
Zuko dan pasukan polisi Aki Albi sampai di rumah. Ia pun segera menanyakan bagaimana proses hilangnya Mirna. Bu Eka hanya menceritakan singkat, karena ia tak tahu siapa yang menculik Mirna dan bagaimana mereka membawanya pergi.
"Apa nggak ada saksi mata tetangga sekitar sini yang lihat?" tanya Zuko dengan suara mulai mengeras.
"Tenang, Zuko! Kita selidiki dulu rumah kamu pakai alat-alat kamu," saran Aki Albi.
Zuko menurut. Namun saat akan melakukannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Pemberitahuan ada telepon di sana. Ternyata dari nomor yang tidak dikenal itu lagi. Zuko jadi sangat marah. Di saat genting begini, orang asing itu masih saja menelepon.
"Hallo! Apa mau kamu sekarang, hah?" tanya Zuko kesal.
Orang yang menelepon itu tertawa kecil sejenak, kemudian menjawab, "Saya tahu, anda sedang mencari putri anda, Zuko."
Mendengar itu, Zuko mulai terdiam sejenak. Namun suara balasan untuk perkataan orang asing itu tetap tidak ia lunakkan. Langsung saja ia tanyakan dimana Mirna berada.
Orang asing itu kembali tertawa kecil dulu. Barulah ia menjawab, "Kalau mau putri anda selamat, kabulkan dulu permintaan saya yang ini."
Demi keselamatan Mirna, Zuko menanyakan keinginan orang itu. Orang itu menjawab dengan kalimat yang sudah tak asing lagi bagi siapapun yang kena rampok, copet, atau kemalingan lainnya. Berikan apa yang dia mau, maka dia tak akan membunuh.
"Berikan saya uang anda sebanyak 50 juta rupai. Kalau anda berikan hari ini, putri anda selamat. Kalau tidak, maka putri anda akan saya buat nyawanya melayang saat ini juga."
Zuko terdiam. Ia memang punya uang sebanyak itu, dari hasil jerih payahnya membantu orang lain. Dan akan ia gunakan untuk disumbangkan serta membeli barang yang dibutuhkan atau yang diinginkan juga.
Namun, semua itu tidak ada apa-apanya daripada nyawa Mirna. Apalagi Mirna adalah putri satu-satunya.
"Baik. Saya bawa uang 50 juta itu. Beritahu alamat anda. Dan ingat, jangan apa-apakan putri saya! Tolong, saya benar-benar akan bawa uang itu, lalu tepati janji anda!" pinta Zuko tegas.
"Tenang saja, Zuko! Asal anda bawa uang sebanyak itu, saya jaga putri anda!" balas orang itu.
Kemudian orang asing tersebut memutuskan teleponnya dengan Zuko. Setelah bicara dengan orang itu, Zuko mematung sebentar. Ia berpikir dulu, cara agar Mirna selamat tanpa harus membuat uangnya melayang.
Ia diskusikan dengan Aki Albi dan bantuan Bu Eka. Keduanya menyarankan agar Zuko mengikhlaskan uangnya melayang, daripada nyawa Mirna yang melayang. Lakukan pengorbanan. Biarlah yang selamatnya hanya nyawa Mirna, sedangkan uangnya pergi.
Zuko akhirnya menyetujui. Ia relakan uangnya pergi, asalkan Mirna selamat.
...***...
Singkat cerita, Zuko dan pasukannya sampai di sebuah tempat yang disebut gudang yang terbengkalai. Entah gudang bekas apa itu. Lalu saat mencari-cari dimana Mirna berada, tiba-tiba suara asing pria itu terdengar.
"Akhirnya kamu datang juga, Zuko!
Zuko melirik, ia pun tahu siapa yang menculik Mirna. Mirna ada di pelukan pria itu.
"E...Eman?!" katanya menyebut nama pelaku.
"Kembalikan putriku sekarang!" seru Zuko pada Eman.
Eman tersenyum jahat dan membalas, "Serahkan dulu uangnya, baru ku kembalikan putrimu!"
Sudah naik darah kesal, Zuko melempar koper uangnya. Eman menyuruh anak-anak buahnya mengambil koper itu. Hingga Mirna di kembalikan pada Zuko. Dan dengan sigap, anak-anak buahnya Aki Albi memborgol Eman dan pasukannya.
"Terima uangmu, setelah kau bebas dari penjara! Karena kasus pembunuhan dan selingkuh," kata Aki Albi tegas dan tajam.
Mirna pun dipeluk Zuko dan segera meninggalkan tempat itu. Keduanya pulang ke rumah, sedangkan Aki Albi mengurus Eman dan pasukannya masuk sel penjara.
...***...
Kita langsung ke akhir Ujian Nasional Mirna
Setelah ujian itu, sekolah SMP Mirna meminta anak-anak muridnya yang kelas 3 itu latihan untuk acara kelulusan nanti. Terserah mereka mau buat apa. Entah itu grup band yang meng-cover lagu dari band lain, atau lagu buatan mereka sendiri. Yang mau menyanyi solo juga dipersilahkan oleh kepala sekolah.
Boleh juga mementaskan drama atau tarian. Untuk tarian, diperbolehkan juga menggunakan musik-musik pop atau rock Javabirna maupun mancanegara. Karena di Javabirna banyak yang menyukai K-Pop, otomatis banyak yang mementaskan tarian K-Pop, sesuai dengan video klip lagu Korea itu. Kebanyakan perempuan.
Mirna yang juga menyukai lagu-lagu Korea lebih memilih pentas tari K-Pop daripada drama. Kepala sekolah memberikan aturan bahwa jika grup mau mementaskan tari, maka satu grup diharuskan 5 sampai 7 orang dari setiap kelas.
Mirna membuat grup di sekolahnya itu yang beranggotakan tujuh orang. Dan mereka segera melakukan perundingan untuk memilih lagu Korea apa yang akan dipentaskan nanti.
"Lagu Super Junior yang Mr. Simple aja, Mir! Kamu juga hafal 'kan gerak tarinya?" tanya salah satu temannya.
"Jangan, ah! Ada yang ekstrim gerak tarinya. Itu 'kan yang paling keren. Kalau nggak geraknya pass pentas nanti, nggak seru dong! Nah, aku nggak bisa breakdance-nya itu. Takut patah kaki!" jawab Mirna menolak. "Jangan yang ada ekstrim gerakan breakdance-nya kalau bisa. Jadi tetap keren."
"Kalau gitu apa? Super Junior yang lagu Sorry-Sorry gimana? 'Kan nggak banyak yang ekstrim-ekstrim gerak tarinya," usul salah satu temannya yang lain.
"Nggak, ah! Itu mah bikin capek gerak tarinya. Walau aku suka juga gerak tari sama lagunya," tolak salah satu temannya.
"Terus lagu apa? BTS? Mirna 'kan nggak suka boyband ini."
"Iya. Kalau girlband, nggak banyak breakdance. Jadi kurang keren."
Suasana sunyi seketika. Tapi tak lama kemudian, Mirna dapat ide. Ia pun berkata, "Gimana kalau Infinite aja? Yang Be Mine itu? Geraknya keren-keren, tapi nggak terlalu ekstrim." (untuk penyuka K-Pop dulu, pasti tahu boyband yang satu ini selain Super Junior)
Teman-teman Mirna menyetujui. Mereka juga suka lagu yang Mirna sebutkan barusan. Segeralah latihan dimulai sambil melihat video klip lagunya di laptop Mirna. Mereka berusaha mengikuti gerak-gerik tari boyband Korea itu dengan saksama.
Walau pada akhirnya melelahkan dan sedikit menyakiti tulang tangan, leher dan kedua kaki mereka, namun mereka jalani dengan senang hati sambil bercanda tawa dan terus berusaha.
Zuko yang melihat dari luar ruang tamu belakang, hanya ikut tersenyum melihat putrinya dan teman-temannya itu latihan menari. Terutama saat melihat Mirna sempat jatuh, ia hanya tertawa kecil. Mirna dibangunkan temannya dan kembali latihan.