End Of Suffering

End Of Suffering
Pingsan


Beberapa lama kemudian Alex sampai dirumah dan langsung berlari menuju kamar Anisa. "Mom kenapa Anisa bisa pingsan perasaan tadi dia masih baik baik saja." Alex bertanya karena heran kenapa Anisa bisa pingsan.


"Mommy juga tidak tau soalnya tadi mommy lagi sama daddy kamu. Bi apa yang sebenarnya terjadi?" Mendengar Yulia bertanya kepadanya bi Ratni jadi bingung apa yang harus dia katakan.


"Anu nyonya tadi Anisa bilang sakit kepala terus pusing dan badannya lemas." bi Ratni sengaja berbohong karena tidak mungkin harus mengatakan yang sebenarnya terjadi.


(Lemas? Perasaan tadi pagi dia tidak terlihat lemas ataupun sakit. Ah ya sudahlah mungkin dia mendadak seperti itu.) "Al kamu jagain Anisa dulu ya mommy mau kedepan dulu sebentar dan bi maaf tolong beresin pecahan piring yang tadi ya." Yulia langsung pergi meninggalkan mereka.


Alex langsung masuk ke kamar Anisa dan duduk di tepi ranjangnya. "Anisa Anisa kamu ini ada ada saja pake ada acara pingsan nya lagi." Alex menunggu Anisa sambil memainkan ponselnya tapi tiba tiba Anisa bicara tapi matanya masih tertutup. "Hiks hiks mas maafkan aku mas jangan sakiti aku hiks hiks." Anisa bukan hanya bicara tapi dia ternyata sudah menangis dan sangat ketakutan Alex yang melihat itu langsung mencoba untuk membangunkan Anisa.


Grep Anisa terbangun dan langsung memeluk erat Alex. Alex tidak menolaknya justru dia membalas pelukan Anisa supaya Anisa bisa tenang. "Sudah tenanglah ada saya disini jangan takut lagi." Anisa yang mendengar itu langsung melepaskan pelukannya dengan perlahan dia masih sedikit menangis.


"Istirahat lah tenangkan dirimu dan jangan pikirkan pekerjaan. Tidur saja kamu masih perlu banyak istirahat." Anisa tidak berbicara sepatah kata pun dia hanya menuruti perintah Alex untuk beristirahat. Melihat Anisa yang sudah tertidur Alex pun keluar dan menutup pintu kamar Anisa.


"Al kenapa kamu keluar emangnya Anisa sudah sadar?" Tanya Yulia kepada Alex.


"Sudah mom tapi Alex menyuruh dia untuk tidur lagi ya enggak mungkin kan kalau dia harus lanjut bekerja lagi. Dia masih perlu banyak istirahat sampai kondisi nya benar benar baik." Ucap Alex.


"Ya kamu benar ya sudah sana ganti pakaian mu dulu terus lanjutkan makan mu tadi kan makan nya cuman sedikit." ucap Yulia yang menyuruh Alex berganti pakaian karena Alex masih menggunakan pakaian kerja nya.


Alex pun segera berjalan menuju kamar nya. Setelah sampai di kamar nya dia duduk di tepi ranjangnya dan dia bertanya tanya. "Mas? Jangan sakiti aku? Siapa yang menyakiti Anisa kita disini tidak pernah memperlakukan nya dengan buruk. Anisa benar benar ketakutan sebenarnya apa yang terjadi tidak mungkin kalau ini hanya pusing dan lemas saja." Alex terus berfikir dan bertanya tanya siapa mas yang dimaksud oleh Anisa.


Di dapur bi Ratni sedang membersihkan sisa sisa pecahan piring tadi dan dia berbicara sendiri. "Anisa kamu pasti sangat ketakutan nak kenapa ayah tirimu kejam sekali membiarkan kamu dinikahi pria sejahat Tino. Kamu pasti sangat menderita karena kehilangan bayimu, andai saja bibi bertemu kamu dari dulu pasti bibi akan menyelamatkan mu Nis."


Tanpa bi Ratni sadari ternyata Yulia mendengar ucapan nya tadi. "Menikah siapa yang menikah bi?" sontak ucapan Yulia itu membuat bi Ratni sangat terkejut. Bi Ratni menjadi sangat gugup dan terpaksa kembali menjawab nya dengan berbohong. "I i itu nyonya tetangga saya yang dikampung mau menikah tadi ngabarin saya suruh dateng."


"Oh kirain siapa ya sudah kalau sudah beres disini bibi istirahat aja dulu kalau bisa sekalian jagain Anisa ya takut dia bangun mau minta sesuatu." ucap Yulia dan dijawab oleh Bi Ratni. "Baik nyonya." Yulia langsung berjalan meninggalkan bi Ratni.


"Untung saja nyonya tidak mendengar kan aku dari awal kalau sampai dengar dari awal bisa bahaya ini aku harus lebih hati hati lagi." ucap bi Ratni sambil mengelus ngelus dadanya dan kembali melanjutkan membersihkan sisa sisa pecahan piring tadi.


Di sisi lain Angel gelisah kenapa Anisa tidak ada menghubungi nya sama sekali. "Kenapa Anisa tidak menghubungi ku apa dia baik baik saja? Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini. Semoga aja dia baik baik saja ah mungkin saja dia sedang sibuk bersama tuan muda."


"Aku harus pikirkan bagaimana caranya membalaskan dendam ku pada Tino Aku tidak mau melihat dia bersenang senang diatas penderitaan sahabatku. Ya aku tau caranya ini pasti berhasil, Tino bersiaplah karena permainan ku untukmu akan segera dimulai." Angel langsung menghubungi seseorang yang pastinya akan dia ajak kerjasama untuk membuat Tino menderita.


"Hallo besti apa kau masih bekerja di tempat itu? Kalau iya apa aku boleh meminta bantuan mu?" ucap Angel kepada seseorang yang sedang dia hubungi.


"Pastinya karena itu sudah menjadi profesi ku. Kau mau meminta bantuan apa tapi jangan lupa zaman sekarang tidak ada yang gratis yah." ucap seseorang itu.


"Tenang saja jika kau bisa dengan baik menyelesaikan tugasnya kau pasti untung berkali kali lipat. Kau hanya perlu menuruti semua perintah ku saja oke." ucap Angel.


"Baiklah kau bilang saja aku harus apa, aku akan menyelesaikan nya dengan sangat baik." ucap seseorang itu.


"Baiklah nanti aku akan menghubungi mu kalau waktunya sudah tepat." Angel menutup sambungan telpon nya dan memikirkan matang matang aksinya itu dia tidak mau sampai salah langkah.


Tidak terasa hari sudah sore sekarang jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 sore. Roy yang sudah pulang segera bersiap untuk ke rumah Alex karena ingin mengetahui kondisi Anisa saat ini. Di dalam mobil Roy berpikir dia harus bawa apa untuk Anisa. "Aku harus bawa apa ya? Buah saja lah aku tidak mau ribet." Sebelum ke rumah Alex Roy mampir ke swalayan dulu untuk membeli sedikit buah.


Alex berjalan menuju kamar Anisa dia membuka pintu kamar Anisa tapi ternyata Anisa tidak ada di kamarnya. "Kemana dia bukan nya istirahat malah keluyuran." Alex kesal karena Anisa tidak mendengar kan ucapan nya untuk beristirahat. Alex mencari cari Anisa di dalam rumah tapi tidak ada. "Sebenarnya kemana dia merepotkan saja dasar Anak kecil." tapi Tiba tiba Alex melihat Anisa yang sedang duduk di taman rumah Anisa sedang termenung.


"Baiklah kalau begitu saya temani kamu disini." ucap Alex dan langsung duduk di samping Anisa. Tapi tidak lama kemudian Alex melihat mobil Roy masuk ke halaman rumah nya Alex heran dan bertanya tanya mau apa Roy ke rumah nya. Roy yang sudah melihat Anisa ada di taman dia langsung berjalan menghampiri Anisa dan Alex.


"Hai Al Hai Nis. Bagaimana kondisi mu sekarang apa sudah membaik?" Roy langsung To the Point menanyakan kondisi Anisa.


"Iya kak Anisa baik baik saja." Anisa menjawab pertanyaan Roy sambil tersenyum tapi hal itu membuat Alex kesal entah itu perasaan cemburu atau apa.


"Ini untukmu aku tadi membelinya sebelum kesini." sebelum Anisa menerima nya Alex terlebih dahulu merebut pemberian dari Roy itu. "Kenapa kau perhatian sekali kepada pacarku? Jangan Bilang kau menyukai pacarku." Alex menatap tajam kearah Roy tapi Roy tidak takut justru dia ingin tertawa melihat sahabatnya itu begitu cemburu pada dirinya.


"Hahaha Al Al kau ini kenapa aku ini hanya ingin melihat adik kecil ku kenapa kau terlihat marah sekali tenang saja aku tidak akan merebut nya darimu." Alex semakin kesal karena Roy menertawakan nya.


"Sudahlah kau sebaiknya pulang saja aku tidak mau diganggu lagi pula Anisa harus banyak beristirahat." Alex mengusir Roy dan Roy pun mengerti dan langsung berpamitan kepada Anisa untuk pulang. "Ya ya ya Anisa aku pulang dulu cepatlah sembuh biar laki laki tua ini tidak marah marah lagi padaku hahaha." Roy langsung pergi meninggalkan Anisa dan Alex.


Setelah melihat mobil Roy keluar dari halaman rumah Anisa langsung merebut buah yang Roy kasih. "Tuan muda bisa ramah sedikit enggak? Kak Roy itu kan sahabat tuan muda juga kenapa malah seperti itu untung saja kak Roy baik jadi tidak balik marah sama tuan muda."


"Kamu ini kenapa malah marahin saya perasaan saya tidak salah wajar saja kalau saya seperti itu karena kamu adalah pacar saya." Alex tidak menyadari apa yang dia ucapkan.


"Yang lebih tepatnya adalah pacar bohongan." Anisa langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Alex.


"Oh iya aku sampai lupa kalau aku dan Anisa hanya pacaran bohongan." Alex pun mengikuti Anisa untuk masuk ke dalam.


Di sisi lain Angel sedang bertemu dengan seseorang yang dia kenal. Xenia wanita berdarah indo-itali itu adalah kenalan Angel sewaktu di club karena Angel pernah beberapa kali masuk club milik xenia. "Xen aku ingin meminta bantuan mu untuk menggoda seorang laki laki dia namanya Tino yang perlu kau lakukan hanya menggodanya dan membuat dia mabuk. Setelah mabuk kau bisa mengambil mobil dan surat suratnya lalu bisa kau jual dan satu lagi buat dia masuk ke kamar mu dan kau nanti bisa berpura pura seakan akan Tino akan memperk*sa mu dan laporkan dia ke polisi. Aku akan memberimu 50juta untuk uang jajan mu sekarang, nanti setelah kau selesai melakukan nya dan bekerja sangat baik aku akan menambah uang nya bagaimana apa kau setuju?" ucap Angel sambil menyodorkan tangan nya ke xenia.


"Setuju tapi itu kurang puas untukku aku akan membuat cara lain yang bisa membuat dia jauh lebih menderita kau hanya tinggal tunggu beres nya saja." Xenia menjabat tangan Angel tanda persetujuan mereka.


"Baiklah kau pasti bisa membuat ku puas atas kerja mu. Silahkan mainkan saja permainan nya sekarang." Angel tersenyum sumringah karena dia tau bahwa xenia pasti bisa membuatnya puas. Angel pergi meninggalkan xenia karena dia harus segera pulang sebelum ibu menelponnya.


"Tino Tino kau itu salah memilih lawan walaupun aku anak kecil tapi apapun bisa aku lakukan selagi aku mau melakukan nya. Lihat saja sebentar lagi kau akan jauh menderita dari sahabatku, An kau sudah waktunya menikmati kebahagiaan mu dan Tino kau harus bersiap menghadapi nerakamu." Angel tersenyum dan mempercepat laju mobilnya.


Xenia dia sudah melihat foto Tino dia berpikir dan terus mengingat wajah Tino. "Ya benar laki laki ini pernah kemari aku tidak akan Kesusahan dalam permainan ini karena dia akan menghampiri ku dengan sendiri nya." setelah itu xenia bersiap karena dia harus mempersiapkan semuanya dengan baik.


Di sisi lain Alex terus mengikuti Anisa, Anisa yang menyadari akan hal itu langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. "Isshhh tuan muda ngapain ngikutin saya terus pergi sana kan punya kamar masing masing." ucap Anisa dengan kesal dan langsung cemberut.


"Kamu ini pelit sekali tidak membagi buah itu untuk saya kan saya pacar kamu." Ternyata Alex mengikuti Anisa karena ingin meminta salah satu buahnya.


"Yaampun seorang tuan muda Bimantara ternyata miskin saya sampai tidak menyangka untuk membeli buah pun sampai tidak mampu." ucap Anisa sambil menggelengkan kepalanya dan meledek Alex.


"Jangan sembarangan ya kamu saya bisa beli sama kebun kebun nya buat apa hanya membeli satu buah saja." ucap Alex yang tidak terima dia dikatai miskin boleh Anisa.


"Tapi buktinya tuan muda malah minta buah punya Anisa huh wlee. Dasar tuan muda miskin, semuanya tuan muda Bimantara Ternyata miskin hahaha wlee." Anisa berlari dan menjulurkan lidahnya karena dia sedang meledek Alex.


"Anisa awas Kamu yah saya akan menangkap mu." Alex berlari mengejar Anisa tapi Alex dengan gampang nya menangkap Anisa, tapi Anisa memberontak dan membuat badan Alex tidak seimbang. Dan brukk mereka terjatuh dengan posisi Anisa dibawah dan Alex berada di atasnya, mereka terdiam dan mematung di posisi itu dan ternyata Ada seseorang yang melihat mereka dan menimbulkan kesalah pahaman.


"Astaga kalian apa apaan ini."