
Suatu malam, Mirna tengah berlatih. Ia sangat menikmati lagu dan tarian yang dilakukannya. Selain itu, ia juga sangat menyukai salah satu membernya. Setelah diskusi dengan teman-teman kelompoknya, Mirna kebagian dapat gerakan Sungjong. Itulah member boyband Korea Selatan ini yang ia kagumi. Jadi saat bagian member itu bernyanyi, maka ia harus menari dengan gerakan seperti idolanya tersebut.
Setelah itu, ia akan menari bersama dengan teman-temannya yang lain. Yang jelas, lakukan tariannya sesuai dengan yang ada di video. Mirna amat sangat bersemangat malam itu. Sampai Bu Eka yang melihatnya dari luar kamar, ikut tersenyum bahagia melihat cucunya senang.
...***...
Di hari Minggu, Mirna tengah istirahat sambil memakan buah jeruk di teras. Ia sudah cukup lelah berlatih, bahkan sampai-sampai kedua tangan, kaki dan lehernya serasa pegal. Saking semangatnya ia berlatih menggunakan lagu sang bintang idolanya.
Zuko datang dan meminta buah jeruknya. Mirna memberikannya sebagian pada Zuko. Lalu keduanya berbincang-bincang sambil memakan buah jeruk itu bersama-sama.
"Pah! Papa bakalan datang 'kan ke acara perpisahan sekolah Mirna nanti?"
Zuko terdiam sejenak mendengar pertanyaan putrinya itu. Ia mengunyah jeruknya dan memuntahkan dua biji buahnya. Setelah membuang dua biji buahnya, barulah ia menjawab.
"Mmm...iya, Papa datang. Semoga aja nggak ada kasus."
Namun, tanggapan Mirna malah seperti kecewa. Ia pun membalas, "Jangan janji-janji! Dari waktu aku SD sampai mau lulus SMP gini, Papa nggak pernah lihat aku pentas di depan banyak orang."
"Tapi 'kan benar-benar sibuk. Papa akan datang, deh. Tunggu aja!"
"Benar, ya?"
"Iya-iya. Papa bakal datang."
"Janji?"
"Iya, promise."
Keduanya lanjut makan buah jeruk itu sampai habis. Setelah habis, Mirna membuang kulit jeruk dan biji-bijinya ke tempat sampah kecil depan pintu rumahnya. Kemudian ia masuk duluan ke rumah.
Melihat putrinya hilang ditelan rumahnya lewat pintu, Zuko menghela nafas. Karena orang yang datang padanya untuk minta bantuan jasa detektifnya bisa datang kapan saja, termasuk juga saat pementasan putrinya. Jadi, itu bisa menjadikan Zuko mengingkari lagi janjinya.
Ini sering terjadi saat pementasan tari putrinya di saat kenaikan kelas dan kelulusan dulu. Saat masih ada Siti, Zuko selalu janji-janji akan ikut datang melihat Mirna pentas. Tapi, semua itu hanyalah janji. Yang datang hanya Siti dan Bu Eka.
Hari pementasan dilaksanakan pada hari Selasa. Dan Mirna sudah janjian dengan teman-temannya bahwa latihan tari bersama di rumahnya ini akan dilaksanakan setelah ashar. Mereka harus rutin latihan agar tidak mengecewakan nanti.
Saat sudah menyusul masuk, tiba-tiba Zuko mendapat telepon dari Aki Albi, bahwa ada kasus korupsi yang harus segera dicari pelakunya. Pelakunya melakukan korupsi uang bank, dan membawa uangnya pergi.
Awalnya Zuko mau menolak. Tapi akhirnya ia menerima, dan akan meminta maaf pada Mirna nanti bahwa ia tak bisa datang. Karena setiap pengalaman Zuko menangkap atau memata-matai pelaku koruptor, ia membutuhkan waktu agak lama. Paling sebentar adalah lima hari. Dan paling lamanya adalah satu hingga dua minggu.
Ketika masuk kamarnya Mirna, Zuko melihat putrinya tengah tertidur pulas ternyata. Terdengar suara musik Korea favoritnya Mirna yang akhir-akhir ini sering diputarnya untuk latihan tari dengan teman-temannya. Zuko mengambil ponselnya Mirna yang menjadi sumber suara musik Korea Selatan itu. Ia lihat judul lagu dan siapa yang menyanyikannya.
Mirna memang suka musik. Ia suka lagu lokal, band barat seperti Evanescence, Green Day, Muse, dan Gun's and Rose atau lebih di kenal GNR. Ia juga suka lagu-lagu Korea. Namun yang paling ia sukai adalah lagu ini. Karena ia penggemar berat boyband Korea yang satu ini.
Hingga Zuko melihat poster-poster band dan boyband Korea yang Mirna miliki. Ada posternya Justine Bieber dan Michael Jackson juga, sebagai dua penyanyi solo barat favorit Mirna. Zuko ingat betul. Putri semata wayangnya ini selalu menghafal mati-matian lagu-lagu idolanya itu. Sedangkan untuk boyband Korea, Mirna hanya menghafal mati-matian gerak tarinya.
Dan untuk member band atau boyband Korea favoritnya, ia hafal mati-matian identitas member yang paling ia sukai. Seperti Amy Lee. Penyanyi wanita yang jadi vokalis band Evanescence itu Mirna hafal mati dengan identitasnya. Mulai dari tanggal lahir, tempat lahirnya, agama, dan beberapa fakta tentangnya. Demikian juga vokalis band Billie Joe, dan tiga member boyband Korea favoritnya itu, Sungjong, L, dan Woo-hyun.
Zuko mengambil salah satu buku tulis Mirna yang menjadi buku khusus untuk itu. Seperti buku cetakan penerbit, Mirna menambahkan daftar isinya. Di awal halaman, ada identitas Nabi Muhammad Saw dan salah satu Khulafaur Rasyidin yang sangat Mirna idolakan, Khalifah Abu Bakar. Plus fakta-fakta orang paling mulia di muka bumi tersebut.
Kemudian seterusnya, barulah identitas artis-artis favorit Mirna. Urutannya yang pertama adalah Justine Bieber. Lalu Michael Jackson, Billie Joe, Amy Lee, dan barulah tiga member boyband Korea favoritnya. Agar orang-orang yang membacanya mengerti, Mirna tambahkan foto kecil idolanya itu. Ia tempelkan foto kecil mereka sebelah identitas sang bintang.
Zuko hanya tersenyum. Ia lihat lagi poster-poster itu. Sebagian ada yang ia beli, sebagai hadiah ulang tahun. Seperti posternya Evanescence, Zuko beli saat Mirna berulang tahun yang ke-7 tahun. Lalu poster Michael Jackson, ia beli saat Mirna ulang tahun yang ke-9 tahun. Sisanya Mirna beli sendiri di pinggir jalan luar mall sewaktu dulu. Dan poster boyband Korea itu Mirna beli di sekolah, ketika boyband Korea mulai merajalela saat ia kelas 4 SD.
Banyak kenangan bagi Zuko dengan putrinya. Tak terasa sekarang ia akan jadi anak sekolah SMA. Zuko kembali menyimpan buku itu. Lalu mematikan musik di ponsel Mirna, dan menyimpannya perlahan di meja belajar. Kemudian ia kecup putrinya. Zuko lakukan itu, agar putrinya tetap mau dengarkan adzan ashar nanti.
...***...
Saat latihan, semua kembali diskusi. Sudah ditentukan peran member-membernya. Namun, ada sedikit penolakan dari salah satu temannya Mirna.
"Mir! Kamu jadi Songjung sama Hoya, ya! Soalnya, aku sempet sedikit keseleo kemarin malam pass bagian breakdance Hoya menjelang akhir instrumen musiknya."
Semua masih diam, tak menjawab. Hingga akhirnya, salah satu teman Mirna yang bernama Efie mau menjadi Hoya. Awalnya dia menjadi Woo-hyun. Dan temannya yang menolak itu jadi Hoya.
"Aku, deh. Jadi kita tukar peran. Dia Woo-hyun, aku Hoya."
Sudah diputuskan, sekarang resmi Efie-lah yang menjadi Hoya. Latihan kembali dilanjutkan. Dan Efie harus latihan menjadi Hoya untuk breakdance di akhir instrumen musiknya.
Untungnya semua berjalan normal. Efie sama seperti Mirna, ia bisa lincah menari. Apalagi, dia memang peminat hal-hal yang berbau Korea. Mulai dari musiknya hingga beberapa dramanya.
Setelah latihan menjelang magrib, semuanya nampak menikmatinya. Walaupun ini sangat melelahkan. Semua berjalan normal. Mirna sangat senang. Latihan akan dilakukan besok pagi pukul 7. Karena anak kelas 3 sudah bebas setelah UN SMP ini, jadi banyak yang tak akan ke sekolah besok. Semua sibuk untuk pementasan di acara kelulusan nanti lusa.
...***...
Besoknya, Mirna melihat Zuko berjalan keluar rumah sambil membawa kunci mobil. Mirna segera mengejarnya buru-buru. Lalu menanyakan perihal kehadiran sang ayah besok.
"Pah! Papa bakal datang besok, 'kan? Iya, 'kan?"
Zuko terdiam sebelum memasuki garasi. Ia pun merasa kalau putrinya ini jadi terlewat batas. Itu-itu saja yang ia tanyakan.
"Mirna! Papa harus urus kasus pencarian koruptor ini! Ini nggak semudah membalikkan telapak tangan. Jadi ngertilah!" jawab Zuko dengan sisa kesabarannya.
Mirna mulai murung. Ia pun membentak ayahnya, "Papa jahat! Sukanya ingkar janji terus. Sama ikut campur masalah orang lain. Nggak pernah mikirin putrinya."
Amarah sudah tak terbendung lagi, tiba-tiba Zuko melakukan hal tak terduga seperti yang pernah ia lakukan pada almarhumah istrinya.
...Plaaak!...
Ia menampar pipi kanannya Mirna. Tapi, Zuko menyadari hal ini. Ia pun meminta maaf padanya. Bu Eka yang lagi-lagi melihat kejadian itu langsung marah pada putranya.
"Astaghfirullah, Zuko! Apa-apaan lagi kamu ini, hah?"
Mirna mulai menangis sendu. Ia menyentuh pipi kanannya yang memerah itu. Karena kesal ia pun pergi berlari ke kamarnya. Zuko dan Bu Eka memanggilnya nyaris bersamaan. Bu Eka jadi ikut kesal pada putranya. Hingga ia pun pergi menyusul cucunya.
Zuko jadi kesal juga. Ia pun pergi dengan mobilnya. Dalam perjalanan, Zuko menyesali perbuatannya. Ia menyalahkan dirinya sendiri, "Kenapa sih, kenapa aku lakukan hal nekat itu lagi?". Zuko marah-marah di mobil sambil memukul-mukul kecil setirnya.
Di dalam kamarnya, Mirna menangis sendu sambil menutup kedua telinganya dengan earphone. Ia mendengarkan musik Korea itu lagi. Sang nenek pun datang. Dan ketika melihat neneknya datang, ia langsung memeluknya. Mirna hanya diminta untuk sabar oleh neneknya. Mirna mengangguk menurut.
Setelah sedikit tenang, ia menghapus air matanya. Lalu mematikan musik ponselnya dan melepaskan earphone itu dari lubang di ponselnya. Kemudian izin pada neneknya kalau ia mau mandi. Teman-temannya akan segera datang satu jam lagi.
Bu Eka mengangguk paham sambil tersenyum, dan membalas, "Iya, Sayang! Abis mandi segera sarapan, ya! Biar lebih bertenaga lagi."
Mirna mengangguk. Keduanya saling berpelukan, lalu saat lepas pelukan, Mirna mengambil handuknya dan pergi ke kamar mandi di kamar neneknya.
...***...
Malam harinya, Zuko pulang tepat pukul setengah 12 malam. Tentu ini waktu semua orang sudah tidur. Bu Eka yang membukakan pintu untuk putranya. Begitu masuk, Zuko menanyakan Mirna.
"Putriku udah tidur?"
"Udah. Dia tidur jam 8 malam malah. Kasihan, saking capeknya!" jawab Bu Eka sambil membawakan jaket yang diberikan Zuko. Bu Eka menggantungnya di gantungan jaket yang ada di sebelah kamar Zuko.
"Alhamdulillah, kasus ini bisa dibantu dengan pihak KPK. Jadi pelakunya udah tertangkap," kata Zuko sambil membuka kaus kaki kanannya.
"Gimana bisa?" tanya Bu Eka pendek.
"Pihak KPK mengirim 3 orang Intel mereka. Dan mereka bisa bantu aku dan Ki Albi nyarinya. Kami nyari sampai ke Surajaya. Pelakunya ada di sana. Dan sekarang sudah masuk ke penjara," jawab Zuko panjang-lebar.
Bu Eka sangat senang. Ia pun sudah bisa menduga bahwa putranya pasti bisa melihat pementasan cucunya besok. Tentu Zuko harus lihat putri kebanggaannya itu. Menggantikan almarhumah istrinya.
...°°°...