MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
SEPERTI MALING


Angkasa bergeming sesaat setelah ia keluar dari rumah Bulan, karena di saat yang bersamaan, sebuah mobil memasuki pekarangan rumah. Mobil yang sangat ia kenali itu berhenti tepat di depannya.


Hatinya sedikit ngilu, namun ia mencoba untuk berlapang dada. Ia tak mau berburuk sangka dulu pada pasangan di dalam mobil.


Sementara Bulan, gadis itu terkejut saat mendapati Angkasa di rumahnya. Ia kira pria itu belum pulang dari luar kota, ternyata Angkasa sudah berada di rumahnya. Bulan merasa seperti maling yang kedapatan oleh pemilik rumah, rasanya kaget, gugup dan takut.


Dengan terburu-buru Bulan turun dari mobil, menghampiri Angkasa di ikuti Bintang. Ia harus menjelaskan semuanya pada sang kekasih, jangan sampai pria itu salah paham. Meski belum ada cinta di hati Bulan, tapi untuk menyakiti pria sebaik Angkasa ia pun tak akan tega.


"Sa, kamu udah pulang?" Tanya Bulan.


"Kenapa? Kaget yah?" Angkasa tersenyum, menarik Bulan ke dalam dekapannya. Bukan bermaksud membuat Bintang cemburu, ia hanya ingin meredam amarah yang tiba-tiba mencuat karena kebersamaan Bulan dan Bintang.


Bulan sedikit terkejut saat Angkasa tiba-tiba mendekapnya, ia hanya bisa diam, tak menolak atau membalas. Dari detak jantung pria itu, ia tahu bahwa Angkasa tengah menahan gejolak amarah di hatinya.


Melihat adegan itu, Bintang memalingkan wajahnya. Walau bagaimana pun juga, Angkasa adalah kekasih Bulan, ia tak berhak marah meski hatinya terasa panas.


"Sa, jangan salah paham. Aku anter Bulan karena di proyek tadi hujan. Udah mau gelap juga, makanya aku paksa dia buat pulang bareng aku. Sorry gak izin kamu dulu," kata Bintang.


Angkasa melepas dekapannya, lalu tersenyum pada sang sepupu, "Gak papa, santai aja. Justru gue makasih banget sama Lo. Lo mau anter Bulan jauh-jauh, thanks ya bro," jawabnya.


Entah mengapa ucapan terima kasih Angkasa terasa bagai sindiran untuknya, namun Bintang tak ingin semakin memperkeruh keadaan, "Sama-sama," jawabnya. "Kalau gitu aku pamit, Bulan aku pulang dulu. Salam sama om Bumi."


Bulan hanya bisa mengangguk, bahkan untuk sekedar mengucapkan terima kasih saja ia tak berani. Sampai mobil Bintang melaju menjauh, Bulan menoleh menatap sang kekasih. "Sa, kamu denger kan penjelasan Bintang tadi? Jangan salah paham, kita beneran gak ngapa-ngapain kok."


Angkasa terkekeh, "Aku gak bilang kamu ngapa-ngapain kok, santai aja. Aku percaya sama kamu, ya meski pun aku tahu kalian saling mencintai, tapi aku masih yakin kamu dan Bintang pasti menghargai aku."


Lagi-lagi kalimat yang terlontar dari mulut pria itu terasa seperti sebuah sindiran, dan tatapan Angkasa sangat berbeda, Bulan rasa pria itu memang marah padanya.


"Sa, aku pasti nyakitin kamu," lirih Bulan.


"Enggak, aku baik-baik aja Bulan. Oiya, kamu belanja dulu?"


Bulan mengerutkan dahinya, pertanyaan Angkasa terdengar aneh, "Belanja? Enggak kok," jawab Bulan seraya menggeleng.


"Aku baru liat sweater yang kamu pake, bagus."


Bulan tersentak, ia menunduk menatap sweater yang ia pakai, seketika tubuhnya melemas. Kenapa ia sampai lupa untuk mengganti pakaiannya dulu tadi? Angkasa pasti marah, kali ini pria itu pasti tersinggung.


"I-ini, ini sweater Bintang. Tadi aku, aku kehujanan, baju aku basah dan.."


"Dan Bintang memberikan sweater ini buat kamu," potong Angkasa. Anehnya, pria itu masih bisa tersenyum di akhir kalimatnya.


"Bulan, aku kan tadi udah bilang. Aku gak marah, santai aja, kenapa kamu gugup? Kalau kamu gak melakukan kesalahan, gak usah takut."


Alih-alih tenang, kalimat itu justru semakin membuat Bulan gugup bukan main. Ia merasa bersalah pada pria itu, padahal ia memang tak melakukan apapun dengan Bintang.


"Sa, aku.."


Bulan menghentikan kalimatnya saat tiba-tiba Angkasa mendekat. Pria itu membelai sebelah pipinya, tatapan pria itu sangat berbeda. Angkasa seperti tengah memastikan sesuatu.


Dan saat Angkasa semakin dekat dengan kepala sedikit miring, Bulan mundur dan memalingkan wajahnya. Tak biasanya Angkasa seperti itu, pria itu tak pernah bersikap berlebihan padanya. Apa karena sekarang status mereka bukan lagi seorang sahabat?


Melihat Bulan menghindar, Angkasa cukup mengerti. Ia terkekeh, lalu berbalik membelakangi Bulan. Dan hatinya terasa sedikit perih. "Aku pulang," ucapnya. Tanpa berbalik lagi, Angkasa pergi.


"Sa.." panggil Bulan, tapi pria itu tak menoleh bahkan terburu-buru menaiki motornya lalu benar-benar pergi.


Bulan menggigit bibir bawahnya, air matanya meleleh begitu saja. "Maafin aku, Sa.." lirihnya meski Angkasa tak mungkin mendengarnya.


***


Dengan perasaan sedikit kacau, Angkasa membelah jalanan malam itu. Cukup sakit ketika melihat Bulan pulang bersama Bintang, bertambah sakit saat ia melihat gadis itu memakai pakaian sepupunya.


Jika saja mereka tak mempunyai history, mungkin Angkasa tak akan cemburu. Bahkan hingga saat ini pun ia tahu mereka masih saling mencintai. Timbul pertanyaan dalam hatinya, apa ia harus menyerah? Ternyata tak segampang itu menjalin hubungan dengan seseorang yang belum bisa lepas dari masa lalunya, rasanya sakit.


Angkasa tahu ini resikonya, tapi ia tak mengira rasa sakit karena cemburu itu akan seperih ini. Seperti di sayat ribuan sembilu, ngilu, perih, panas dan sakit.


Di pertigaan jalan, ia membelokkan motornya ke suatu tempat, ia harus memastikan sesuatu.


***


Bintang baru saja hendak memasuki rumah saat suara motor terdengar memasuki gerbang rumahnya. Keningnya berkerut, "Angkasa?"


Ia kembali berbalik, menghampiri Angkasa yang baru saja turun dari motornya. "Ada apa, Sa?" tanyanya.


Angkasa tersenyum tipis, "Gue cuma mau bilang, kalau gue akan terus mempertahankan Bulan. Sorry kalau celah yang Lo harepin kabuka, harus gue tutup paksa!"


Bintang tersentak mendengar pernyataan itu, sejenak ia terdiam, kemudian menatap Angkasa, "Sa, aku minta maaf. Tapi.."


"Tapi apa?"


"Aku juga akan berjuang!"