
"Loh, mama?" Angkasa terkejut saat mendapati Mega berada di cafenya. Ia lalu menghampiri perempuan itu dan menyalaminya.
"Jadi ini gadis cantik yang sering kamu ceritain ke mama?" Mega justru mengalihkan perhatiannya pada Bulan yang baru saja membuka helmnya. "Ya ampun, ternyata memang benar-benar cantik," komentar Mega.
"Mama.." ucap Angkasa sedikit berbisik. Ia menatap Bulan yang tampak tersenyum lalu menghampiri Mega dan menyalaminya juga.
"Selamat siang, Tante.." sapa Bulan dengan ramah.
"Siang juga, sayang. Kebetulan sekali Tante ketemu kamu, Tante memang sangat penasaran dengan pacarnya anak Tante."
"Eh?" Bulan mengerjap, ia menatap Angkasa yang tampak salah tingkah. Mungkin pemuda itu bingung harus bicara apa dan bersikap seperti apa. Baru saja Bulan hendak menyangkal, Mega sudah menggandengnya duduk di salah satu kursi kosong. Karena di siang hari, cafe itu juga cukup ramai.
"Mama.." rengek Angkasa, ia sudah sangat malu pada Bulan.
"Apasih, nak? Kamu kalau mau kerja ya kerja saja. Mama pinjam Bulan dulu," ucap Mega. Ia tak memperdulikan rengekan putranya yang menatapnya penuh permohonan.
Bulan semakin kikuk, Mega bahkan tahu namanya sebelum ia memperkenalkan diri. Apakah memang benar bahwa Angkasa selalu membicarakannya pada Mega?
"Gak bisa dong, ma. Bulan mau kerja, dia pasti gak enak sama yang lain. Iya kan Bulan?" Angkasa menatap Bulan penuh permohonan, membuat gadis itu mengangguk mengiyakan.
"Dia izin hari ini, dan mama mengizinkannya." Mega tetap bersikukuh ingin mengobrol banyak hal dengan Bulan, entah mengapa ia suka dengan Bulan, meski pun ini pertemuan pertama mereka.
Angkasa berdecak, pemuda itu merengek seperti anak kecil. "Mama, please jangan sekarang, ok?"
Mega menggeleng, baru saja hendak kembali bicara, seseorang yang di tunggunya datang. Mega tersenyum lebar, menyambut kedatangan adik tersayangnya.
"Sudah lama, mbak?" Tanya Jingga, ia memeluk singkat sang kakak lalu menatap gadis cantik yang tersenyum lalu menyalaminya. Seperti tak asing, Jingga lalu bertanya, "Siapa adik cantik ini?"
"Rembulan, Tante.." ucap Bulan memperkenalkan dirinya.
"Rembulan?" Ulang Jingga.
"Kenapa, dek?" tanya Mega pada Jingga.
"Aku kok seperti tidak sing yah, namanya juga pernah aku denger." Jingga lalu kembali menatap Bulan, "Apa kita pernah bertemu?"
Bulan menggeleng kikuk, seingatnya, ia memang baru kali ini bertemu Jingga, perempuan paruh baya yang terlihat sangat cantik di matanya. Bulan jadi membayangkan, secantik apa Jingga di masa mudanya.
"Mungkin iya," ucap Jingga. Tapi ia masih mengingat-ingat, dimana ia pernah bertemu Bulan dan mendengar namanya. Sayangnya, Jingga benar-benar tak ingat.
Bulan yang tak mengerti dengan pembicaraan kedua wanita cantik itu hanya bisa diam dan berusaha mencerna pembicaraan mereka.
"Loh, Bintang? Mama kira kamu gak ikut, kok baru kelihatan?" Tanya Mega, ia memeluk Bintang lalu mengajak pemuda itu duduk.
Kehadiran Bintang sontak membuat Bulan terkejut, ia semakin tak mengerti dengan situasi ini. Bulan melupakan satu kenyataan, bahwa Bintang dan Angkasa adalah saudara sepupu.
Bintang tersenyum, menatap Bulan sekilas lalu kembali menatap Mega, "Tadi aku lagi terima telpon dulu, ma."
Mega manggut-manggut mengerti, ia lalu menoleh pada Bulan yang sedari tadi hanya diam sama. "Bulan, berarti kamu sama Bintang juga satu sekolah yah?"
Bulan mengangguk, ia tersenyum tipis, "Iya, Tante." Entahlah, Bulan bingung harus bersikap seperti apa.
"Wah, jadi kalian juga satu sekolah? Apa di sekolahan yah Tante pernah lihat kamu? Tante benar-benar merasa pernah melihat kamu, tapi Tante tidak ingat kita bertemu dimana," ucap Jingga.
"Emmm, Mi, Ma. Aku ke ruangan Angkasa dulu," Bintang mengalihkan pembicaraan, ia lalu beranjak ke ruangan Angkasa.
Jingga dan Mega mengangguk kompak.
"Ajak Bulan juga sekalian, nak.." ucap Mega.
Belum sempat Bintang menjawab, Bulan segera bicara, "Tidak usah Tante, aku kembali kerja aja."
"Loh, gak papa nak. Angkasa sudah kasih izin kamu kok, mending istirahat aja di ruangan Angkasa. Kalau dia nyuruh kerja, lapor aja sama tante, masa iya pacarnya di suruh kerja," kata Mega.
Kalimat terakhir Mega membuat Bulan terkejut, begitu juga dengan Bintang. Sekilas mereka saling menatap, kemudian kembali mengalihkan pandangan. Tatapan Bintang benar-benar tak terbaca, pemuda itu lalu pergi begitu saja.
"Oalah, jadi Bulan ini pacarnya Angkasa? Wah, cepat dapat mantu nih, mbak," celetuk Jingga.
Mega mengangguk, ia tersenyum lebar. Mega terlihat begitu bahagia, Bulan tak sampai hati menjelaskan bahwa sebenarnya perempuan itu salah faham. Bulan tak mempunyai hubungan apa-apa dengan Angkasa selain teman juga bos dan bawahan.
"Tante, kalau gitu aku permisi ke belakang," pamit Bulan.
Jingga dan Mega kompak mengangguk, mereka tersenyum mengiringi kepergian Bulan.