MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
TERNYATA DIA?


Sejak tersiarnya kabar pertunangan Bintang, Bulan seperti tak mempunyai semangat hidup. Ia memang datang bekerja seperti biasanya, tapi semangatnya menguat entah kemana. Banyak pekerjaan yang terabaikan karena ia sering melamun, terjadi beberapa kesalahan juga karena gadis itu tak fokus dalam pekerjaannya.


Apalagi ketika ia mengikuti meeting dengan Bintang, Bulan tak pernah mengangkat wajahnya apalagi menatap Bintang. Ia bicara hanya jika di tanya, selebihnya Bulan hanya akan diam.


Dingin, murung dan banyak melamun, itulah Bulan sekarang. Angkasa bahkan sudah berusaha menghibur dengan berbagai cara, tapi semuanya gagal.


Seperti saat ini, Angkasa tengah membujuk Bulan untuk makan siang. Karena akhir-akhir ini di jam istirahat pun Bulan jarang keluar ruangan dan melewatkan makan siangnya.


Angkasa juga terpaksa melibatkan Gea dan memberi tahu keadaan yang sebenarnya pada gadis itu. Berharap Gea bisa membantunya mengembalikan keceriaan Bulan. Tentu Gea terkejut, ia tak menyangka bahwa di antara Bulan dan Bintang menyimpan sebuah history. Mengingat sebelumnya, Bulan hanya mengaku Bintang adalah teman sekolahnya dulu.


"Aku traktir deh, Lan.." bujuk Gea. Ia menatap Angkasa, berharap pria itu kembali membujuk Bulan. Padahal Angkasa sudah nyaris putus asa.


"Tuh, Lan. Gea mau traktir katanya, tumben-tumbenan kan? Dia kan pelit," ucap Angkasa sedikit berbisik.


"Makasih, mbak. Tapi aku belum laper, kalian aja yang makan," jawab Bulan.


"Yaudah, kalau gitu kita juga mogok makan aja Gea," Angkasa merajuk, tentu saja hanya pura-pura. Jika Bulan terus terpuruk seperti ini, gadis itu bisa sakit.


Gea mengangguk, "Kamu gak kasian sama kita, Lan? Ya minimal temenin kita di kantin yuk, atau di cafe seberang kantor, disana kan ada capuccino dingin kesukaan kamu, beneran aku yang traktir kok." Gea masih berusaha membujuk, ia menatap Bulan dengan tatapan penuh permohonan. Berharap gadis itu bisa terbujuk melihat raut wajah memelasnya.


Bulan menghela nafas panjang, kemudian menatap Angkasa dan Gea bergantian, ia lalu mengangguk, "Baiklah, tapi aku gak ikut makan. Aku mau ngopi aja."


"Ngopi? Tapi nanti asam lambung kau naik, aku.."


"Kalau gitu aku gak jadi ikut," kata Bulan memotong ucapan Angkasa.


Gea sontak menggeleng, "Maaf pak, kebablasan."


"Jadi gak nih?" ucap Bulan, "Kalau enggak aku kerja lagi aja."


"Jadi, Lan. Yuk pergi, jangan dengerin pak Angkasa."


Akhirnya mereka pergi bersama, cafe di seberang kantor menjadi pilihan mereka.


Karena jam makan siang, cafe itu tampak ramai. Hanya ada dua meja yang masih kosong, dan meja itu bersebelahan dengan meja...Bintang! Pria itu tak sendiri, ada gadis cantik yang menemaninya, Kimmy.


Bulan menghentikan langkahnya, baru saja hendak berbalik, tapi Kimmy memanggil mereka. Gadis itu meminta mereka bergabung.


Dengan segala pertimbangan, akhirnya Bulan dan yang lainnya ikut bergabung bersama Bintang dan Kimmy. Dari kedekatan yang terlihat antara Bintang dan Kimmy, seperti ada sesuatu yang mengusik keingintahuan Bulan.


"Kalian nanti dateng kan ke acara pertunangan?" Kimmy mengawali pembicaraan.


Gea berdehem, ia menoleh pada Bulan yang tampak memaksakan senyumnya. Gea mengangguk mengiyakan pertanyaan Kimmy, sebagai perwakilan Bulan yang tak mampu menjawab.


"Kalian harus datang," timpal Bintang.


Melihat raut wajah Bulan yang kembali murung, Angkasa tak tega. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Jadi ternyata Kimmy?"