
Sesuai jadwal, selepas pulang sekolah, Jingga memaksa Bintang pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan jantungnya. Jingga juga sudah mengatur jadwal pertemuan mereka dengan dokter spesialis jantung yang kebetulan teman Violet.
Di dalam mobil yang di kendarainya, Bintang tak banyak bicara. Bukan karena tentang pemeriksaan jantungnya, melainkan karena tengah memikirkan tatapan Angkasa pada Bulan saat mereka bertemu di parkiran sekolah.
"Nak, sebelumnya mami seperti pernah melihat Bulan. Tapi dimana yah? Mami tidak ingat," celetuk Jingga.
Bintang berdehem, duduk tegak melihat jalanan di depannya, "Masa sih mi? Lihat dimana? Mungkin wajah Bulan familiar, mi. Atau mungkin mami pernah lihat Bulan di pameran bapperware?"
"Emmm, bisa jadi. Mungkin iya, mami benar-benar tidak ingat."
Suasana kembali hening, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sampai di pelataran rumah sakit, Bintang terkejut saat ternyata Langit juga berada disana. "Papi?"
"Mami yang minta papi kamu kesini, mami takut terjadi apa-apa sama kamu, yuk turun," ajak Jingga. Bukan apa-apa, ia takut hasil diagnosa dokter buruk, ia tak bisa kuat sendiri.
"Mami, aku beneran gak papa kok, mami berlebihan."
"Berlebihan apa sih, nak? Mami cuma takut kamu kenapa-kenapa. Penyakit jantung itu tidak bisa di remehkan, mami takut."
Bintang menghela nafas panjang, ia lalu turun menyusul Jingga dan menghampiri Langit yang sudah menunggu mereka sejak sepuluh menit yang lalu.
"Kamu pasti kuat nak," ucap Langit seraya menepuk pundak Bintang beberapa kali.
Pemuda itu menghela nafas panjang, kenapa kedua orang tuanya menjadi lebay seperti ini? Ia hanya merasa deg-degan ketika berhadapan dengan Bulan, tapi Langit dan Jingga mengira ia sakit jantung parah. Perlakuan Langit dan Jingga membuat Bintang tak bisa berkata-kata, dua orang paruh baya itu bahkan sekarang menggandengnya menuju ruang pemeriksaan.
***
"Jadi, bagaimana kondisi putraku?" Tanya Langit sesaat setelah pemeriksaan Bintang selesai. Mereka tengah duduk berhadapan dengan dokter Liza, dokter spesialis jantung.
Jingga dan Langit fokus menatap Bintang, mereka menunggu jawaban dari pemuda itu.
"Ha-hanya deg-degan saja, dok. Selebihnya baik, mami sama papi aja yang berlebihan. Aku sudah mengatakan pada mereka bahwa aku baik-baik aja, tapi mereka memaksa ku memeriksakan diri," jelas Bintang.
"Mami sama papi hanya cemas, sebelumnya kamu tidak pernah seperti ini," kata Jingga.
"Apa yang orang tua kamu lakukan tidak salah, Bintang. Jantung adalah alat vital yang sangat penting di tubuh manusia, mendengar kamu mengeluh, tentu mereka cemas. Dan pemeriksaan dini memang harus di lakukan sebelum kondisi jantung benar-benar bermasalah. Tapi syukurlah, jantung kamu sehat. Mungkin deg-degan yang kamu rasakan karena kamu kelelahan, atau faktor lain seperti jatuh cinta misalnya?" goda Liza.
"Hah?" Bintang terkejut, ia tampak salah tingkah. Apalagi Jingga dan Langit menatapnya penuh selidik, ia semakin gugup.
"Waaah, gadis mana yang beruntung mendapatkan kamu?" ucap Jingga dengan antusias.
"Salah sayang," sangkal Langit. "Lebih tepatnya, gadis hebat mana yang sudah berhasil mencairkan es kutub ini?"
Bintang mendelik, ia masih kurang yakin dengan ucapan dokter Liza. "Memangnya bisa begitu, dok? Maksudku, apa jatuh cinta bisa membuat jantung bermasalah?"
Liza mengangguk, perempuan itu mesem-mesem menahan senyum, "Tentu, apalagi ketika kamu berhadapan dengan gadis yang kamu cintai, pasti jantung kamu bereaksi. Tanyakan saja pada papi kamu, dia lebih berpengalaman."
"Tidak mungkin.." gumam Bintang.
Gumaman yang masih terdengar jelas oleh Liza, Jingga dan Langit.
"Apanya yang tidak mungkin, nak?" tanya Jingga. Ia masih terlihat sangat antusias, ia tak sabar ingin melihat gadis yang bisa meluluhkan hati dingin putranya itu. Karena sedari dulu, selain dengan Zeni, Bintang tak pernah dekat dengan gadis manapun. Tunggu tunggu tunggu, Zeni? Mungkin kah gadis itu?
"Mi, Pi. Pemeriksaannya sudah selesai kan? Ayo kita pulang," ajak Bintang mengalihkan pembicaraan.
Jingga dan Langit mengangguk, mereka berpamitan pada dokter Liza juga tak lupa mengucapkan banyak terima kasih pada perempuan itu. Karena berkat dokter Liza, Jingga dan Langit jadi tahu bahwa putranya itu tengah jatuh cinta.