End Of Suffering

End Of Suffering
Perasaan yang sesungguhnya


"Anisa mommy ayo pulang lagi pula ini udah waktunya Alex pulang." Alex berdiri dan mengajak Yulia dan Anisa pulang. Akhirnya mereka pun keluar dan berjalan menuju mobil Alex, karena pak supir dari tadi sudah pulang karena disuruh Yulia. Saat sampai di mobil Anisa dan Yulia malah berdebat masalah duduknya. "Anisa kamu di depan aja di sebelah nya Alex ya mommy di belakang aja." ucap Yulia sambil membuka pintu mobil tapi Anisa menahan nya. "Tidak mungkin nyonya, yang lebih berhak duduk di depan itu nyonya jadi saya duduknya di belakang saja."Anisa berjalan menuju pintu mobil bagian kursi belakang tapi ditahan oleh Yulia. "Anisa kamu ini ya sudah duduknya di depan saja ini perintah mommy sekaligus nyonya kamu." mendengar ucapan Yulia itu Anisa tidak bisa menolak untuk duduk di sebelah Alex.


Di perjalanan tidak ada sama sekali percakapan, Alex dan Anisa hanya sesekali saling melirik tapi tidak berbicara. Yulia memecah keheningan itu karena dia mendapatkan pesan undangan dari salah satu teman nya yang tidak lain adalah kolega bisnis. "Alex besok malam ada acara pertemuan kolega bisnis harusnya yang menghadiri itu mommy sama daddy tapi kayaknya daddy juga bakal nyuruh kamu yang menghadiri nya. Jadi besok kamu dan Anisa saja ya yang kesana, tidak ada penolakan apa kalian mengerti?"


Alex dan Anisa saling menatap karena Yulia menyuruh mereka untuk menghadiri acara besok malam. Mereka tidak tau harus jawab iya atau tidak tapi Yulia sudah memaksa secara tidak langsung. "Oh iya kalian harus pakai pakaian yang sama kaya Anisa pakai gaun warna biru navy dan pakaian Alex juga harus sama warnanya. Apa sekarang saja kita pergi untuk membeli pakaian nya?" pertanyaan Yulia itu langsung dijawab oleh Anisa dan Alex dengan bersamaan. "Tidak!"


"Eh kenapa tidak? Oh iya mommy mengerti kalian tidak mau di temenin sama mommy kan kalian kan pengen nya berduaan terus biar tidak ada yang mengganggu. Baiklah baiklah besok kalian pergi beli pakaian nya berdua saja lagi pula Alex kerja setengah hari kan." Yulia mengerti kalau Anisa dan Alex tidak mau diganggu.


Beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai di rumah. Alex langsung pergi ke kamarnya begitu juga dengan Yulia dan Anisa. Di dalam kamar Anisa memikirkan perkataan Alex tadi. "Tuan muda mengajakku menikah dan tuan muda juga menyatakan perasaan yang sebenarnya apa ini mimpi? Tapi aku tidak yakin dengan semua ini. Karena bagaimana pun masalalu ku akan selalu menghancurkan masa depan ku."


Alex dia berfikir bagaimana caranya supaya Anisa itu percaya bahwa yang dia katakan tadi itu adalah sungguhan dan tidak mau pacaran bohongan lagi. "Anisa apa yang harus aku lakukan supaya kamu bisa percaya aku tulus mencintaimu dan menyayangimu apapun kekurangan mu aku terima dan apapun masalalu mu akan aku terima dengan sepenuh hati. Semua itu bukan masalah untukku karena aku benar benar mencintaimu."


Sedangkan Yulia bercerita banyak kepada Alan tentang kejadian tadi. "Dad tadi di kantor ada keributan karena tadi ada perempuan gila yang sudah menyiram mommy. Tapi seperti nya mommy tidak asing dengan wajahnya seperti dia salah satu wanita yang mendekati Alex dan sering kesini." ya pantas saja Yulia tidak mengingat Bella karena yang datang ke rumah itu bukan hanya satu atau dua perempuan saja banyak perempuan yang datang karena ingin mendekati Alex lewat orang tua nya.


"Terus terus tadi Alex mengajak Anisa menikah bulan depan dad yaampun Alex ini tau saja kalau mommy udah pengen cepet cepet punya menantu mommy gak sabar pengen gendong cucu." Alan diam dan memperhatikan Yulia bicara karena Alan tau kalau Yulia sudah bicara pasti panjang lebar.


"Bulan depan? Tapi sekarang ini kan Alex banyak pekerjaan dan katanya sedang ada masalah juga bagaimana bisa dia mempersiapkan semuanya dalam waktu yang cepat. Tapi ya sudahlah biar daddy yang menangani urusan di kantor biarkan Alex mempersiapkan acara yang paling penting dalam hidupnya." Alan pun sangat bahagia karena putra dia satu satunya akan mendapatkan kehidupan yang lebih berwarna dan sebentar lagi akan menjadi seorang pemimpin untuk keluarga nya.


Keesokan harinya Anisa sudah menyiapkan bekal makan untuk Alex karena pasti Alex tidak akan sarapan lagi. Di meja makan susah ada Alan Yulia Anisa dan bi Ratni. Anisa menunggu Alex turun, dan tidak lama kemudian Alex akhirnya turun. "Tuan muda ini bekal sarapan nya jangan lupa dimakan ya." ucap Anisa sambil menyodorkan kotak makanan.


"Mom dad bibi Alex ajak Anisa ke kantor ya biar nanti tidak bulak balik kan Alex dan Anisa mau beli pakaian untuk nanti malam." tanpa mendengar ucapan persetujuan dari orang tuanya dan bi Ratni Alex langsung saja menarik tangan Anisa dengan lembut dan berjalan menuju mobil.


Di dalam perjalanan Anisa merasa tidak nyaman karena dia pergi ke kantor Alex dalam keadaan belum siap siap Anisa takut membuat Alex malu. "Tuan muda kenapa ajak saya ke kantornya mendadak sekali saya kan belum siap siap." ucap Anisa sambil cemberut. "Anisa kamu tidak perlu siap siap lagi buang buang waktu saja lagi pula kamu sudah cantik malahan terlihat imut dengan pakaian mu seperti ini. Kamu memang bocah kecilku." mendengar ucapan Alex Anisa menjadi tersipu malu karena Alex menyebut kan bahwa dia cantik dan imut. Ya sekarang Anisa sedang memakai rok yang tidak terlalu panjang berwarna merah muda dan kaos tangan pendek berwarna putih dan rambutnya yang diikat.


Akhirnya Alex dan Anisa sampai, para pegawai disana langsung berbondong bondong melihat tuan muda nya itu masuk dengan menggandeng tangan Anisa. Anisa yang melihat itu menjadi malu dan dia bersembunyi di belakang Alex. Alex yang menyadari itu langsung tersenyum dan Alex pun melihat kearah para pegawai nya. "Kalian jangan membuat pacarku menjadi malu karena kalian melihatnya dia itu memang cantik dan baik jadi tidak usah dilihat lagi. Kalian bekerjalah kalau tidak gaji kalian akan aku potong." ucapan Alex itu membuat semua pegawai nya langsung dengan cepat kembali bekerja. Alex dan Anisa kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan Alex.


"Anisa kamu duduk saja di sofa Kalau kamu bosan keluar saja dan beli makanan di kantin." ucap Alex.


"Tuan muda jangan langsung bekerja ini sarapan nya dimakan dulu dong." Anisa langsung membuka kotak makan nya.


"Suapi saya tangan saya cuman ada dua ini tidak cukup kalau harus dipakai bekerja dan makan." Anisa yang mendengar itu menjadi malas karena Anisa sudah tau Alex hanya beralasan saja. Mau tidak mau Anisa pun menuruti keinginan Alex.


"Aaaa hap." Anisa menyuapi Alex seperti menyuapi anak kecil saja yang membuat Alex protes. "Anisa jangan menyuapi saya seperti menyuapi anak kecil. Apa jangan jangan kamu sudah tidak sabar untuk mempunyai anak dari ku." ucapan Alex itu membuat Anisa terkejut.


"Isshh apaan sih tuan muda saya masih kecil mana bisa saya punya anak." ucap Anisa sambil menyuapi Alex dengan kasar karena kesal.


"Siapa bilang kamu tidak bisa mempunyai anak sebentar lagi kita akan menikahi dan akan membuat anak yang banyak." blusshh pipi Anisa menjadi memerah karena ucapan Alex. "Hei lihat pipimu memerah hahaha." Alex tertawa karena dia berhasil menggoda Anisa.


Tidak terasa hari sudah siang sekarang waktunya Alex dan Anisa pergi untuk membeli pakaian karena acara nanti malam sangat penting. "Anisa kamu jangan ngambek terus dong yaampun anak kecil marahnya lama banget ya?" Anisa dari tadi masih saja marah dan tidak mau bicara dengan Alex. (Astaga merepotkan sekali bagaimana nanti kalau sudah menikah mungkin saja dia akan jauh lebih parah ngambek nya.) "Anisa apa kamu mau makan Jjangmyeon?" Anisa yang mendengar kata Jjangmyeon itupun langsung tersenyum dan berbicara kepada Alex. "Ya jelas mau dong ayo kita makan Jjangmyeon."


"Dasar bocah kalau ngambek harus disogok dulu sama sesuatu baru deh berhenti ngambek nya." Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan rata rata karena dia tidak mau membuat Anisa tidak nyaman. "Makan Jjangmyeon nya nanti aja dirumah ya jangan sekarang kalau sekarang takutnya kelamaan lagi nanti malah telat."


"Tapi nanti malam lama enggak acaranya? Saya gamau kalau lama nanti ketiduran lagi terus ngerepotin tuan muda lagi yang lebih parahnya nanti saya enggak jadi makan Jjangmyeon nya."


"Ya seperti biasanya tapi nanti kamu kalau mau pulang bilang saja." ucap Alex.


Beberapa menit kemudian akhirnya Alex dan Anisa sampai di salah satu tempat yang banyak menyediakan gaun dan jas. "Selamat siang ada yang bisa saya bantu?" ucap pelayan disana. "Saya mau cari gaun paling bagus untuk pacar saya dan pakaian untuk saya juga. Saya minta pakaian saya dan gaun pacar saya senada ya." ucap Alex.


"Baik tuan sebentar." ucap pelayan itu dan langsung mencari pakaian yang Alex minta. Tanpa Alex dan Anisa sadari ternyata disana juga ada Bella, Bella merencanakan hal yang akan membuat Anisa malu di acara nanti malam. "Lihat saja aku akan membuatmu malu dan menyesal karena sudah berani berani nya menyingkirkan ku dari Alex."


"Eh mbak mbak ini gaun buat orang itu bukan?"


"Iya mbak."


"Biar saya Saja yang bawa nya soalnya saya saudara nya perempuan yang itu." Pelayan itu dengan percaya nya memberikan gaun yang dia bawa kepada Bella. (Mampus kau bocah sialan kau akan melihat akibat dari perbuatan mu padaku.) Bella mengeluarkan gunting dari dalam tasnya dan ternyata dia menggunting gunting gaun itu sampai rusak dan dia langsung memasukan nya kedalam paper bag untuk dibayar.


Tapi sungguh bernasib sial ternyata gaun yang dia rusak adalah gaun Pesanan nya untuk dipakai di acara nanti malam karena Bella harus menggantikan ayahnya. Tiga paper bag berada di kasir pelayan itu memberikan dua paper bag kepada Alex dan satu lagi kepada Bella. Bella sudah sangat senang karena berhasil merusak gaun yang dia pikir itu adalah gaun Anisa. "Hahaha selamat menanggung rasa malu Anisa." Bella keluar dengan membawa paper bag dia tidak memeriksa lagi gaun pesanan nya karena dia tadi sudah melihatnya dan gaun nya bagus.


"Tuan muda ini gaun nya mahal banget tau sayang uang nya." Anisa menyayangkan uang yang Alex keluarkan untuk membeli gaun itu.


"Itu tidak seberapa Anisa uang saya masih banyak tenang saja." Alex benar benar merasa bahwa Anisa itu perempuan yang sangat baik. (Dia aku belikan gaun yang harganya biasa saja masih tetap menyayangkan uang nya berbeda dengan perempuan diluaran sana yang sedang mendekati aku mungkin mereka tidak akan menerima gaun ini karena mereka pasti anti dengan barang murah. Aku semakin yakin dengan perasaan ku, aku benar benar mencintai dan menyayangi mu Anisa.)


Akhirnya mereka sampai di rumah. Alex langsung pergi ke kamarnya karena dia ingin beristirahat sebentar sebelum pergi ke acara nanti malam sedangkan Anisa dia langsung ke dapur setelah menyimpan barang nya.


"Bi... Bi Ratni..." Anisa mencari cari bi Ratni dan ternyata bi Ratni tidak ada di dapur. "Bi Ratni kemana ya kok ga ada sih." Anisa terus mencari bi Ratni dan ternyata bi Ratni sedang duduk di halaman belakang rumah.


"Bibi Anisa cari cari eh malah duduk santai disini." Anisa langsung duduk di sebelah bi Ratni. "Bi gimana ini Anisa bingung tadi tuan muda malah bilang cinta dan sayang sama Anisa terus tuan muda ngajak Anisa nikah gimana ini bi ini enggak mungkin terjadi." ucap Anisa yang mengadu kepada bi Ratni.


"Bibi juga gatau Nis bibi takut kalian bakalan terluka kalau tau yang sebenarnya. Tapi kamu harus jujur Nis tentang masalalu kamu apapun resiko nya karena itu jalan yang terbaik." ucap bi Ratni.


(Iya aku memang harus berterus terang tentang masalalu ku karena cepat atau lambat mereka juga akan tau yang sebenarnya. Karena akan Lebih menyakitkan jika mereka tau semua tentang aku dari orang lain, maaf tuan muda mungkin kejujuran ini akan Menyakitkan untuk kita.)