MENGEJAR CINTA BINTANG

MENGEJAR CINTA BINTANG
MAKAN BERSAMA


Waktu terus berlalu, Bulan menjalani kesehariannya seperti biasa. Bekerja dan bekerja.


Waktunya ia gunakan hanya untuk bekerja, bahkan ia sangat jarang bertemu dengan Cici, sahabatnya.


Mengenai hubungannya dengan dua pria tampan bersaudara, ia sedikit menghindar sejak tahu tentang kebenaran sang mama. Ia malu dan merasa tak pantas berteman dengan Bintang dan Angkasa.


Menghindari Bintang mungkin mudah karena ia jarang bertemu dengan pria itu. Tapi dengan Angkasa, Bulan sedikit kesulitan mengingat ia berkerja di tempat pria itu. Beruntung ia mempunyai otak yang cerdas, ia mempunyai 1000 alasan untuk bisa menghindari Angkasa.


Seperti siang ini, saat jam istirahat karyawan tiba, Bulan terburu-buru masuk ke ruang ganti. Bukan untuk berganti pakaian, tapi untuk numpang makan siang disana. Karena Angkasa pasti menghampirinya untuk mengajak makan siang bersama.


Bulan tak mau terlalu dekat dengan Angkasa, ia merasa ia berbeda dan tak sepadan dengan pria itu.


"Bulan, ada yang cari kamu di depan," ucap Rani, teman seperjuangannya di cafe itu.


Bulan mengerutkan dahinya, mulutnya otomatis berhenti mengunyah, "Siapa?" Tanyanya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


Rabi menggeleng, "Gak tahu, cepetan. Orangnya udah nungguin," ucap Rani lagi.


Bulan mengangguk, ia meletakan makan siangnya lalu minum. Mengikuti Rani, Bulan keluar dari ruang ganti, ia penasaran siapa yang mencarinya selain Angkasa.


"Mana, Ran?" Tanya Bulan.


"Tuh, di kursi nomor 5." Rani menunjuk seseorang yang tengah duduk sendiri dengan posisi membelakangi mereka. Dari postur tubuhnya, Bulan sepertinya mengenali orang itu.


Untuk membuang rasa penasarannya, ia pun menghampiri meja nomor 5, tentunya setelah ia mengucapkan terima kasih pada Rani karena sudah memberitahunya.


"Bintang?"


Pria itu menoleh, tersenyum lalu menarik tangan Bulan agar duduk di sampingnya.


"Kok kesini?" Tanya Bulan, ia hendak berpindah duduk, terlalu dekat dengan Bintang membuat jantungnya tak sehat. Namun baru saja hendak beranjak, Bintang menahannya.


"Duduk yang manis," ucap Bintang seraya menepuk-nepuk puncak kepala Bulan seperti anak kucing. Pria itu tersenyum saat Bulan menurut dengan bibir mengerucut.


"Aku lapar," ucap Bintang.


"Lapar ya makan lah, ngapain kamu kesini?"


Mendengar kalimat itu, Bintang berdecak. "Gak suka aku kesini? Ya udah aku pergi," Bintang berdiri, tapi Bulan memegang ujung kaos yang pria itu kenakan.


"Bukan gitu, ih. Gitu aja marah," kata Bulan.


Dengan mengukir senyum kemenangan, Bintang kembali duduk. Ia memanggil salah satu pelayan lalu memesan makanan untuknya dan Bulan.


"Aku serius nanya, ada apa kamu kesini? Mau ketemu Angkasa yah?" Bulan masih penasaran tujuan utama pria itu datang kesana. Tidak mungkin untuknya bukan?


"Aku serius jawab, iya aku mau ketemu Angkasa." Bintang menirukan gaya bicara Bulan, pria itu tertawa setelahnya. Entah mengapa pria itu jadi banyak tertawa, padahal dulu tawa Bintang sangat mahal dan jarang sekali Bulan lihat.


"Aku kesini emang mau ketemu Angkasa, untuk meminta izin membawa salah satu karyawannya pergi." Jelas Bintang, ia menahan senyum saat melihat ekspresi wajah polos Bulan.


"Kamu kenal semua karyawan disini? Siapa yang mau kamu ajak pergi?" Ada nada tak suka dalam pertanyaan itu, membuat Bintang semakin ingin tertawa.


"Enggak juga, hanya karyawan yang ini yang aku kenal." Bintang menyentil kening Bulan, gadis itu tampak mengaduh dan mengusap keningnya.


"Sakit, ih!" protes Bulan. Ia masih belum mengerti ucapan Bintang.


Sampai pesanan makanan mereka datang, Bintang berkata, "Makan dulu, abis ini kita pergi. Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat," ucapnya.


Bulan mengerutkan dahinya, ia mencerna ucapan pria tampan di sebelahnya, "Maksud kamu, aku?"


Bintang mengangguk, menyodorkan potongan cheese cake ke hadapan gadis itu. "Makan," ucapnya.


"Kamu mau ngajak aku pergi?" Tanya Bulan lagi, ia masih tak percaya bahwa ia akan pergi berdua saja dengan Bintang, pria yang sejak Tiga tahun lalu menjadi idola hatinya. Membayangkannya saja membuat pipinya bersemu merah. Jantungnya juga mulai berulah.


"Iya, makan dulu tapi."


Bulan terbengong, untuk memastikan ini mimpi atau bukan, ia mencubit pipinya sendiri, "Aw, sakit," pekiknya.


Bintang tentu terkejut, ia menatap Bulan dengan cemas, "Mana yang sakit? Ada yang gigit kamu atau apa? Kok tiba-tiba sakit?" Tanyanya, karena ia memang tak terlalu memperhatikan Bulan, ia tak tahu Bulan mencubit pipinya sendiri.


"Pipi aku yang sakit, aku cubit sendiri," jelas Bulan dengan polos.


"Astaga, Lan. Kamu bikin aku cemas, kenapa sampai nyubit pipi sendiri? "


Bulan menggeleng, ia berdehem menahan malu lalu mulai menyantap cheesecake yang Bintang pesankan untuknya.


Dari pintu ruangan owner, Angkasa menatap mereka dengan 3L, lemah letih lesu. Ingin sekali ia mengganggu Bintang dan Bulan, merecoki acara makan mereka atau ikut mereka pergi, tapi Bintang mengatakan sesuatu yang membuatnya tak bisa berkutik dan tak bisa menolak permintaan sang sepupu.


Bahkan Angkasa sempat menolak saat Bintang meminta izin untuk membawa Bulan pergi sehari ini saja. Tapi ia tak setega itu untuk membuat sepupunya bermuram durja ketika Bintang mengatakan alasannya membawa Bulan pergi.


IKLAN


Rekomendasi novel romantis tapi kocak, judulnya BOSKU SUAMIKU.


Rekomendasi novel kocak tapi bikin termehek-mehek di akhir, judulnya MY CRAZY BOSS IS MY HUSBAND.


Rekomendasi novel penuh konflik pelik yang bikin nangis berdarah-darah dan dada berdebar-debar, judulnya PERAMPAS KEHORMATAN KU


Rekomendasi novel kisah janda di pinang pak CEO, judulnya PERNIKAHAN KE DUA.


Tuh yang 4 itu novel Mak semua ges, yuk baca. Di NovelToon ini ada sekitar 9 karya Mak, kalian bisa mampir ke salah satunya atau semuanya kalau bisa. Hahahahahah