Dek Mirna

Dek Mirna
Chapter XXX : The Power of Friendship


Bu Eka tinggal di rumahnya Rizki untuk sementara waktu, selama Mirna masih di rawat di rumah sakit. Mirna baru boleh pulang besok. Jadi Mirna hanya menginap satu malam saja.


Bu Eka dijaga oleh istrinya Rizki, Sella. Sedangkan Rizki yang akan menemani Mirna di rumah sakit. Di sini, Mirna hanya diizinkan untuk ke kamar mandi kalau mau keluar kamar rawat inap. Tidak boleh ke daerah luar area rumah sakit.


Mirna bicara dengan neneknya lewat panggilan suara di ponselnya Rizki. Sekarang neneknya sudah baikan. Dan bisa menerima Mirna yang kini jadi pahlawan buta. Neneknya memberi semangat untuk tetap bertugas, biarpun kekurangan dirinya bertambah.


"Kapan Mirna bisa lihat lagi, Nek? Kata dokter 'kan, Mirna bisa lihat lagi kalau ada yang mendonorkan matanya buat Mirna," tanya Mirna polos.


Bu Eka terdiam. Senyumnya hilang perlahan mendengar kalimat tanya itu. Bu Eka terdiam sejenak. Hingga ia menjawab, "Nanti juga bakal ada, Sayang. Tenang dan sabar, ya! Pasti akan ada yang mau buat kamu."


Mirna tak mau membantah neneknya. Ia mengiyakan jawaban neneknya. Kini, ia harus makan malam karena makanan dari rumah sakit sudah datang. Rizki harus menyuapinya, jadi obrolan telepon itu harus diakhiri.


Mereka pun saling menutup telepon setelah saling ucapkan salam. Mirna pun makan dengan bantuan kata-katanya Rizki.


"Terus ke arah kanan kepalanya!"


Jadi Mirna terus mengarahkan kepalanya ke arah kanan ranjangnya. Sekarang tinggal Mirna dan Rizki. Tapi mereka tidurnya tak akan berdampingan tentunya. Rizki akan tidur di sofa panjang yang sudah di sediakan rumah sakit.


Saat masih waktu makan, Mirna bertanya polos lagi. Tapi kepada Rizki.


"Mas Riz! Menurut Mas, siapa ya, yang akan donorkan matanya buat aku?"


Rizki menjawab sambil menyuapkan sesendok makan malam itu pada Mirna, "Nggak tahu, tuh. Lihat aja nanti!"


"Mungkin, pacar aku kali, ya?"


"Emang kamu punya pacar?"


Mirna tertawa kecil. Tiba-tiba ia merasa malu-malu. Rizki menduga Mirna punya kekasih.


"Kenapa, punya ya?" tanya Rizki penasaran dengan nada menggoda.


Mirna tertawa cekikikan dan menjawab, "Nggak."


"Yey, kirain punya."


"Haha, Mas Riz kena prank!"


"Itu bukan prank, Dek Mirna. Itu namanya bercanda boongan."


"Itu prank!"


"Bukan!"


"Iya, ikh!"


"Bukan, ikh!"


Sambil makan, keduanya bercanda tawa bersama. Dalam hati kecilnya Rizki, ia merasa sangat bersyukur karena Mirna akhirnya bisa bahagia dan ceria lagi. Padahal, tadi siang ia menjerit marah. Tak bisa menerima keadaannya yang baru sekarang.


Sampai akhirnya ia meneteskan air mata. Agar tidak diraba Mirna wajahnya yang mulai basah karena air mata, Rizki segera menghapus air matanya dan meminta Mirna untuk lanjut makan malamnya sampai habis.


...***...


4 hari kemudian...


Mirna semakin jadi korban bully di sekolah. Ada yang sampai memintanya untuk pindah sekolah ke sekolah SLB, sekolah khusus anak-anak yang tidak umum.


Namun, Shania selalu membelanya mati-matian. Walau harus ikut jadi korban bully juga. Ia sampai dibilang tertular penyakit ketidak warasannya oleh Mirna. Hingga ia bela mati-matian gadis itu, seperti orang yang nekad membela negaranya dari penjajah.


Salah satu teman laki-lakinya Mirna, Banyu, sampai merasa iba melihat Mirna dan Shania diberlakukan seperti itu. Sampai ia lakukan hal di hari ini untuk membelanya.


Saat istirahat, Mirna tengah bercanda tawa dengan Shania. Mereka berada di tempat duduk khusus para murid makan jajanan luar sekolah.


Ada Hanah dan dua teman perempuannya yang juga suka ikut membully Mirna, yang tidak diketahui namanya. Mereka berbisik-bisik merencanakan sesuatu. Setelah dinyatakan setuju, mereka siap melakukannya.


Salah satu teman Hanah itu pergi ke kamar mandi sekolah. Lalu mengambil segayung air keran toilet sekolah itu. Setelah keluar dari toilet, ia kembali ke tempat persembunyiannya di semak depan teras ruang guru. Dan Hanah mencampuri sesuatu dengan air itu.


Kemudian setelahnya...


Air yang bercampur dengan tanah dan sampah botol plastik serta batu kerikil pun dilemparkannya ke arah Mirna. Satu sekolah yang melihatnya terkejut. Dilihat oleh siapapun. Dan itu berhasil juga, mendarat di baju seragam, rok dan jilbabnya Mirna.


Shania juga ikut kaget. Ketika disentuh olehnya, itu memang air yang sudah dicampur tanah, batu kerikil dan sampah. Ia lihat sebagian anak-anak sekolah mentertawakan Mirna, dan sebagiannya lagi merasa iba.


"Ini tanah basah sama sampah botol minuman," jawab Shania dengan rasa kesal.


Shania segera mencari sumbernya. Terlihatlah olehnya Hanah dan dua orang temannya. Dengan marah, Shania melempar tanah basah dan sampah botol plastik itu ke tanah. Lalu berjalan tegas mendekati Hanah dan dua temannya.


"Heh! Maksud loe apaan lempar sampah sama tanah basah ke Mirna? Dia salah apa sama loe?" tanya Shania keras.


Hanah dan dua temannya tertawa cekikikan, kemudian menjawab, "Shania! Dia itu udah sinting, tambah sekarang buta lagi. Harusnya dia sekolah di SLB, bukan sekolah umum kayak gini."


"Bener, ini tuh sekolah anak-anak normal. Bukan yang nggak normal kayak dia," tambah temannya Hanah sambil menunjuk pada Mirna.


Shania sangat kesal mendengar kata-kata itu. Lalu ia berniat merebut gayung yang berisi air bercampur tanah dan sampah itu. Tapi tidak berhasil. Hanah dan teman-temannya malah pergi sambil membawa gayung itu. Temannya Hanah yang membawanya, membuang isi gayung itu. Barulah ia pergi bersama Hanah dan satu temannya lagi sambil tertawa.


Satu sekolah kini melihat ke arah Mirna. Shania pun kembali pada Mirna dan memintanya untuk ke rumahnya.


"Baju, rok dan jilbab kamu di ganti sama yang punya aku di rumah! Aku masih punya satu lagi kok. Kalau yang ini dicuci dulu di rumahku, terus dijemur," tambah Shania ikhlas.


"Nggak usah, di rumahku aja. Aku nggak mau ngerepotin mamamu," tolak Mirna halus.


"Nggak, Mir. Jangan bikin nenekmu sedih! Rumah kamu 'kan cukup jauh dari sini. Kalau rumahku deket. Mau, ya? Aku kasihan sama kamu."


Mirna tak sampai hati menolak. Ia pun menerima tawaran Shania. Keduanya segera menuju ke rumah Shania. Dengan jalan yang dituntun oleh sahabatnya, Mirna berjalan loyo. Ia malu kalau saja ditertawakan dengan baju dan rok kotor seperti itu.


Memang benar saja, di tengah jalan banyak yang mentertawakan dirinya. Jangankan kakak kelas, adik kelas pun ada yang ikut-ikutan menertawakan Mirna. Shania hanya bisa memberikan arahan sedikit pada Mirna.


"Jalan terus, jangan didengerin!"


Mirna menuruti apa kata Shania. Mereka berjalan ke arah trotoar, dan memasuki sebuah perumahan. Disinilah tempat rumahnya Shania berada.


Begitu sampai di rumah, Shania meminta Mirna mengganti seragamnya dengan seragam Shania. Jilbabnya juga diganti. Kebetulan ada pembantu di rumah Shania. Gadis itu meminta pembantunya untuk mencuci dan menjemur langsung seragam, rok dan jilbab Mirna.


"Oh iya, sekalian setrika juga abis dijemur, ya!" tambah pintanya Shania tegas.


"Iya, Non Shania!" balas pembantunya itu sopan.


Shania kembali menuntun Mirna jalan ke sekolah, setelah mengganti baju, rok dan jilbabnya.


"Sorry ya, Shan! Aku jadi ngerepotin kamu," di tengah perjalanan, Mirna merasa tidak enak hati.


"Nggak kok, Mir. Kita 'kan best friend, jadi udah sepantasnya aku bantu kamu. Kalau cuciannya udah kering dan disetrika bibi aku, kamu bisa ganti pakai baju kamu lagi. Jadi, nenek kamu 'kan nggak akan tahu apa yang terjadi," balas Shania halus.


Mirna benar-benar bersyukur mempunyai teman seperti Shania. Kebetulan sekali ibunya Shania sedang tak ada di rumah karena pergi bekerja. Shania memang mempunyai orang tua yang bekerja dua-duanya.


Sesampainya di sekolah, terlihat anak-anak sekolah kini tertawa kembali. Sepertinya, mereka menertawakan sesuatu. Begitu dilihat, ternyata malah menertawakan Hanah dan dua temannya. Mereka sedang memulung sampah di area sekolah.


Terlihat ada adik kelas mereka yang dengan santainya membuang botol minuman plastik ke tanah. Dan ketika Hanah datang untuk memungutnya, adik kelas itu tertawa.


"Lho, kok mereka mungut sampah? Apa mereka dihukum?" tanya Shania mengerutkan kening.


"Mungut sampah? Siapa?" tanya Mirna.


"Hanah sama dua temennya. Mungkin guru udah tahu deh perihal kejadian tadi."


"Siapa yang laporin? Kita 'kan belum sempat melapor."


Tiba-tiba suara seorang laki-laki di belakang mereka terdengar, "Aku yang melapor."


Begitu dilihat Shania, ternyata orang itu adalah Banyu. Cowok itu tersenyum pada keduanya, walau Mirna tidak melihatnya.


"Jadi, Banyu yang..." Mirna menggantung kata-katanya.


"Iya, aku orangnya. Aku lapor ke guru tadi. Mereka harus mungut sampah sekolah sampai waktu istirahat berakhir. Kalau nggak mungut sampah, mereka akan dihukum berdiri di tengah lapangan," balas Banyu menyambung.


Shania merasa senang. Demikian juga Mirna, walau ia merasa kasihan juga pada Hanah. Bahkan ia sampai mau memberikan air minumnya untuk Hanah, tapi dilarang keras oleh Banyu dan Shania.


Mirna menuruti apa kata dua temannya. Walau tak bisa melihat apa yang Hanah lakukan, tapi tetap saja ia ingin membantu Hanah.


...Tak baik balas dendam....


...°°°...