MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
MBUL


Bulan menatap layar besar di hadapannya dengan mata berkaca-kaca. Gambar yang menampilkan sebuah video Bulan di waktu kecil.


Dalam video itu, Bulan tengah di perebutkan oleh dua bocah laki-laki yang mengajaknya bermain. Bocah yang satu mengajaknya bermain sepeda, dan yang satu mengajaknya bermain petak umpet. Bulan sampai menangis karena kedua tangannya di tarik berlawanan ke kiri dan ke kanan.


FLASHBACK


"Ayo Mbul, kita main sepeda. Aku yang akan mengayuh, kamu duduk aja," ucap bocah laki-laki berusia enam tahun yang kedua orang tuanya beri nama Bintang.


Gadis kecil yang di ajak pun mengangguk. Namun belum sampai menaiki sepeda, bocah laki-laki yang lain muncul dan mengajak gadis kecil bernama Rembulan itu bermain petak umpet.


"Bulbul, main petak umpet aja. Lebih seru." Bocah bernama Angkasa itu berlari menarik tangan Bulan.


Bintang tentu tak terima, ia yang lebih dulu mengajak Bulan bermain, Bulan pun mau. Tapi Angkasa tiba-tiba datang membawa Bulan lari. Bintang pun mengejarnya, "Angkasa tunggu! Bulan mau main sama aku, jangan bawa dia," Bintang berteriak, ia terus berlari mengejar Bulan dan Angkasa. Bulan bahkan tampak kesulitan mengimbangi langkah Angkasa.


"Angkasa tunggu, jangan lari," cicit Bulan dengan suara kecilnya.


Angkasa berhenti berlari, membiarkan Bulan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Bintang menjadikan itu sebagai kesempatan untuk kembali mengambil Bulan dari sepupunya.


"Ayo Bulan, main sama aku aja," kata Bintang. Bocah itu meraih tangan mungil Bulan dan mengajaknya pergi, tapi Angkasa tak membiarkan itu. Angkasa menahan tangan Bulan lalu menariknya. Dan terjadilah tarik menarik antara Bintang dan Angkasa, membuat Bulan meringis lalu menangis karena boneka kesayangannya terjatuh dari tangannya, tangannya juga terasa sakit.


Rekaman yang iseng di ambil Alex saat Bunga mengunjungi rumahnya itu terus berputar. Secara kebetulan, saat itu Jingga juga tengah mengunjungi Mega, dan tiga bocah itu bertemu lalu berteman.


Tak di sangka, gadis kecil ompong itu masih di perebutkan dua laki-laki yang sama hingga kini.


FLASHBACK END


"Dari mana kamu dapet rekaman ini?" Tanya Bulan, ia menatap Bintang penuh tanya. Satu hal yang baru ia sadari, ternyata Bintang adalah bocah laki-laki yang membuatnya menangis dulu.


Begitu juga dengan Angkasa, Angkasa juga baru tahu, bahwa Bulan adalah bocah ompong yang menangis karena ia menarik tangannya hingga membuat boneka kesayangan gadis itu terlepas dari tangannya.


Mungkin hanya Bintang yang tahu, bahwa Bulan adalah gadis kecil yang tak pernah bisa ia lupakan.


"Nanti aku ceritakan, ada yang lebih penting dari itu sekarang," ucap Bintang dengan lembut. Ia menatap Bulan dengan lekat, tatapan yang membuat Bulan tersihir.


"Apa?" Tanya Bulan, ia masih belum menyadari apa yang akan Bintang lakukan dan yang sudah pria itu siapkan sebagai kejutan untuknya. Gadis itu terkejut saat Bintang tiba-tiba berjongkok dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah ke hadapannya.


"Will you marry me?"


Air mata tak dapat Bulan tahan lagi, apa ini mimpi? Pertanyaan itu terus berputar dalam hatinya, bahkan kejadian ini hanya ada dalam khayalannya dulu. Dan khayalan itu musnah seiring dengan tersiarnya kabar pertunangan pria itu.


Tapi lihatlah sekarang? Pria idamannya itu sedang berjongkok melamarnya. Tatapan pria itu bahkan menyiratkan cinta yang begitu besar, dengan jantung berdetak kencang, Bulan mengangguk. Air mata haru itu semakin mengalir deras, penantiannya selama bertahun-tahun berbuah manis, sangat manis sampai rasanya begitu legit. "Yes, I Will.."


Bintang tersenyum lebar meski ujung matanya ikut berair. Ia beranjak dan memasangkan cincin bermata berlian itu di jari manis Bulan.


Dengan tangan bergetar, Bulan mengambil satu cincin yang tersisa, kemudian ia sematkan di jari manis Bintang. Mereka saling melempar senyum dalam tangis, lalu saling mendekat untuk saling mendekap.


"Aku sangat mencintaimu," bisik Bintang.


Bulan tak mampu menjawab, tangisnya semakin menjadi. Kalimat keramat itu akhirnya ia dengar dari Bintang, tak bisa terbayang sebesar apa rasa bahagia yang kini Bulan rasakan.


Suara riuh tepuk tangan seolah menyadarkan mereka, keduanya saling melerai dekapan lalu berbalik ke arah tamu yang sejak beberapa menit lalu menjadi penonton yang baik untuk pertunjukan mereka.


Langit, Jingga dan Bumi naik ke atas podium, memeluk putra putri mereka bergantian seraya memberikan selamat.


"Papa bahagia untukmu," kata Bumi saat ia memeluk Bulan yang kembali menangis.


"Selamat ya sayang, pantas saja mami tidak asing denganmu, ternyata di kamar Bintang banyak banget foto kamu," ucap Jingga yang kemudian mendapat protes dari sang putra.


"Jangan bongkar rahasia aku, mi." Rengek Bintang, padahal ia sudah bertunangan, tapi manjanya masih saja terlihat.


Tak ketinggalan, Jingga dan Langit pun memeluk Bulan dan Bintang. Malam ini, di hadapan para tamu, petinggi perusahaan dan karyawan LaGroup yang hadir, Bulan dan Bintang resmi mengukuhkan cinta mereka dalam sebuah pertunangan.


Selesai dengan tukar cincin, acara di lanjutkan dengan santap malam dan dansa. Dan ucapan selamat dari para tamu yang hadir masih berlanjut saat para tamu menyapa Bintang dan Bulan yang bersiap untuk berdansa.


" Bulaaaan.." Gea menghampiri Bulan, memeluk gadis cantik itu dengan gemas, "Selamat ya cantik, aku ikut bahagia. Akhirnya gak melow-melow lagi. Aku ikut galau loh pas kamu galau," celetuk Gea.


"Makasih ya mbak, mbak udah jadi penghibur terbaik aku. Nanti aku hukum orang yang bikin aku galau itu," Bulan melirik Bintang, pria itu menahan senyum lalu merangkul pinggang rampingnya dengan erat.


"Maaf sayang," ucap Bintang. "Kalau aku gak boongin kamu, kamu pasti nolak aku terus. Padahal aku tahu, kamu cinta banget kan sama aku?"


"Dih, PD sekali anda pak CEO," Bulan mencubit tangan Bintang yang melingkar di pinggangnya, membuat pria itu mengaduh dan meminta ampun.


Setelah berbincang-bincang dengan Gea dan tamu yang menyapa mereka, Bintang dan Bulan turun ke lantai dansa. Mereka tak ingin melewatkan waktu indah ini begitu saja.