MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
BUNGA


"Jika Bunga masih ada, dia pasti akan sangat senang bisa mengenal orang-orang baik seperti kalian," ucap Bumi. Ia memang sangat bersyukur bisa bertemu dengan Langit, Alex dan keluarganya.


"Tuan Bumi berlebihan," ucap Langit.


"Bunga?" Gumam Alex, ia seperti tak asing dengan nama itu.


Langit dan Bumi menoleh, mereka sama-sama menatap Alex yang tampak bingung.


"Ada apa Tuan Alex? Apa anda mengenal istri saya?" Tanya Bumi, raut wajahnya tampak berubah. Ada kecemasan juga ketakutan.


"Emm, tidak. Saya hanya merasa tak asing dengan nama itu. Mungkin saya salah, dulu saya punya teman bernama Bunga. Seperti yang kita tahu, nama Bunga banyak bukan? Mungkin Bunga temanku berbeda dengan Bunga istri anda," jelas Alex.


Langit tampak mengingat sesuatu, "Astaga, mungkin juga mereka orang yang sama." Meski ia tak terlalu lama mengenal Bunga, tapi melalui Alex ia bisa mengenal perempuan bernama Bunga itu.


Bumi tampak gugup, ia takut dua orang hebat di hadapannya mengenal sang istri. Jika mengingat masa lalu perempuan itu, mungkin saja Langit dan Alex memang mengenal Bunga.


"Sudahlah, mungkin mereka berbeda." Ucap Alex lagi.


"Mungkin juga orang yang sama," celetuk Bumi. Entah mengapa ia tak bisa menyembunyikan sesuatu dari Alex dan Langit. Meski hubungan mereka sebatas kerja sama, tapi ia percaya pada mereka.


Langit dan Alex mengerutkan dahinya, mereka tampak saling menatap kemudian kembali menatap Bumi.


"Masa lalu istriku.."


Dari kalimat itu, Alex semakin yakin Bunga yang ia maksud memang Bunga istrinya Bumi.


"Maaf Tuan Bumi, apa Bunga adalah.." Alex menghentikan kalimatnya, ia tahu untuk mengatakan hal itu. Ia takut melukai Bumi.


Alex dan Langit kembali saling menatap, ternyata dugaan mereka tak salah.


"Saya bertemu dengannya di sebuah club' malam. Kami berkenalan, lalu.."


Bumi tak melanjutkan kalimatnya, mengingat saat-saat itu hatinya sakit karena rindu.


Alex beranjak mendekat, ia menepuk bahu Bumi untuk menguatkan. Ia tahu betul siapa Bunga, meski profesinya di anggap sampah oleh masyarakat, tapi hati perempuan itu baik.


"Dia membuat saya kagum dan jatuh cinta, sikapnya yang baik juga alasan dia menjadi wanita malam membuat hati saya terenyuh. Singkat cerita, saya mengajaknya menikah, awalnya dia menolak. Dia mengatakan dia tidak pantas untuk saya, hidupnya kotor dan gelap. Tapi saya tidak menyerah, saya menerima dia dan semua masa lalunya. Saya melamarnya di hadapan ibunya yang saat itu sakit parah. Tapi malam itu, ibu meminta saya menikahi Bunga. Awalnya saya ragu, karena saat itu keluarga saya pasti tidak merestui kami, tapi karena tekad yang kuat juga karena cinta saya padanya, modal nekad saya menikahinya. Dia berubah, setelah menikah kami benar-benar memulai hidup baru. Saya merintis perusahaan dengannya dari nol karena kami tidak di terima di keluarga saya. Kami di usir dari rumah."


Jeda, Bumi menghela nafas dalam. Mengingat kenangannya bersama Bunga sungguh membuat sisi rapuhnya kembali terlihat. Dimatanya, Bunga adalah perempuan luar biasa tanpa cela. Meski menurut semua orang Bunga perempuan tak baik, tapi baginya Bunga adalah perempuan terbaik yang Tuhan takdirkan untuknya.


Karena dari Bunga lah ia belajar arti hidup yang sesungguhnya. Berjuang bersama, susah bersama kemudian bahagia bersama. Sampai pada akhirnya, Bulan hadir di tengah-tengah mereka, menjadi anugerah untuk pernikahan mereka juga menjadi penguat untuk hubungan mereka.


"Saya sangat mencintainya, dia perempuan luar biasa yang bisa memberikan begitu banyak kebahagiaan dalam hidup saya. Dulu kami sempat hidup susah, tapi dia selalu menguatkan saya. Dia tidak pernah meninggalkan saya, kami benar-benar saling melengkapi dan saling menguatkan. Dia tidak seperti wanita malam yang hanya mengutamakan uang, dia bahkan rela tidak makan demi saya."


Bumi mengusap ujung matanya yang mulai basah, menceritakan tentang betapa luar biasanya Bunga tak akan ada habisnya, tak ada kata yang bisa menggambarkan betapa Bunga adalah segalanya dalam hidupnya.


"Saya mengerti perasaan anda Tuan Bumi, karena itu lah yang saya rasakan pada istri saya," ucap Langit. "Kita adalah pria beruntung yang sama-sama mendapatkan pendamping hidup luar biasa. Meski pun di mata orang lain Jingga adalah perempuan biasa, tapi di mata saya dia luar biasa. Perempuan sempurna yang mau menerima segala kekurangan dalam diri saya dan hidup saya," ucap Langit.


Alex pun mengangguk, karena dirinya pun merasakan hal yang sama. Meski di awal Mega melakukan kesalahan, tapi setelah mengikhlaskan, semuanya terasa ringan. Cintanya pada perempuan itu pun semakin besar, akhirnya mereka bahagia.


"Saya sangat mencintainya, dia adalah perempuan terhebat untuk saya dan Bulan. Dan biarkan masa lalu Bunga sebagai wanita malam hanya menjadi rahasia saya, Bulan hanya harus tahu bahwa mamanya adalah wanita terhormat," ucap Bumi lagi. Tanpa ia sadari, Bulan yang berdiri di balik pintu yang tak sepenuhnya tertutup itu dapat mendengar semuanya.