Dek Mirna

Dek Mirna
Chapter XIII : Add Friend To Group


Sebagian dari teman sekolah Mirna ada yang membela, tapi selama ini mereka diam. Dari perempuan, ada Shania yang dikenal gadis yang sangat cantik, baik dan cerdas. Sama seperti Mirna, ia juga sering jadi juara kelas. Atau terkadang masuk ke sepuluh besar.


Dari kalangan laki-laki, Banyu orang yang sangat baik. Dia laki-laki sekelas Mirna dan Shania yang sangat tampan. Orangnya biasa saja, dikenal cukup dingin, pendiam, tapi juga pintar. Memang tidak jadi juara kelas, tapi ia sangat cerdas dunia matematika. Serta ia juga sangat suka mengatur kelas. Jika kelas berisik, dialah yang bertugas menata kelas agar tenang. Dan jika guru belum datang, dia akan memanggil guru. Ya, bisa dibilang ia adalah seksi keamanan.


Banyu orang yang tidak nakal. Akan tetapi, ia sama seperti laki-laki remaja pada umumnya di jaman sekarang ini. Ia pecandu rokok. Kalau merokok, selalu di dalam perpustakaan sambil belajar ilmu matematikanya. Tapi dia juga kutu buku seperti Mirna. Sambil membaca di perpustakaan, Banyu akan menghisap rokoknya.


Ketika menunggu guru, Shania mendekati Mirna. Ia mulai jujur kalau selama ini sering merasa kasihan melihat Mirna yang selalu jadi target utama untuk jadi korban bully. Namun karena cukup takut, Shania tak pernah terang-terangan membela Mirna.


"Jadi, maafin aku, ya! Tapi, aku salut sama kamu. Bagimu, itu malah semacam hiburan," katanya dengan permohonan maaf.


Mirna yang tengah berbincang-bincang dengan Rizki lewat chatting di WhatsApp, mendengar dan menghentikan jari jempolnya untuk mengetik. Ia pun membalikkan badannya hingga tepat di depan matanya Shania.


"Shan, kamu nggak perlu minta maaf! Itu bukan kesalahan kamu. Aku ngerti kenapa kamu berdiam diri. Lebih baik diam daripada ikut jadi korban karena celaka ikut dibully juga."


"Aku baru tersadar akan tingginya kesabaran kamu menghadapi orang yang nggak asing melakukan itu. Aku tersadar saat kamu bantuin Hanah berdiri tadi. Bahkan, kamu pun bantuin dia bersihin baju, jilbab, sama roknya di rumahnya."


"Untung aja rumah ada di perumahan belakang sekolah."


Shania mengangguk. Ia melihat Mirna yang kini kembali mengetik. Namun, tiba-tiba ia berkata, "Bentar ya, Shan! Aku jawab telepon dulu."


Shania menurut dan ditinggal pergi oleh Mirna. Gadis itu kembali ke balkon untuk jawab telepon. Mungkin telepon dari Rizki. Entah apa yang dibicarakan oleh Mirna dan yang meneleponnya.


Tak lama kemudian, Mirna pun kembali. Ia duduk lagi di bangku dan meja lipatnya lalu berkata, "Aku harus dengar apa kata saksi mata mengenai Yumne dan Johana. Tapi aku ingat, aku tak bawa headset."


Mendengar itu, Shania mengeluarkan headset dari saku seragamnya. Ia pun memberikan pada Mirna sambil berkata, "Ini, aku pinjamkan! Kamu sangat butuh banget 'kan sekarang!?"


Mirna terdiam sejenak. Dan ia pun akhirnya mau meminjamnya dengan ucapan terima kasih juga.


Mirna memasang kabel headset itu di lubang bawah ponselnya, lalu saat sudah memasangkan satu di telinga kanannya, Shania malah memohon.


"Boleh aku ikut dengar juga? Aku yang bagian kirinya!"


Mirna kembali beku. Namun ia serahkan juga bagian kirinya untuk Shania. Lagipula, alat itu 'kan memang milik Shania.


Setelah terpasang, Mirna menyalakan sebuah rekaman suara investigasi yang dilakukan oleh Rizki dan dua anak buahnya tentang Yumne dan Johana.


"Ini rekaman suara yang dikirim Mas Rizki, kepala polisi negara ini," kata Mirna dengan bisikkan.


"Oh...iya," balas Shania mengangguk paham.


Mirna pun menekan tombol play rekaman itu. Isinya adalah:


{Asisten Yumne: "Iya, Mas. Keduanya sering keluar rumah di malam hari. Biasanya sih ke club malam dulu. Ngedugem, baru abis itu ke hotel."}


{Rizki: "Apa Ny.Anti tahu hal ini?"}


{Asisten Yumne: "Belum, Mas. Karena, Ny.Anti lagi di luar negeri untuk konser nyanyi sama teman duetnya."}


Mendengar bagian itu, Mirna dan Shania terkejut. Mirna menjadi sedikit menggeram marah, sedangkan Shania jadi sedih. Sedih karena merasa kasihan pada Anti, artis seperti Johana dan Yumne juga yang merupakan istri sah-nya Yumne itu, harus kecewa saat pulang ke Javabirna nanti. Patah hati, kecewa berat, sakit, hancur lebur.


"Kasihan, Ny.Anti. Hatinya pasti hancur!" seru Shania dengan suara orang terharu.


"Iyalah. Beliau 'kan masih istri sah-nya Tn.Yumne," balas Mirna berusaha tegas. Menahan amarahnya sekuat mungkin.


"Selama ini, kamu bantu memecahkan kasus perselingkuhan Tn.Yumne dan Ny.Johana?"


"Iya. Cukup sulit nyari mereka. Tapi dengan alat-alat canggih peninggalan ayahku, alhamdulillah semuanya bisa lancar."


"Plus bantuan dari Mas Rizki, ya?"


Mirna menjawab dengan anggukkan.


Shania merasa tambah takjub pada Mirna. Ia pun berkeinginan untuk bergabung dengan Mirna dan Rizki dalam kasus ini.


"Mir! Aku ikut bantu, ya! Biar kamu nggak merasa risih mencari pelakunya."


"Kamu maunya bantu gimana?" tanya Mirna memastikan.


"Aku bantu kamu bawa alat-alat canggih papamu. Kalau kamu bawa senjata untuk bela diri. Aku 'kan nggak bisa kalau berantem. Gimana? Jadi kalau kamu butuh alat canggih untuk mendeteksi pelakunya, bilang aja ke aku!"


Mirna terdiam sejenak. Ia berpikir. Mungkin ada bagusnya juga jika menambah teman dalam kelompoknya dalam menangani kasus semacam ini. Dan dinyatakanlah, Shania bergabung dengan Mirna, Rizki dan beberapa anak buah Rizki yang hanya berpatroli mendeteksi di tempat manakah pelakunya berada.


"Thanks ya, Mir! Aku akan bantu sebisa mungkin. Insya Allah, aku akan ada untuk kamu. Selalu," Shania berterima kasih dengan bersemangat.


"Iya-iya, Shan. Aku juga berterima kasih karena mau bantu dengan ikhlas," balas Mirna dengan santai.


Shania pun tersenyum. Dan Mirna mengembalikan headset itu pada Shania. Kemudian Shania kembali ke bangkunya. Tepat saat itulah, gurunya baru datang. Walau beliau hanya memberikan tugas saja untuk para anak muridnya untuk dikerjakan selama beliau tidak mengajar hari ini. Karena akan diadakan rapat guru.


...°°°...