
Mirna tak sadarkan diri, langsung saja dibawa ke rumah sakit. Rizki dan anak-anak buahnya segera menanganinya di rumah sakit. Ia dibawa ke ruang UGD. Tentu ini butuh bantuan dokter.
Begitu masuk ICU, suster meminta dengan tegas agar Rizki dan anak-anak buahnya tidak ikut masuk. Rizki segera saja meminta salah satu anak buahnya untuk menunggui Mirna sejenak, karena ia mau memberitahukan neneknya Mirna.
Anak buahnya menurut. Rizki segera keluar ruang ICU sambil mengutak-atik ponselnya. Ia sudah punya nomor rumahnya Mirna saat ia datang ke rumahnya Mirna.
Setelah ditemukan, Rizki mendekatkan ponselnya ke telinga kanannya. Tunggu beberapa saat teleponnya dijawab. Hingga akhirnya, Bu Eka menjawab teleponnya. Tanpa berlama-lama lagi, Rizki bercerita panjang-lebar.
Tentu ini membuat Bu Eka terkejut. Terkejut hebat, bahkan membuat jantungnya seperti mau lepas. Teleponnya segera ia jatuhkan. Tubuhnya membeku. Tak bisa berkata-kata apapun.
Di seberang sana, Rizki tidak bisa bertanya dengan panggilan 'hallo'. Karena ia tahu, Bu Eka pasti sudah syok mendengar kabar buruk tentang cucunya. Tak mau mengganggu, Rizki menutup teleponnya. Ia memaklumi apa yang dirasakan oleh Bu Eka. Wajar saja Bu Eka sangat syok berat.
Orang yang sudah lansia seperti Bu Eka, seharusnya jangan diberitahukan dulu tentang hal itu. Pasti bisa syok setengah mati seperti ini.
...***...
Rizki kembali masuk ke ruang ICU. Belum ada kabar mengenai Mirna. Rizki menghela nafas. Ia mengirimkan pesan ke nomor ponselnya Shania. Pesan itu harus dibacanya dan disampaikan pada Bu Eka. Yang harus disampaikan kepada Bu Eka adalah lokasi rumah sakitnya.
Rizki sangat berharap Shania datang bersama Bu Eka. Dengan sabar Rizki menunggu dengan anak-anak buahnya. Sampai ada salah satu anak buahnya yang memberikan kantong kain kecil. Sekecil gumpalan tangan. Rizki pun membuka kantong itu.
Ia lihat ada bubuk berwarna merah terang. Namun saat akan ia ambil dengan tangannya, anak buahnya malah melarang.
"Gunakan plastik di tangan anda, Komandan! Jangan sampai bubuk itu tersentuh ke kulit kita!".
"Memang kenapa?" tanya Rizki heran.
"Itu seperti serbuk gas air mata. Tapi, ini berbeda dengan gas air mata biasa. Tersentuh kulit kita, itu bisa membuat kulit kita melepuh terbakar."
Rizki mengerutkan kening. Ia beranjak dari kursi besi untuk yang menunggu pasien ICU itu. Kemudian berjalan sebentar. Sambil melihat serbuk gas air mata tak biasa itu, ia juga mencium baunya. Baunya amat menyengat.
"Kau tahu darimana kalau serbuk gas air mata ini bisa membuat kulit manusia melepuh hangus seperti terbakar?" tanya Rizki tegas.
"Tadi saya ambil dari tanah. Serbuk itu ada yang jatuh ke aspal jalan, dan tidak menyerap ke tanah aspal di TKP. Saya ambil dengan tangan saya yang sudah dibungkus plastik seperti yang Yumne lakukan. Kemudian saya tes ke seekor ular dan tikus. Kulit mereka melepuh, dan mati," jawab anak buahnya itu panjang-lebar.
Rizki terdiam. Sepertinya, ini memang bukan gas air mata biasa. Entah bahan apa yang ditambahkan Yumne dengan gas air mata ini, sehingga bisa membuat kulit manusia maupun hewan melepuh.
"Untuk tikus, tak hanya membuat kulitnya melepuh. Tapi juga terkelupas dan akhirnya membunuhnya. Sedangkan untuk ular, itu membuat kulitnya membusuk, lalu terbakar. Karena kulitnya bersisik," tambahnya menjelaskan.
Rizki merasa ngeri mendengarnya. Ini sungguh harus diteliti. Ia butuh bantuan Shania untuk meneliti gas air mata yang seperti air keras ini. Dan baunya pun bukan seperti bau sampah atau bangkai. Melainkan seperti...
...Nuklir!...
Tak lama setelah itu, dokter pun keluar ruangan. Rizki segera menanyakan keadaan Mirna.
"Apa anda keluarganya?" dokter itu malah balik bertanya.
Rizki gugup menjawabnya. Namun ia jawab jujur, "Bu...bukan. Tapi beritahu saja dulu pada saya keadaan Mirna. Nanti saya sampaikan pada neneknya."
"Saya akan beritahu jika ada keluarganya. Jadi, mohon maaf, Tuan Rizki!"
Rizki berusaha sabar. Ia menghela nafas, dan mengangguk paham. Hingga kebetulan sekali hal itu datang juga.
"Apakah anda neneknya itu?" dokter bertanya balik.
"Iya, iya saya neneknya. Bagaimana kondisi cucu saya, dia baik-baik saja 'kan, Dok? Iya, 'kan?" tanya Bu Eka semakin tidak sabar. Dengan keyakinan yang amat tinggi tingkat dewa kalau cucunya tidak kenapa-kenapa.
Dokter itu menghela nafas. Ia pun menjawab, "Mohon maaf, ini berita yang tidak bagus."
"Apapun beritanya, akan kami terima itu. Yang jelas, kita ingin tahu Mirna sekarang," kata Rizki tegas.
Dokter menjawab halus, "Dek Mirna, mengalami gangguan pada kedua matanya. Sehingga ia mengalami kebutaan. Ini karena gas air mata itu, yang mengakibatkan matanya terasa sangat sakit dan berdarah."
Semua kaget mendengarnya, terutama Bu Eka. Bahkan ia sampai jatuh pingsan. Rizki dan salah satu anak buahnya menangkap tubuhnya, agar tidak jatuh ke lantai. Rizki dan anak buahnya itu membawa tubuh Bu Eka untuk duduk di kursi penunggu pasien.
Shania yang merasa sedikit panik, segera bertanya tentang kebutaannya Mirna, "Apa kebutaannya bisa disembuhkan, Dok?"
Dokter menjawab, "Bisa saja, Dek. Kalau ada orang yang ikhlas mendonorkan matanya untuk Dek Mirna, maka Dek Mirna insya Allah bisa sembuh. Karena, biasanya kalau karena kecelakaan, bisa sembuh dengan itu."
Shania tersenyum lebar. Mereka yang mendengarnya jadi ikut senang juga, karena tepat berada di depan kursi besi untuk penunggu pasien ICU. Kemudian dokter itu pun izin pergi. Namun sebelum pergi jauh, dokter itu memberi izin Mirna bisa ditemui.
Karena Bu Eka masih lemas pingsan dan akan dibawa ke rumah Rizki oleh anak buahnya, jadi yang menemui Mirna hanya Rizki dan Shania.
...***...
Saat masuk, Shania tak bisa menahan air matanya karena melihat Mirna yang masih lemah tak berdaya. Matanya yang sedang dibuka perbannya oleh suster sudah membuat dugaan yang tinggi, bahwa Mirna benar-benar jadi orang tunanetra sekarang.
Setelah dibuka total, Mirna membuka perlahan kedua matanya. Shania menyebut namanya. Mirna sudah bisa menebak bahwa itu adalah suaranya Shania.
"Shan! Ini dimana, kok gelap?" tanya Mirna, sambil berusaha meraba keberadaan Shania dan melihat sekelilingnya.
Shania dan Rizki terdiam. Namun untuk meyakinkan Mirna agar bersabar, Rizki mendekatinya sambil merangkul, "Sabar, ya! Ini cobaan."
"Emang...emang aku kenapa, Mas? Apa maksud Mas?"
Rizki kembali terdiam. Hingga Mirna jadi membeku beberapa detik. Ia meraba keberadaan Shania dan Rizki. Dan itu membuatnya sudah bisa menjawab dengan sendirinya.
"Apa mungkin...aku..." jawabannya menggantung.
"Iya, Mir! Kamu yang sabar, ya!" kata Shania sambil menghapus air matanya.
Mirna kini terdiam hebat. Tangannya tak lagi berusaha meraba keberadaan Shania dan Rizki, kepalanya juga tak bergerak melihat sekelilingnya. Ia akhirnya menduga kalau kini matanya tak bisa berfungsi lagi.
"Nggak. Nggak mungkin. Nggak mungkin mataku sekarang gitu. Nggak!" kata Mirna terus berulang-ulang karena tak percaya.
Hingga ia menjerit dan menangis. Rizki menenangkannya dan memeluk. Air mata Rizki juga ikut menetes. Kata 'nggak mungkin' terus yang Mirna lontarkan saat ini. Dengan jeritan yang panjang dan cukup lantang.
Dengan kata-kata dari Rizki, Mirna akhirnya bisa sedikit tenang. Rizki menasihatinya untuk bersabar dan perhatikan tempat kalah sekarang mereka berada di rumah sakit. Agar Mirna memahami pasien lainnya yang butuh ketenangan. Juga bersabar bahwa ini ujian dalam hidupnya.
...°°°...