
Langit-langit kamar mendadak menjadi objek penglihatan menarik untuk Angkasa. Karena sudah nyaris satu jam ia terus menatapnya, seakan bayangan wajah cantik Bulan ada di atas sana.
Pikirannya di penuhi dengan untaian kalimat percakapannya dengan Bintang beberapa jam yang lalu. Ternyata sepupunya itu juga mau berjuang untuk kembali mendapatkan Bulan.
Yang menjadi ganjalan dalam benaknya adalah, bahwa sudah pasti ia kalah saing. Belum apa-apa ia sudah pesimis, karena ia tahu, pemenangnya pasti Bintang. Faktanya, Bulan dan Bintang saling mencintai. Ia hanya figuran dalam kisah mereka, atau intermezzo sebelum film utama di mulai.
Helaan nafas panjang terdengar beberapa kali ia hembuskan, apa ia akan sanggup melepas Bulan pada sepupunya? Sudah bertahun-tahun ia bermimpi menjadikan gadis itu kekasih, dan saat mimpinya itu terwujud, Bintang kembali.
"Aku sudah mencoba, dan ternyata rasanya sakit juga! Sial!" Angkasa menggerutu, mengumpat dirinya sendiri yang begitu setia pada cinta sepihaknya selama bertahun-tahun. Padahal jika ia berniat move on, banyak gadis lain yang mengantri dan mendekatinya. Tapi ia abaikan demi Bulan seorang.
Suara ponsel berdering membuyarkan lamunannya, ia lalu meraih benda pipih itu dari saku celana, melihat siapakah yang menghubunginya malam-malam?
"Bulan.." lirihnya, bimbang rasanya, tangannya gatal untuk menggeser tombol berwarna hijau, tapi hatinya mengatakan ia tak boleh dulu berbicara dengan gadis itu sebelum hatinya benar-benar tenang. Akhirnya, Angkasa membiarkan benda itu terus berdering.
Sampai dering benda itu mati kemudian hidup kembali, Angkasa mulai tak tahan dan mengangkat sambungan telpon dari Bulan.
"Ya?" ucapnya.
"Sa, kamu udah sampai?" Tanya Bulan dari seberang sana.
Angkasa mengangguk meski Bulan tak mungkin melihatnya, "Hem," gumamnya.
Bulan menggigit bibir bawahnya, dari jawaban dingin pria itu, ia tahu Angkasa pasti masih marah padanya, "Kok tumben gak ngabarin aku? Biasanya kalau sampai rumah ngabarin," kata Bulan lagi. Ia mencoba mencairkan suasana, siapa tahu hati Angkasa juga ikut mencair.
"Lupa," Angkasa menjawab seperlunya.
"Oh, lupa. Gak papa gak papa, manusia kan emang tempatnya lupa dan dosa," kata Bulan. Ia mulai mati kutu, mulai kebingungan dengan bahasan pembicaraannya. Padahal biasanya Angkasa lah yang bawel, sekarang Bulan harus mati-matian mencari tema pembicaraan.
Hening, Bulan bingung, apalagi yang harus ia bicarakan dengan Angkasa?
"Sa.." panggilnya setelah beberapa saat hanya saling diam. Hanya suara nafas mereka saja yang terdengar. "Kamu masih disana?"
"Iya, kenapa kamu belum tidur?"
"Gak bisa tidur, kepikiran kamu terus," jujur Bulan.
Angkasa terkekeh, "Tumben, yakin mikirin aku?" sindirnya. Entah mengapa ia kembali kesal, karena itu ia sempat enggan mengangkat panggilan dari Bulan.
Bulan di seberang sana mendengus, ternyata Angkasa masih marah. "Aku jujur salah, apalagi aku boong. Aku minta maaf udah bikin kamu kesel, aku tutup dulu!"
TUT
Panggilan terputus, membuat Angkasa menjauhkan ponselnya dan melihat durasi panggilan yang ternyata sudah berakhir.
"Wanita memang selalu benar, dia yang salah dia juga yang ngambek. Bukannya harusnya gue yang marah?" gumam Angkasa.
***
Tak berbeda jauh dari Angkasa, Bulan pun melempar ponselnya ke sembarang arah. Ke atas ranjang tentunya, ia masih berpikir sehat untuk melempar ponselnya ke lantai, hidup lagi sulit-sulitnya ponsel rusak pula, Bulan masih waras.
"Nyebelin banget, awas aja kamu!" gerutunya, Bulan kesal, sudah berusaha minta maaf tapi pria itu masih saja menyindirnya.
Kedua netra indahnya terfokus pada sweater putih yang ia gantung di balik pintu kamar. Hanya melihat pakaiannya saja, jantung Bulan jedag jedug tak karuan. "Astaga, sadar Bulan, dia itu udah ngecewain kamu! Angkasa yang terbaik buat kamu, dia selalu ada buat kamu."
Bulan bermonolog sendiri, meyakinkan si hati agar tak berbelok arah ke belakang. Ya, Bulan menganggap Bintang adalah seseorang yang sudah lewat di belakang, seseorang yang hanya mampu mengukir kenangan cinta tanpa menjadikannya nyata.
***
"Pagi-pagi sekali Bulan sudah bersiap, ia menyempatkan diri membuat sarapan untuknya, sang papa juga Angkasa. Sebagai permintaan maaf, tentang masalah semalam. Meski ia pun masih kesal, tapi ia akan mengalah karena ia memang salah.
"Tumben anak papa udah rapi?"
Bulan yang tengah sibuk menyiapkan bekal menoleh, tersenyum pada Bumi yang kemudian duduk di meja makan. "Aku lagi semangat kerja pa," jawabnya.
"Ekhem, semangat karena ada siapa nih?" goda Bumi, kemudian ia menyuapkan sesendok nasi goreng buatan sang putri ke mulutnya. Karena ia tahu, Bintang adalah cinta pertama Bulan, tapi sekarang putrinya itu tengah menjalin hubungan dengan Angkasa.
"Apa sih pa, semangat karena kerjaan aku emang banyak lah," elak Bulan.
"Bulan karena ada Bintang kejora?"
Bulan menoleh, menahan tawa mendengar julukan yang di sematkan sang papa pada Bintang. "Bintang Kejora?" ulangnya. "Nama orang kenapa papa sembarangan ganti? Nanti Tante Jingga suruh bikin nasi kuning loh."
Deheman seseorang menghentikan percakapan mereka. Keduanya menoleh, sedikit terkejut saat ternyata Angkasa sudah berada disana. Entah sejak kapan pria itu datang.
Angkasa tersenyum, menyapa Bumi dan menyalaminya. Raut wajahnya sedikit berbeda, bagaimana tidak, pagi-pagi ia sudah mendapat sarapan yang menjengkelkan. Mendapati kekasih dan calon mertuanya membahas orang lain, hatinya panas.
"Duduk nak, kita sarapan sama-sama," ajak Bumi. Ia jadi tak enak, Angkasa pasti mendengar percakapannya dengan Bulan. Semakin tak enak saat Angkasa memberikan jawaban..
"Tidak usah om, kebetulan aku udah sarapan," tolaknya.
Tidak biasanya Angkasa menolak, karena Bulan tahu betul, Angkasa tak pernah sarapan dulu demi untuk menjemputnya, agar mereka tak datang terlambat ke kantor mengingat jarak rumah Bulan sekarang cukup jauh.
"Kamu beneran udah sarapan?" Tanya Bulan.
Angkasa hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian mengalihkan pandangan pada Bumi dan mengajak pria itu berbincang.
Membuat Bulan semakin merasa bersalah, ia menatap kotak bekal yang sudah ia siapkan sebelumnya, ia tetap akan membawanya, siapa tahu Angkasa mau memakannya nanti.