, Lo bisa cerita ke gue. Kalau gue bisa, gue pasti bantu Lo."
Bulan mengangguk, ia semakin erat memeluk pemuda itu. Ternyata di balik keceriaan yang kerap Bulan tunjukan, menyembunyikan kesedihan yang amat dalam.
Benar kata orang, seseorang yang terlihat selalu tertawa, belum tentu hatinya bahagia. Karena bisa saja, ia menyembunyikan kesedihan dan menyamarkan luka dengan tawanya itu.
IKLAN
Apa aku kasih Bulan ke Angkasa aja ya ges? Tapi entah Bintang ngamoook! Dia pasti protes nih sama othor๐๐