MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
YAKIN


Bulan menatap dirinya sendiri, dari pantulan cermin ia bisa melihat seberapa bengkak matanya karena menangis. Padahal ia sudah berusaha menutupnya dengan foundation, tapi tetap saja terlihat.


"Apa aku gak usah dateng aja kali yah? Mata aku bengkak gini," lirihnya. Ia menatap jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, acara pertunangan Bintang tinggal satu jam lagi, ia pun sudah siap dan hanya tinggal mengganti pakaiannya saja, tapi ia ragu untuk datang.


Meski sudah tertutup make up tipis, wajah kacau gadis itu tak dapat tertutup sepenuhnya. Bulan lalu menoleh ke arah ranjang, di atas ranjang itu gaun yang Angkasa berikan padanya pagi tadi sudah siap pakai. Gaun berwarna pink soft yang sangat manis dan elegan.


"Kalau aku gak dateng, aku gak menghargai undangan Bintang. Tapi apa aku sanggup? Ya Tuhan, bantu aku. Gimana kalau disana aku nangis, malu kan?"


Bulan terus bermonolog sendiri, menimang apa ia harus datang atau tidak. Suara ketukan di pintu kamar membuat Bulan beranjak, ia berjalan lunglai lalu membuka pintu, "Papa? Papa udah siap?"


Bumi tampak sudah tampan dengan setelan jas berwarna hitam pekat. Terlihat berkharisma, Bulan jadi mengingat masa-masa kejayaan sang papa. Ternyata jika Bumi berpenampilan seperti ini, pria itu masih tampak berwibawa meski keadaan mereka sekarang berbeda.


"Loh, kok kamu belum siap? Sayang ayolah, tunjukan pada Bintang bahwa kamu baik-baik aja. Dia sudah bisa memulai hidup barunya, kamu juga harus bisa. Nak, percayalah, kamu juga akan bahagia, dengan atau tanpa Bintang." Bumi mengusap puncak kepala putrinya penuh kasih, ia tatap gadis itu dengan hangat, lalu memeluknya memberi kekuatan.


Mati-matian Bulan menahan air mata, ia tak mau menangis lagi. Ia sudah lelah, dan jangan sampai ia bertambah lelah karena harus ber-make up ria kembali.


"Cepat bersiap, papa tunggu di luar."


Bulan mengangguk, ia tak mau bicara apa-apa, karena jika ia bicara satu kata saja, air matanya pasti menetes.


***


"Siap Pi, agak deg-degan dikit," jawabnya.


Langit kembali tersenyum, ia lalu duduk di sofa dan menepuk tempat di sebelahnya agar Bintang juga duduk. "Kamu yakin dengan keputusan kamu?" Tanya Langit sesat setelah Bintang duduk di sebelahnya, "Ini keputusan besar dalam hidup kamu, papi tidak mau kamu terlalu terburu-buru mengambil keputusan."


Bintang mengangguk, meski tetap saja sorot mata dan raut wajahnya tak dapat di bohongi. Ada keraguan disana, "Aku yakin Pi, aku sudah memikirkannya."


"Papi cuma bisa mendoakan kamu, semoga kelak kamu akan bahagia. Tidak mudah memikul tanggung jawab sebagai seorang suami, karena papi yakin, setelah pertunangan ini, kamu pasti ingin buru-buru menikah."


Bintang terkekeh, ia mengangguk. Pandangannya kosong menatap ke sembarang arah, ia sendiri ragu dengan keputusannya. Tapi berkat dukungan semua keluarganya, ia pun mantap melangkah dan mengambil keputusan besar untuk hidupnya. "Aku sangat butuh doa dari papi," ucapnya.


"Dari mami enggak?"


Kemunculan Jingga membuat dua pria itu menoleh, wanita tercantik di mata mereka itu tampak anggun dengan gaun kebaya modern berwarna dusty pink.


"Tentu saja aku sangat membutuhkannya, doa dari mami dan papi adalah yang paling utama untukku." Bintang tersenyum lebar, menengadah dan memeluk pinggang ramping sang mami ketika perempuan itu berdiri di sampingnya.


"Jangan lama-lama peluknya! Mami itu punya papi!" Protes Langit, mode posesifnya seketika on. Padahal yang memeluk istrinya adalah putranya sendiri.


"Ish, sama anak sendiri juga cemburu," cibir Bintang. Ia lalu beranjak dan mengajak kedua orang tuanya ke ballroom, acara pertunangannya akan segera tiba.