Dek Mirna

Dek Mirna
Episode XXXIX : Mirna vs Yumne (last part: Final Battle)


Sepulang sekolah, Mirna dan Shania keluar bersamaan. Hingga tiba-tiba ada seseorang yang memanggil keduanya. Tak terlalu jelas siapa, yang jelas ia memanggil karena ada keperluan dengan Mirna. Bahkan otak Shania mendeteksi pria ini akan memberikan suatu petunjuk. Hanya saja, tak dapat terdeteksi siapa orang ini. Tapi Shania bilang, dia tidak asing dikenali.


Keduanya mendekati pria itu. Saat dilihat, ternyata pria itu adalah...


...Indra!...


Benar, dia sungguhan Indra. Anak buahnya Yumne. Namun, kelihatannya dia malah seperti berbuat baik hari ini. Biarpun begitu, tapi Mirna tetap ada sedikit curiga padanya.


"Ada perlu apa anda kemari, minta bantuan saya untuk gabung sama tim Yumne?" tanya Mirna dengan sedikit sinis.


"Bukan. Saya dengan ada ketegasan mau bilang sesuatu," jawab Indra sedikit keras.


"Bilang apa? Segera aja, to the point!"


"Begini. Saya akan masuk tim-mu. Saya akan bantu kamu sebisa mungkin. Karena saya sudah lepas dari Yumne."


Shania bertanya, "Tunggu! Lepas dari Yumne?"


"Iya. Kami sempat berselisih kemarin malam. Ada pendapat saya yang dia tolak secara mentah-mentah. Dia tolak keras pendapat saya untuk mengalahkan kalian hari ini. Jadi, saya akan bantu kalian mulai hari ini. Saya beritahukan juga, dimana Yumne mau melawan kalian," jawab Indra panjang-lebar.


"Mau lawan dimana? Beritahu dulu kami pertempurannya!"


"Dekat lapangan futsal di sebelah apartemen tempat tinggalnya dengan Johana."


Mirna dan Shania saling beradu pandang. Walaupun Shania sudah mulai percaya, namun ia masih butuh kepastian. Kemudian ia menyentuh menggenggam telapak tangan kanannya Indra. Tangannya hangat dan diam, tak ada gemetar.


"Dia jujur, Mir! Sungguh dia mau bantu kita," kata Shania sambil melepaskan genggamannya.


Jika Shania bilang begitu, berarti memang Indra tak berbohong. Ia pun percaya dan mengizinkan Indra bergabung dengannya, Shania dan Rizki nanti. Keduanya berterima kasih pada Indra.


Indra membalas dengan senyuman dan anggukkan. Ia pun pamit dan janji akan datang menjemput Mirna bersama Shania. Indra meminta Shania untuk pergi dengannya pakai mobil Indra sendiri. Karena Rizki pasti pakai mobil polisinya, dan datang bersama anak buahnya.


Pria itupun pamit pergi menuju mobilnya. Setelah Indra pergi, Mirna terdiam sejenak. Shania tak mungkin berbohong. Sejak matanya jadi buta, gadis cantik sahabat sejatinya itu jadi sakti otaknya. Ia bisa mengetahui orang yang jujur dan berbohong.


"Mirna!" seru Shania sedikit menggoyahkan Mirna yang mulai melamun itu. Karena masih ada rasa sedikit tidak percayanya pada Indra yang benar-benar berubah.


"Iya, ada apa?" tanya Mirna.


"Kau masih tak percaya Indra berubah?"


Mirna terdiam beberapa saat, lalu menjawab pendek, "Sedikit."


Shania menepuk halus pundak Mirna, lalu berkata, "Percayalah padaku! Dia sungguh-sungguh sudah berubah, kayak si Febri."


Mirna memandang sahabatnya, lalu mengangguk sambil tersenyum. Dan mereka pun lanjutkan perjalanan keluar gang tempat sekolah mereka berada.


...***...


Di rumah, Mirna menyiapkan sedikit tenaga untuk melawan Yumne hari ini. Ia sudah tahu lokasi pertempuran itu, dan sekarang saatnya mencari taktik yang super besar untuk mengalahkan pria botak berjanggut itu. Musisi yang mengkhianati istrinya yang juga menjadi artis musisi seperti dirinya.


Saat beristirahat, Mirna meminum air putih sambil duduk. Ia butuh waktu duduk selama beberapa saat. Sambil beristirahat, ia melihat dulu ponselnya. Ada pesan masuk dari Shania.


[Aku sudah memberitahu Mas Rizki. Dia sudah percaya kalau Indra sudah berubah. Dan setuju untuk ikut dengan 10 anak buahnya nanti malam. Katanya, dia setuju kalau kamu dan aku biar satu mobil saja dengan Indra.]


Mirna menyimpan air putihnya di gelasnya dan membalas.


[Katakan padanya, makasih. Aku juga berterima kasih padamu, sahabatku. Sekarang kumpulkan tenaga dan kekuatan untuk lumpuhkan si botak munafik pengkhianat itu.]


Mirna kembali meminum airnya. Dan melihat ada lagi pesan masuk. Balasan pendek dari Shania.


[Siap 86, Komandan!]


Mirna hanya tersenyum kecil melihat balasan Shania seperti itu. Lalu ia minum seteguk lagi air putihnya, dan kembali berdiri. Kembali lagi berlatih sedikit selama lima menit, dan sekarang saatnya mengumpulkan senjata.


Waktu makan siang, Bu Eka melihat Mirna yang amat bersemangat dan lahap sekali makannya. Bu Eka sudah tahu, apa yang membuat cucunya itu seperti ini. Bahkan tidak biasanya, Mirna sholat tepat waktu sekali hari ini. Saat adzan Dzuhur baru dimulai, gadis itu sudah berlari ke kamar mandi untuk berwudhu tadi.


Meskipun masih ada rasa khawatir cucunya kalah lagi, bahkan mungkin hari ini bisa saja pertempuran itu merenggut nyawanya, namun ia tetap berdo'a agar Mirna dapat kemenangan dan selalu dilindungi. Ia harus yakin tinggi, kalau cucunya pasti dapat lagi kemenangan. Walaupun dapat juga luka di beberapa bagian di tubuh dan wajahnya.


...***...


Malam harinya...


Mirna sedang bersiap memakai kerudung. Terlihat pantulan dirinya di cermin besar meja riasnya. Sudah terlihat cantik baginya, padahal dia mau pergi berperang. Bukan ke pesta yang meriah.


Bu Eka memasuki kamarnya. Ia tersenyum melihat Mirna yang menikmati dulu kecantikan dirinya di cermin. Lalu mengetuk kecil pintunya.


Mirna menoleh ke arah sang nenek yang masih kuat bekerja keras di rumah itu. Dan sang nenek menunjuk ke arah luar kamarnya. Mirna mengerti maksudnya. Orang yang menjemput sudah datang. Gadis itu mengangguk dan segera keluar kamar.


Terlihat ada Shania, Rizki dan Indra di ruang tamu. Benar-benar Indra sudah bertaubat. Segera saja mereka bertiga berdiri dan pamit pada Bu Eka bersamaan dengan Mirna.


Bu Eka mengangguk tersenyum dan menerima jabat tangan dari rombongan Mirna yang lebih muda darinya itu. Sebelum semuanya keluar, Bu Eka berpesan. Khususnya untuk Mirna.


"Jangan terlalu banyak pakai kekerasan, ya! Lakukan sebisa mungkin. Semoga kalian berhasil, dan berhati-hatilah! Allah selalu melindungi kalian."


Mirna membalas dengan pelukan erat dan sedikit tangis. Lalu gadis itu membalas, "Amin, ya Allah! Makasih banyak ya, Nek!"


"Sama-sama. Good luck, ya! Nenek ingin kalian bahagia dunia-akhirat!" balas sang nenek dengan pelukan juga.


Mirna pun melepas pelan pelukannya. Bu Eka pun mengecup kening cucunya. Dan ia lepaskan kepergiannya ke medan pertempuran. Untuk bisa menangkap seorang tersangka yang selama ini selalu kabur dari kejaran polisi di negeri ini, karena kasus perselingkuhan dan KDRT. Serta jadi pecandu narkoba.


Mirna pun keluar rumah dan menaiki mobilnya Indra bersama Shania. Rizki juga menaiki mobil polisinya, diikuti anak buahnya yang lain. Sirine polisinya pun dinyalakan, bersamaan dengan mesin mobil.


Bu Eka menjawab salam mereka, yang mengucapkan salam dari dalam mobil. Lalu melambaikan tangannya dengan halus pada mobil yang membawa pergi jauh cucunya. Di teras, Bu Eka kembali berdo'a, agar cucunya dan tim-nya mendapatkan kemenangan lagi. Dan musuhnya bisa segera ditangkap polisi.


Dalam mobil, Mirna sedikit gelisah. Bagaimana jika ia tidak menang? Gadis itu memandang keluar jendela mobil. Ia menghilangkan kegelisahan yang mulai menyerbu hati kecilnya. Jika ia kalah untuk yang kedua kalinya sekarang, bisa-bisa ia tewas hari ini juga. Tak hanya dirinya. Sahabat dan Rizki serta beberapa anak buahnya juga bisa ikut merenggang nyawa.


Shania menatap sahabatnya. Ia mengerti dan tahu kenapa Mirna seperti ini. Ia pun merangkul Mirna, dan mengelus pundaknya itu. Shania meyakinkan sahabatnya, kalau mereka pasti akan menang. Mereka yang Shania maksud adalah tim-nya Mirna.


Mirna mengangguk pelan dengan senyuman kecil. Ia harus yakin kalau tim-nya pasti akan menang. Kemarin saja lawan Yumne yang kesekian kalinya, bisa dapat kemenangan kembali. Meskipun sampai babak belur.


...***...


Akhirnya, sampai juga di lapangan tempat pertempuran. Namun begitu sampai di sana, belum ada siapapun. Shania pun mendeteksi apakah ini ada jebakan atau tidak. Dan setelah terdeteksi, otaknya tidak memberitahukan apa-apa. Artinya tidak ada jebakan. Yumne sungguh serius mau bertempur.


Orang yang ditunggu-tunggu datang juga. Ia datang dengan tim-nya menggunakan mobil. Ternyata mereka habis dari luar apartemen. Begitu melihat Mirna sudah datang, Yumne dan tim-nya tertawa bangga. Bahkan saat melihat Indra, mereka jadi meremehkannya.


"Heh, selamat Bung! Kau dapat tim baru!" tambah Alex juga dengan bertepuk tangan.


Mirna semakin emosi. Ia pun membalas, "Tidak usah banyak tertawa. Kami ke sini bukan untuk pertunjukkan komedi, kau ingat?"


"Wah, Yumne! Nampaknya, ada yang sudah mau meledak amarahnya," balas Johana.


"Bagus! Aku suka itu."


Semuanya mempersiapkan senjata. Begitu juga dengan tim-nya Yumne. Mereka siapkan senjata yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Seperti Alex dan Jodi yang mempersiapkan rantai besi mereka sendiri. Sementara Yumne menyiapkan pisau dan pistol.


Dan pertempuran pun dimulai. Baru saja dimulai, sudah banyak mengundang para penghuni apartemen untuk datang melihat perang itu. Banyak yang sudah tahu Mirna. Mereka juga tahu Rizki dan Shania. Jadi banyak yang lebih mendukung tim-nya Mirna.


Rizki dengan lincahnya menghindar dan mematahkan besi-besi rantainya Alex dan Jodi, dengan bantuan Indra. Mereka patahkan dengan tembakan pistol masing-masing. Sementara Mirna dibantu Shania untuk melawan Yumne. Mereka menghindar, saling tonjok dengan karatenya masing-masing dan lempar dengan belati lempar.


Yumne juga melemparkan pisaunya sendiri. Namun tidak berhasil karena Mirna dan Shania berhasil menghindar. Menjelang pertempuran terakhir ini, Shania banyak belajar karate. Walau hanya sebentar, namun berhasil juga ia gunakan untuk membantu Mirna.


Sampai akhirnya, kaki kanan Mirna terjerat rantai besi Alex ketika gadis itu terbang ke atas. Mirna pun jatuh dan mulai terluka. Rizki dan Shania jadi panik. Tapi Indra dengan sigap menolong gadis itu bangkit lagi.


Mirna terbangun, dan membersihkan darah yang mulai mengalir sedikit dari mulutnya. Ia bersihkan ke tanah dengan tangannya dan berterima kasih pada Indra yang membantunya. Kemudian maju kembali bersama Indra dan yang lainnya.


Tapi, Alex malah kembali menjerat kakinya Mirna. Kali ini, kedua kakinya Mirna yang terjerat, hingga gadis itu kembali jatuh. Kedua kakinya jadi sama-sama terluka. Darah kembali mengalir dari bibirnya.


Namun, sekarang wajah dan kedua lutut kakinya yang terluka. Bahkan lebih mengalir lagi darahnya. Pertempuran berhenti sementara. Rizki, Shania dan Indra mendekati Mirna. Gadis itu semakin melemah.


Luka biru di wajah juga bermunculan. Keduanya tangannya pun ikut terluka sampai berdarah. Akan tetapi, itu tidak meluluhkan semangat Mirna untuk mengalahkan Yumne.


"Sebaiknya kamu jangan ikut! Biarkan kami yang hadapi!" kata Rizki memerintah.


"Nggak. Aku...harus...ikut...hadapi...dia. Dia...sudah sangat... menyakiti...wanita," balas Mirna terbata-bata dengan suara lirih. Tak kuasa menahan rintihan sakit luka-luka di tubuhnya hingga ke wajah.


"Hebat kamu! Sungguh Wondar Woman yang sangat nyata," kata Johana kemudian bertepuk tangan juga.


Shania sudah semakin marah. Ia pun berniat membunuh Yumne dan tim-nya. Lalu mulai berlari sambil membawa pisaunya Mirna. Akan tetapi, larinya terhenti saat Alex mengarahkan pistol padanya.


"Kamu melawan kami dengan senjata sahabatmu, ku tembak mati sekarang juga!"


"Silahkan! Aku tidak takut," balas Shania tegas.


Mirna yang sudah menjadi lemah tak berdaya berkata, "Jangan Shania! Biar... aku yang mati!"


"Tidak. Aku saja yang mati! Kalau kamu yang mati, negeri ini tak akan pernah selamat."


"Jangan senekat itu, Shania! Kita obati dulu Mirna. Ini tugasnya denganku!" Rizki ikut melarang.


"Kalian yang obati Mirna. Biar aku yang atasi pria pengkhianat dan penindas perempuan ini!"


Semua terdiam. Tak ada lagi yang mampu melarang Shania. Akan tetapi, tiba-tiba ada sesuatu yang terbang nyaris melukai keningnya Yumne. Bukan, bukan belati lempar Mirna. Ia tertancap di dinding apartemen. Ketika dilihat, itu adalah...


...Pisau🔪!...


Semua melihat siapa yang melemparnya. Itu adalah...


"Mer...Mersi!" seru Yumne pada seorang pria. Ia bernama Mersi.


"Tuan Mersi? Benarkah?" tanya Mirna tak percaya. Ia juga menoleh dan matanya berbinar-binar tak percaya.


Itu adalah Mersi. Lebih tepatnya Irwanta Mersi. Mirna kenal sekali dengannya. Dia adalah seorang CEO terkenal sejak detektif di Javabirna masih dipegang ayahnya. Dia CEO yang amat akrab dengan almarhum ayahnya. CEO ini juga pernah minta bantuan ayahnya, untuk mencarikan kekasihnya yang sudah lama hilang. Saking sulitnya dicari, Zuko sampai tidak pulang ke rumah selama 2 minggu.


Sampai akhirnya di temukan sering bersembunyi dengan selingkuhannya. Mersi pun memutuskan hubungannya dengan pacarnya yang akan ia nikahi 1 bulan lagi tersebut. Kejadian ini terjadi saat Siti masih ada. Dan Mirna masih duduk di bangku SD kelas 3 atau 4.


Mersi datang dengan wajah marah. Wajahnya penuh dipenuhi amarah, bahkan seperti mau meledak. Lebih besar dari Mirna dan Shania. Mirna masih tak percaya atas kedatangan CEO yang sudah sangat terkenal seperti artis papan atas itu. Bahkan di era ayahnya, Mersi satu-satunya CEO yang sering diburu wartawan TV. Namun, ia tak pernah terlihat lagi. Ia menghilang begitu saja bak di telan bumi.


Yang membuat Yumne lebih terkejut lagi, Mersi tidak sendiri. Ia datang bersama 3 orang yang menyusul di belakangnya. Satu perempuan dan dua laki-laki remaja. Begitu dilihat siapa perempuan itu, itu adalah Anti. Wajah wanita itu mulai menangis, matanya berkaca-kaca.


"Anti? Kau..." Yumne tak bisa berkata-kata.


Sementara dua anak laki-laki remaja itu tak lain adalah Beim dan Ronzi. Suasana yang semula ribut seperti benar-benar ada perang sungguhan, jadi sunyi seketika. Jadi benar-benar sepi layaknya di kuburan.


"Kenapa, kaget? Jika kau masih mau dengan pelakor itu, silahkan! Aku akan pisah denganmu, dan memilih dia," kata Anti dengan percaya diri tingginya.


Yumne terdiam. Alex dan Jodi yang mengendalikan rantai itu sejak tadi, malah ikut mematung juga. Graha dan Johana pun demikian. Namun, Yumne berjalan dalam diam seribu bahasa dan mendekati istrinya.


"Anti! Kau...kau tak bermaksud... ceraikan aku, 'kan? Iya, 'kan?" tanya Yumne dengan gemetar tak percaya.


Tangan Anti tergenggam oleh Yumne dengan mesra. Johana yang melihat jadi sangat cemburu. Namun dengan sudah sangat sedih dan sakit hatinya, Anti melepaskan genggaman Yumne.


Ia tersenyum manis dengan santai dan menjawab, "Aku serius. Mulai saat ini, kita cerai! Dan biar aku yang urus anak-anak."


Selama ini Anti sudah tahu semuanya tentang Yumne. Tak hanya dari berita di TV, tapi juga Indra. Indra-lah yang selalu menceritakan semuanya tentang Mirna pada Anti. Ia juga yang memberitahukan Anti bahwa Yumne berselingkuh dengan pelacur dan menjadi pecandu narkoba.


"Anda baru ikut kerja sama dengan kami sekarang. Tapi, bagaimana anda tahu kalau Yumne pecandu sabu-sabu?" tanya Rizki tak heran.


Indra tersenyum dan menjawab, "Selama ini, sebetulnya aku sering bertengkar hebat dengan Yumne. Aku sudah lama ingin kerja sama dengan tim kalian. Tapi, sulit bagiku lepas dari Yumne. Karena itu, aku suruh salah satu anak buahku untuk terus ikuti anda dan Mirna."


Beim pun maju, mendekati Indra. Indra pun merangkul Beim. Keduanya tersenyum dan Indra berterima kasih pada Beim. Ternyata, anak buahnya Indra itu adalah Beim. Ia mengikuti Mirna secara sembunyi-sembunyi selama ini tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya. Ini dilakukan sejak ia pulang dari luar negeri bersama Ronzi.


"Lantas, kenapa Ronzi tidak ikut?" tanya Mirna.


"Dia masih kecil. Dia masih anak sekolah. Dan biarkan dia mengejar cita-cita serta dambaan hatinya," jawab Indra.


Yumne sangat kecewa. Bahkan ia saking marahnya, menuduh Indra adalah musuh dalam selimut selama ini di grupnya. Tapi, Indra malah senang disebut begitu. Karena ia ingin ikut Yumne mengalahkan Mirna, hanya saja jangan sampai membunuhnya. Akan tetapi, Yumne sangat ingin Mirna tewas terbunuh. Indra tidak setuju.


Itulah yang membuat mereka sering berdebat. Indra pun sadar, bahwa Yumne jahatnya jauh lebih jahat dan lebih biadab dibandingkan Mirna. Mirna tak ingin sampai orang jahat itu terbunuh untuk membuatnya bisa dengan mudah ditangkap polisi. Dan jika sudah kewalahan, barulah gadis itu membiarkan polisi yang mengurusnya dengan menembak.


Jelas sudah. Akhirnya, Yumne dan tim-nya mengakui kesalahan mereka. Yang masuk penjara sekarang adalah Yumne, Johana, Graha dan Jodi. Sedangkan Indra tak bisa dinyatakan bersalah, karena ia sudah bertaubat total, dan tidak terlalu sering ikut kemana Yumne pergi untuk bertempur. Jika ia ikut, maka ia tidak terlalu menyakiti, beda dengan Yumne.


Dan proses perceraian akan dilakukan di pengadilan agama seminggu nanti. Sesuai dengan hukum di Javabirna, jika yang pasangan seorang tersangka kasus perselingkuhan ingin cerai, maka harus menunggu dulu tersangkanya dipenjara selama seminggu.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu selesai juga. Memang Mirna dan Rizki serta beberapa anak buahnya juga terluka. Namun, ini tidak separah sebelumnya.


...Kasus akhirnya selesai!...


...°°°...