
"Udah terjadi sesuatu di sini," kata Shania saat ia dengan Rizki dan Mirna sudah di basecamp.
Mirna bertanya, "Bisa kamu deteksi kejadiannya?"
Shania mengangguk. Ia pun berjongkok dan menyentuh lantai. Kemudian terdeteksi sesuatu:
{Dua pesulap itu tiba-tiba diculik oleh dua orang pria yang menculik mereka dengan memakai suatu benda yang dilempar dan mengikat mereka secara otomatis lalu ditarik. Seperti besi logam. Setelah terikat, mereka dibius hingga tak sadarkan diri. Lalu dibawa pergi dengan cara diseret}
Shania menceritakan semuanya pada Mirna. Dan Mirna melaporkan hal ini pada Rizki. Hingga salah satu anak buahnya Rizki menemukan sesuatu di lantai dan memberikannya pada Rizki.
"Komandan! Saya menemukan dua benda ini."
Rizki menerimanya. Dan itu adalah cincin kawin dan satu anting panjang. Begitu diperlihatkan pada Mirna, ternyata itu cincinnya Veriel dan antingnya Rival, yang biasa ia pakai di telinga kirinya.
Shania melihat dua benda itu, dan minta pinjam pada Rizki. Rizki memberikannya, lalu Shania mendeteksi:
{Saat hendak memakai dua benda itu, keduanya ditarik oleh besi logam dua pria misterius tadi lalu dibius. Setelah keduanya pingsan, dua benda itu jatuh ke lantai}
Shania menceritakan semua itu. Lalu dua benda itu diserahkan pada Rizki. Mirna pasang lensa kontak canggihnya di kacamatanya. Lalu menelusuri jejak kaki dua pria itu.
"Apa ini ulah Yumne?" tanya Rizki saat Mirna masih menelusuri.
Dengan endusan gelang hidung, foto dan lensa kontaknya, Mirna mulai meyakini dan menjawab, "Bukan. Ini...jejak kakinya...Alex dan Jodi."
Gadis itu berjalan bersama Rizki dan Shania sampai keluar basecamp. Hingga salah satu cahaya biru lensa kontaknya melihat ada satu cahaya biru yang berdiam di sebelah basecamp.
"Ada yang berdiri di sini," kata Mirna sambil menunjuk ke sebelah basecamp itu.
"Yumne?" tanya Rizki.
Shania yang menjawab, "Bukan. Tapi seorang wanita."
Kalau seorang wanita, sudah dapat dipastikan bahwa ia adalah Johana. Tanpa berlama-lama lagi, mereka mengejar Johana. Mirna sudah tahu, kalau markasnya Yumne jika bukan di gudang rahasia, pasti di apartemennya. Karena TV jika memberitakan Yumne dan Johana, pasti di tempat tinggal mereka sekarang. Sedangkan saat masih dengan Anti, Yumne punya rumah sendiri.
Mereka sampai di apartemen. Mirna sudah tahu dimana apartemen tempat Yumne tinggal. Anggota tim-nya juga tinggal di sana. Rizki masuk dengan bayaran yang ada di loket karcis masuk apartemen. Mobilnya pun masuk ke parkiran mobil.
Setelah memarkirkan mobil, Rizki dan Mirna turun. Sementara Shania di suruh menunggu di mobil. Rizki memberikan penyalur suara pada Shania jikalau terjadi apa-apa padanya. Shania menurut.
Rizki dan Mirna dengan anak-anak buah para polisi memasuki apartemen. Ketika masuk, Mirna berkata pada Rizki, "Kita pakai lift, bukan tangga. Karena mereka naik ke lantai tiga pakai lift."
Mereka pun memasuki lift. Lalu sesampainya di lantai atas, Mirna segera menuju rumahnya Yumne dan Johana. Ia juga sudah hafal betul rumah dua target utama mereka itu.
"Tetap hati-hati, pastikan tidak ada orang di dalam," jawab Rizki dengan tenang.
Mereka berjalan perlahan ke depan pintu ruangan tersebut. Rizki mengetuk pintu dengan sekuat tenaga, tapi tidak ada jawaban.
"Aku coba cek dari jendela," ucap Mirna sambil melangkah menghampiri jendela ruangan. Ia mengintip ke dalam dan melihat Johana sedang berbaring di sofa dengan mata terpejam.
"Ada orang di dalam, tapi tidak bergerak," kata Mirna lirih.
Rizki meminta anak buahnya untuk mencari cara membuka pintu itu. Beberapa saat kemudian, pintu itu akhirnya terbuka dan mereka langsung masuk dengan cepat dan hati-hati.
Ternyata Alex dan Jodi tidak ada di dalam ruangan itu saat itu. Mereka sudah kabur.
"Tapi kita sudah punya petunjuk. Kita harus menemukan Yumne," kata Mirna dengan pasti.
Rizki menyetujui dan mereka pun melanjutkan pencarian mereka, dengan harapan bisa menemukan Alex dan Jodi serta membebaskan Rival dan Veriel dari tangan mereka.
Mereka semua menuruti saran Rizki. Dengan perlahan Mirna membuka pintu rumah kecil dalam gedung itu. Pintu tidak dikunci, namun dalamnya sepi tanpa ada siapa-siapa. Meskipun begitu, mereka harus tetap waspada.
Mirna ingin masuk sendiri ke dalam, tetapi Rizki melarang. Rizki tegas mengingatkan bahwa Mirna harus bersamanya dalam menghadapi orang seperti Yumne dan selingkuhannya itu, meskipun Mirna mampu menghadapinya sendirian dengan membawa senjata di tasnya.
Akhirnya, Mirna mengikuti saran Rizki. Mereka memasuki kamar dengan langkah kecil dan gelap. Rizki mencari tombol lampu dan menyalakan cahayanya. Kemudian, Mirna menuju ruangan kecil yang mungkin merupakan dapur di apartemen itu. Ia menemukan besi rantai di lantai ruangan tersebut.
Mirna menyelidiki rantai tersebut dengan menggunakan foto Yumne atau Johana. Cahaya lensa kontaknya menunjukkan bahwa warna rantai yang ia temukan sama dengan warna biru pada foto Johana. Itu artinya rantai tersebut digunakan oleh Johana untuk menculik Rival dan Veriel.
Gadis itu berniat melaporkan temuannya pada Rizki, namun ia tiba-tiba dipukul dari belakang oleh seseorang. Orang itu mengendalikan rantai itu dari jauh dan mengikat Mirna dengan rantai tersebut. Selanjutnya, Mirna ditarik masuk ke kamar mandi oleh orang yang mengendalikannya.
Rizki mendengar suara dari arah dapur dan bergegas ke sana. Di sana, ia menemukan foto Yumne dan Johana yang tergeletak di lantai. Namun, Mirna sudah tak ada di sana. Rizki memanggil anak buahnya untuk mencarinya.
Suara wanita kemudian terdengar dari arah kamar mandi. Ternyata itu adalah Johana, Alex, dan Jodi yang berhasil membawa Mirna yang sudah dibius. Mereka berhasil melarikan diri dengan mobilnya Jodi.
Rizki memutuskan untuk mengejar mobil mereka. Dalam perjalanan, ia menggunakan kacamata hitam yang dilengkapi dengan lensa kontak canggih pemberian Mirna.
...***...
Ketika Mirna tersadar, ia berada di ruangan yang minim cahaya dan memperhatikan Yumne yang tersenyum jahat di hadapannya. Ia diikat dengan besi rantai dan kedua kaki serta tangannya diikat juga dengan kunci gembok.
Yumne memberikan dua pilihan pada Mirna: menyerahkan semua alat ayahnya atau menjadi korban pemerkosaan oleh anak buahnya. Namun, Mirna memilih untuk tidak memberikan alat ayahnya pada Yumne.
Akhirnya, Yumne memperlihatkan Mirna Rival dan Veriel yang terperangkap dalam tabung air dan melakukan penghinaan pada mereka serta pada Mirna sendiri. Rizki dan anak buahnya akhirnya berhasil menemukan mereka dan menangkap Yumne serta anak buahnya.
"Jangan apa-apakan mereka! KELUARKAN MEREKA!" bentak Mirna.
"Tidak. Kamu tidak mau memberikan alat ayahmu. Jadi, kami harus menikmati pesta malam ini!" balas Alex dengan tidak sabar.
Tiba-tiba, lagu favorit Mirna dari Korea diputar dengan suara siulan dan petikan jari di bagian intronya.
"Lagu ini..." kata-kata Mirna terputus. Itu adalah lagu Korea yang berjudul 'Trouble Maker', dengan gerakan tari yang sedikit nakal.
Jodi membuka kunci gembok rantainya, dan tersenyum senang. Dia ingin melakukan aktivitas kotor bersama yang lainnya, termasuk Yumne.
"Ayo, Geulis! Bergabunglah dengan kami menari. Buka penutupnya!" ajak Alex.
Mirna tahu maksud Alex, tapi dia berhasil menendang bagian bawahnya dengan lincah.
Alex merintih kesakitan. Saat akan ditahan oleh Jodi dan Graha, Mirna sigap menonjok mereka.
...BUGH!...
Gadis itu berhasil melarikan diri dari para pelaku. Dan ketika Yumne mengejar, Mirna menonjok dagunya dari bawah dan membebaskan Veriel dan Rival dari tabung air itu.
Dengan gembok yang dibawanya, Mirna memecahkan kaca tabung dengan keras. Kaca pecah, dan Veriel serta Rival berhasil keluar.
"Alhamdulillah, kita bebas!" seru Veriel, mengatur nafasnya.
"Benar, sangat pengap di dalam air!" tambah Rival, juga mengatur nafas.
"Nanti aja bersyukurnya, karena sekarang kita harus segera keluar dari sini!" balas Mirna.
Ketiganya lari. Sementara Yumne dan timnya lemas, mereka tidak menyerah. Harus segera mendapatkan Mirna kembali.
...°°°...