
Besoknya, Mirna membawa beberapa senjata itu. Sudah pasti masih berfungsi. Untuk lensa kontak canggih dan gelang hidungnya tak perlu diragukan lagi. Karena Mirna sering memakai dua benda itu. Sekarang saatnya menggunakan senjata lainnya.
Mirna sudah punya nomor ponsel Rizki. Sewaktu istirahat siang, Mirna menelepon Rizki. Keduanya janjian di sebuah cafe yang berada di alun-alun kota. Mirna akan menemuinya sepulang sekolah.
Di sekolah, Mirna mencari tukang koran. Mungkin saja di koran itu ada berita terbaru tentang Yumne dan Johana. Akhirnya ia menemukan juga tukang koran itu. Mirna membeli satu dan membawanya ke sekolah. Mirna pun mencari-cari berita tentang Yumne.
Hingga akhirnya ia temukan di suatu lembar halaman koran itu. Ada foto Yumne yang bermesraan dengan Johana. Segera saja Mirna menggunting lembar halaman itu untuk mendapatkan foto dan informasi tentang Yumne sekarang.
"Nanti aku bawa dulu ke rumah, baru aku telepon Mas Rizki," katanya membuat rencana.
Mirna mencium aroma foto Yumne dan Johana itu. Ia cium aromanya untuk menghafal aroma orang yang dicarinya itu. Jadi nanti tak perlu susah-susah memotret dengan kamera atau kaca pembesar.
...***...
Sepulang sekolah, Mirna menghubungi Rizki. Ia menghubungi Rizki saat sudah memasuki mobil angkot.
"Saya pulang dulu, Mas! Saya selidiki dulu sebentar di rumah, nanti saat saya datang, kita tinggal langsung nyari dia dan Johana," kata Mirna dengan tegas.
"Baik. Tapi jangan lama-lama, ya! Saya tunggu di cafe itu," balas Rizki di seberang sana.
Mirna mengangguk. Keduanya pun saling menutup telepon. Angkot pun jalan meninggalkan pangkalannya. Dalam perjalanan, Mirna membaca sedikit informasi yang tertulis di bawah foto Yumne dan Johana.
"Keduanya baru pulang dari Belna. Dan sekarang diperkirakan akan menuju ke sebuah hotel di Sukaratu Barat."
Mirna mengerutkan kening. Dan akhirnya sampailah ia di perumahan. Mirna turun dan membayar biaya ongkos angkot itu. Kemudian berjalan sambil melihat foto itu lagi.
Sesampainya di rumah, Mirna mengucapkan salam pada neneknya. Bu Eka menjawab salam cucu satu-satunya itu. Tanpa panjang-lebar lagi, Mirna meminta izin Bu Eka untuk pergi menemui Rizki.
Bu Eka awalnya merasa cemas. Apalagi cucunya pergi sendirian. Namun, ia berdo'a agar diberikan perlindungan pada cucunya. Sampailah Mirna bersiap untuk pergi. Ia mengucapkan salam dan meminta do'a restu dari neneknya.
"Iya, deh. Semoga berhasil! Kalau sudah selesai, segeralah pulang! Jangan terlalu malam!" pesan sang nenek.
"Iya, Nek! Ya udah, aku berangkat dulu!" balas Mirna.
Mirna berjalan sampai ke gerbang komplek perumahan dan menaiki angkot lalu pergi. Dalam perjalanan, Mirna menghubungi Rizki dan mengatakan bahwa ia sudah dalam perjalanan menuju ke cafe yang sudah dipilih.
Sesampainya di sana, Mirna turun dari angkot dan memasuki sebuah cafe yang sudah diberitahukan oleh Rizki tempatnya. Cafe itu cukup besar, namun tetap ini hanya restoran. Yang disediakan seperti cafe lainnya. Hanya minuman istimewa dan aneka es krim yang unik serta kue-kue kecil.
"Gimana, ada tambahan informasi?" tanya Rizki tak sabar begitu melihat Mirna duduk.
"Saya punya. Baca ini!" tegas Mirna sambil memberikan potongan kertas koran itu.
Rizki mengambil kertas koran itu. Ia baca tambahan informasi tentang Yumne dan Johana. Keduanya akan menuju ke sebuah daerah.
"Ada tambahan lainnya?" tanya Rizki sambil mengembalikan kertas itu.
"Nggak ada. Baru ini aja yang saya dapat," jawab Mirna.
Rizki sedikit kecewa. Mirna bisa melihat dari raut wajahnya. Untuk menghiburnya, Mirna memberitahukan Rizki tentang alat-alat canggih peninggalan ayahnya.
"Ini ada sarung tangan canggih untuk mendeteksi tempat yang pernah didatangi Yumne dan selingkuhannya itu. Saya kasih tahu cara pakainya nanti di mobil. Lalu ada tali Wonder Woman yang dibuat ayah saya juga. Kemudian ada belati lempar yang bisa saya gunakan untuk senjata pelengkap selain jurus karate saya," jelas Mirna memberitahu.
"Bagaimana dengan pistol saya? Nggak akan kepakai dong!" Rizki sedikit memprotes.
"Saat penyerangan, kita lakukan pengepungan padanya. Saya dengan senjata dan karate saya sendiri. Dan jika dia berhasil menghindar dari saya, saatnya anda menggunakan pistol dan tongkat polisi anda untuk menyerangnya!"
Rizki terdiam sejenak. Berpikir. Hingga akhirnya ia berkata, "Deal! Kita mulai sekarang!"
Mirna tersenyum. Mereka pun segera memulai usaha ini.
...Interogasi pun dimulai!...
...°°°...