Dek Mirna

Dek Mirna
Chapter VI : Forgive Me, Mister Policeman! (part 2)


Di ruangannya, Mirna berbincang-bincang dengan Rizki tentang hal yang akan dijalankan. Hal ini tentu masalah kasus perselingkuhan Yumne, artis musisi yang terkenal dan sekarang amat sangat gila kasus selingkuhnya se-Javabirna.


"Tolong, Pak! Saya sangat butuh bantuan pihak polisi untuk hal ini!" Mirna memohon-mohon.


"Iya, saya ngerti kalau yang selingkuh pun di penjara di negara kita. Cuman masalahnya, kamu masih anak sekolah kenapa mau urus artis? Ini biar diurus oleh kami sendiri, sebagai pihak kepolisian. Seharusnya pihak saksi mata yang melaporkan. Bukan detektif muda sepertimu," Rizki menolak halus.


"Tapi saya yang punya alat-alat canggih almarhum ayah saya untuk membantu anda dalam menyelesaikan masalah ini."


"Sadarlah, Dek! Kamu masih anak sekolah. Tak usah ikut campur urusan orang lain! Ini urusan kami dan saksi matanya."


"Saya bisa bantu menyelediki. Saya bisa juga bantu mendeteksi keberadaannya."


"Kami punya mata-mata khusus untuk hal itu di sini. Sekarang, sebaiknya kamu kembali ke sekolahmu dan belajar dengan benar!"


"Tolong, saya sudah dikenal lama di negeri ini. Anda sebagai kepala kepolisian tentu kenal ayah saya. Dan sayalah satu-satunya yang mewarisi apa yang dimiliki kedua orang tua saya. Saya mohon, izinkan saya membantu!"


Rizki terdiam. Ia menghela nafas sampai menutup kedua matanya dan merapatkan kedua tangannya di meja. Ia memikirkan ketat permohonannya Mirna. Memang Rizki kenal dekat dengan almarhum Zuko, ayahnya Mirna.


Dari masih jadi bawahan almarhum kakeknya yang masih jadi kepala polisi Javabirna, Rizki terkadang dimintai tolong oleh ayahnya Mirna itu untuk menangkap pelaku kejahatannya.


Setelah dimata-matai dan di interogasi lebih oleh Zuko, Rizki bertugas untuk membawa pelaku itu ke dalam penjara. Jika ada napi yang kabur, Rizki-lah yang selalu diminta untuk mencarinya bersama Zuko, sebagai detektif yang juga mencari napi yang kabur dari penjara.


"Baiklah! Kamu diterima! Kita menjalin kerja sama yang baik untuk menangkap Yumne. Kapanpun kamu butuh saya, saya ada dan siap bantu!"


Mirna mulai tersenyum lega. Ia pun berterima kasih dan bersalaman tangan dengan pertanda bersatunya detektif Javabirna baru ini dengan pihak kepolisian kembali. Seperti masa almarhum Zuko dengan kakeknya Rizki dulu, yang sudah meninggal dua tahun setelah pensiun.


Takhta kepala polisi Javabirna ini diserahkan pada Rizki, karena ibunya Rizki yang merupakan anak kakeknya itu tak mau menjadi polisi, melainkan mau menjadi guru sekolah biasa. Sedangkan ayahnya Rizki menjadi seorang CEO ternama di Javabirna ini. Karena itulah, Rizki-lah yang mendapat takhta ini. Kebetulan, sedari kecil Rizki ingin jadi polisi.


Kakeknya menjadi kepala polisi sampai memasuki usia 65 tahun. Karena di Javabirna, semua orang dinyatakan pensiun dari kerjanya di usia tersebut. Jadi, sudah dipastikan kakeknya Rizki wafat di usia 67 tahun (sebagai informasi mengenai dunia kepolisian di Javabirna).


...***...


Mirna sampai di sekolah dengan diantarkan oleh mobil polisi suruhannya Rizki. Mirna sampai saat bell masuk baru berbunyi. Jadi masih ada waktu bagi Mirna untuk masuk ke kelas. Bisa dipastikan, Mirna tak akan dimarahi guru kali ini.


Namun begitu sampai sekolah, Mirna bukannya lega malah lemas. Karena ia patah hati. Ia tahu dari supir mobil polisi suruhannya Rizki, bahwa Rizki ternyata sudah menikah dan mempunyai satu anak perempuan. Namanya Merin. Ia jadi merasa bersalah pada Rizki.


Karena itu, sebelum turun dari mobil, Mirna berpesan pada supir mobil polisi itu, "Sampaikan maaf saya pada Mas Rizki! Saya baru tahu beliau sudah menikah sekarang."


Walau tak mengerti, supir itu hanya mengangguk menurut. Setelah Mirna turun, ia pun pergi untuk kembali ke kantor polisi.


...°°°...