
Awal mula Mirna mulai kehilangan kedua orang tuanya dimulai dari sini.
Pertama ia kehilangan ibunya karena kecelakaan tragis. Saat itu, Mirna memiliki dua mobil, yang satunya mobil milik ibunya. Siti memiliki mobil sendiri sejak ia dapat pekerjaan tak hanya sebagai ibu rumah tangga biasa atau membantu Zuko dalam menangani suatu kasus. Tapi juga pekerjaan sebagai seorang dosen di suatu universitas ternama di Javabirna bagian timur.
Walaupun banyak yang tahu Siti adalah seorang istri detektif ternama se-Javabirna yang tenarnya mengalahkan artis papan atas, namun para mahasiswa/siswi menghormatinya sebagaimana seorang dosen atau guru pada umumnya. Mereka ucapkan salam dan mengobrol mengenai mata kuliah biasa, bukan soal kasus yang pernah ditangani Siti saat membantu Zuko.
Siti mendapat pekerjaan ini sudah satu pekan, tak lama setelah ia berbaikan lagi dengan Zuko. Siti amat sangat nyaman dengan pekerjaannya di luar rumah. Tapi tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga tak pernah ia lupakan. Siti adalah menantu yang baik dan sholehah pada Bu Eka. Jika pulang kerja, Siti tak pernah menyuruh Bu Eka mengambilnya segelas air hangat untuk melepas rasa lelahnya. Ia selalu mengambil sendiri.
Di hari Minggu, Siti selalu membantu Bu Eka memasak, membersihkan rumah, siram tanaman, dan pekerjaan rumah lainnya. Jika putrinya sibuk dengan tugas sekolahnya, Siti-lah yang mengambil alih. Namun jika Mirna tidak sibuk, ia juga bantu ibu dan neneknya merapikan rumah, walau hanya sekedar merapikan kamarnya dan mencuci piring di dapur. Karena gadis itu masih kecil. Belum waktunya bisa memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya.
Sampai suatu hari, Siti berangkat ke kampus untuk mengajar. Ia pergi pagi-pagi sekali karena ada kelas pagi. Ia mengajar dua waktu hari itu, yaitu pagi dan siang. Barulah ia akan pulang sore nanti setelah ashar.
Zuko tengah sibuk menyelidiki suatu kasus adanya narapidana yang kabur dari penjara. Entah apa penyebab orang itu jadi napi penjara, Zuko tidak memberitahu. Yang jelas, ia adalah napi tapi malah kabur, setelah masuk penjara selama 3 hari 3 malam. Zuko juga pergi pagi-pagi. Hingga akhirnya Mirna ke sekolah memakai angkot.
Di tengah perjalanan saat akan melintasi rel kereta, tiba-tiba sirene peringatan bahwa kereta akan lewat berbunyi. Palang tertutup otomatis. Siti menghentikan mobilnya. Walau kereta masih cukup lama untuk lewat, namun sirene peringatan sudah berbunyi, agar tidak ada yang tewas terlindas kereta.
Siti sempat menghela nafas. Tapi ia mencoba untuk bersabar. Palang penutup otomatis sudah tertutup rapat. Siti melihat kanan-kiri dan ke depan, untuk memastikan tidak ada kendaraan yang nakal nekad melewati rel kereta itu, hanya karena kereta masih lama lewatnya.
Namun dari kejauhan, Siti melihat ada seorang pria yang mau menyebrangi rel kereta itu. Tak lama, banyak yang melihat pria itu. Jalannya gontai lesu menuju rel. Ia nampaknya seperti...sengaja.
Ya. Ia kelihatannya sengaja berjalan seperti itu menuju rel kereta supaya terlindas kereta. Bisa dibilang, pria itu mau bunuh diri dengan cara nekat dirinya hancur dilindas kereta.
Tak mau melihatnya dan berusaha mencegah, Siti keluar mobil lalu menjerit, "HEI! SELAMATKAN DIRIMUUU!!!"
Orang-orang juga mulai ikut mencegah pria itu bunuh diri. Semua jadi panik. Pria itupun berhenti berjalan di tengah rel. Tepat sekali di tengah-tengah relnya. Kereta sebentar lagi datang. Suaranya sudah terdengar memberi peringatan agar orang-orang tidak berjalan di rel itu.
Petugas yang menjaga palang pintu kereta otomatis itu juga sudah memberikan peringatan dengan ucapan perintah dan suara peluitnya. Namun terlambat. Semua sudah terjadi. Kejadian naas itu tak bisa terhindar lagi.
Sebagian warga yang melihat menjerit ketakutan, melihat badan pria itu hancur berkeping-keping setelah dilindas oleh kereta. Termasuk juga Siti. Ia menutup kedua matanya. Buru-buru ia masuk lagi ke mobilnya.
Palang otomatis sudah terbuka kembali. Semua kendaraan segera meninggalkan tempat kejadian tragis itu terjadi. Siti juga segera menginjak pedal gas mobilnya secepat mungkin. Sungguh amat mengerikan jika ia ingat-ingat kejadian itu.
Dari arah yang berlawanan, sebuah truk tangki semen berjalan dengan santainya. Namun, ternyata itu masih bisa juga membuat sebuah mobil yang cukup besar nanti pecah kacanya. Bukan hanya itu. Akibat lainnya bisa menewaskan seorang wanita yang menjadi supir di depannya. Bahkan juga bukan tidak mungkin membuat mobilnya tidak meledak dan terbakar habis. Mobilnya pasti hancur lebur.
Dugaan itupun terjadi. Klakson truk itu sudah dibuat percuma. Tabrakan ganas itu ternyata hanya membuat mobil Siti ringsek, tidak sampai meledak. Namun, itu membuat nyawanya Siti jadi melayang. Lukanya amat parah. Darah merah segarnya mengalir deras seperti sungai.
Zuko dengan pasukan polisinya kebetulan melintasi tempat kejadian. Heran dengan keramaian tempat tersebut, Zuko menghentikan mobilnya dan turun menuju keramaian tersebut. Tangisnya pecah tak terbendung lagi, begitu melihat siapa yang mengalami kecelakaan naas itu.
"Ya Allah, SITIII!!!" jeritnya ke jenazah sang istri tercinta.
Jasad Siti yang sudah tak bernyawa itu dipeluk erat dan dikecup oleh Zuko. Pria itu memeluk dengan tangisan histeris. Lalu barulah ia menyebut kalimat istirja'.
Aki Albi dan anak-anak buahnya yang ikut melihat turut bersedih. Walau terlihat mengerikan, namun ini amat sangat menyentuh hati. Betapa besar cintanya Zuko pada istrinya. Hingga menghasilkan putri yang sholehah seperti Mirna.
Aki Albi jongkok perlahan. Ia menenangkan detektif yang dibantunya itu. Menasehati agar Zuko mengikhlaskan kepergian istrinya.
...***...
Saat pemakaman Siti, Mirna tak bisa menahan air matanya. Ia dipeluk sang ayah sambil membawa pigura yang cukup besar. Pigura foto ibunya yang memakai jilbab dan tengah tersenyum indah.
Mirna seperti belum bisa menerima semua ini. Ia menangis sambil minta pelukan ayahnya. Seperti tak tega melihat ibunya yang sudah dibungkus kain kafan putih bersih itu dikebumikan. Tanah liat untuk bantalan sudah disediakan. Tali kainnya dibuka, lalu papan penutup diturunkan dan disimpan berdiri miring.
Pengurus jenazah itu keluar dari liang lahat. Dan mengubur jenazah Siti. Setelah benar-benar tertutup, batu nisan ditancapkan di bagian kepala dan kakinya. Do'a bersama di mulai. Setelah do'a, berikutnya penaburan bunga oleh keluarganya. Para pengiring pun pulang. Yang tersisa hanya Zuko, Bu Eka dan Mirna.
Zuko memeluk nisan yang terdapat identitasnya Siti. Ia peluk sejenak baru nisan itu, dan pundaknya ditepuk oleh sang ibu. Bu Eka mengajaknya untuk pulang. Akhirnya Zuko mau pulang. Ia terima kepergian istrinya.
Kini, ia menjadi duda dengan satu anak perempuan dan ibu kandung.
...°°°...