Dek Mirna

Dek Mirna
Chapter XXXIV : Kidnapping at A Magic Show


Sepulang sekolah, Mirna, Shania dan Banyu pulang bersama. Rizki tak bisa menjemput karena patroli padat. Di tengah perjalanan ada pengumuman dari seorang pria yang menyerukan suara dengan toa pengeras suaranya.


"Ayo, datanglah malam ini! Atraksi sulap yang mengagumkan. Dari dua pesulap yang terkenal di Javabirna, terkenal di Asia Tenggara. Yang sudah membongkar dunia dukun palsu, dan pesulap baru yang kini serba hitam. Merekalah, Veriel sang pesulap merah dan Rival sang pesulap hitam. Tunggu apa lagi, ayo datang dan saksikan atraksi sulap mereka yang mendebarkan! Yang siap menghibur anda semua! Jangan lupa, bawa buah hati tercinta anda, bapak-bapak dan ibu-ibu! Di jamin, mereka akan senang gembira!"


Mirna merasa senang melihat itu. Ia mengajak Shania untuk mendekati seruan itu untuk mengetahui kapan acara dan dimana tempatnya. Mirna memang mengidolakan dua pesulap yang disebutkan itu. Bahkan, tak heran ia selalu melihat keduanya beradu sulap short video di sosial media.


"Mir, kamu mau datang?" tanya Shania sambil berjalan pelan.


"Iya dong, Shan. Kalau tempatnya dekat rumah, aku mau. Tapi kalau jauh di luar kota, nggak akan," jawab Mirna bersemangat.


Shania terdiam. Ia ikuti saja apa kata sahabatnya. Setelah sampai di seruan itu, Mirna segera bertanya, "Mas! Dimana dan kapan acaranya?"


Pria itu memberikan brosur dan menjawab, "Ini, lihat sendiri, Dek! Semoga beruntung untuk datang!"


Mirna mengambil brosur itu. Ternyata acara itu bertepatan dengan malam ini, kebetulan malam minggu. Dan berlangsung di lapangan besar depan kantor walikota Baradina. Lapangan Gasba namanya. Di lapangan ini, memang biasanya selalu ada acara besar-besaran untuk pesta di malam minggu, menjelang lebaran, tahun baru Masehi, Imlek, atau natal. Pesta yang diadakan terkadang atraksi barongsai untuk perayaan Imlek dan pasar malam. Serta acara pesta takbiran di waktu lebaran. Atau konser musik dalam perayaan tahun baru Masehi.


Mirna melihat brosur itu dengan amat bahagia. Akan tetapi, tiba-tiba Shania berkeinginan untuk memegang brosur itu. Memang ia sudah tak bisa melihat atau membaca lagi. Namun, ia merasa akan ada hal yang akan terjadi di acara itu.


"Mir! Boleh aku pegang brosurnya sebentar?"


Mirna tahu Shania tak bisa baca. Tapi, ia serahkan brosur itu. Lalu Shania menutup matanya setelah mendapatkannya. Otaknya tiba-tiba mendeteksi suatu kejadian.


{Akan ada suatu kejadian, dimana dua pesulap ini akan mengalami hal buruk. Mereka akan diculik oleh dua orang pria, dan satu wanita yang memimpin keduanya.}


Setelah menyadari apa yang akan terjadi nanti, Shania membuka mata. Ia pun meminta Mirna untuk memanggil Rizki juga. Jadi dalam penjagaan acara itu nanti, tak hanya anak buahnya Rizki saja yang berjaga-jaga. Tapi juga Rizki sebagai kepala polisi negara ini.


"Emang, bakalan terjadi sesuatu di acara itu nanti?" tanya Mirna memastikan.


"Menurut pendeteksian firasatku sih begitu. Nanti kamu juga bakal tahu," jawab Shania santai.


Mirna tak terlalu yakin apa yang Shania katakan. Namun, ia turuti apa yang Shania perintahkan. Mirna pun mengambil ponsel dari tas ranselnya dan menghubungi Rizki.


Setelah tersambung dan terjawab oleh Rizki, Mirna segera memberitahu hal itu, walaupun ia sendiri tidak terlalu yakin. Tapi Rizki mempercayai apa yang Shania ucapkan lewat penjelasannya Mirna barusan. Ia mau datang juga ke acara itu nanti malam.


Setelah menelepon Rizki, Mirna memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas ransel dan mengajak Shania untuk pergi dari tempat itu. Mirna dan Shania pulang ke rumah masing-masing. Tentu saja Mirna pulang dengan brosur itu. Ia mau menunjukkannya pada Bu Eka.


Sesampainya di rumah, Mirna mengucapkan salam. Bu Eka menjawab salam Mirna, dan menanyakan apa yang Mirna bawa begitu melihat ada selembar kertas di tangan kiri cucunya.


"Oh...ini brosur iklan. Akan ada acara di lapangan Gasba malam ini, Nek," jawab Mirna sambil memberikan brosur itu pada neneknya.


Bu Eka menerima brosur itu, lalu membacanya. Setelah mengetahui iklan brosur tersebut, Bu Eka bertanya pada Mirna, "Kamu mau ke sana?"


"Iya. Boleh ya, Nek? Nenek 'kan tahu aku idolain banget dua pesulap itu," jawab Mirna dengan pintanya penuh harap.


Bu Eka terdiam sejenak. Tapi akhirnya ia mengizinkan Mirna ikut melihat atraksi sulap itu.


"Boleh, deh. Tapi, perginya sama Den Rizki! Jangan pencar di sana, ya! Takutnya tersesat. Beres acaranya, langsung pulang!"


"Tenang aja, Nek! Emang udah direncanain perginya sama Mas Rizki dan Shania. Aku wajib banget ikut," balas Mirna dengan semangat sambil mengganti bajunya di kamar.


Bu Eka hanya bisa tersenyum dalam diamnya. Ia ingin cucunya bahagia melihat atraksi sulap yang ia impikan itu. Asalkan ada Rizki di sampingnya agar terhindar dari kejahatan, maka Bu Eka bisa lega.


Bukan kejahatan Yumne dan tim-nya yang dicemaskan, yang bisa saja ada di acara itu dengan menyamar. Melainkan kejahatan seperti copet, begal dan sebagainya. Karena dengan karate, Bu Eka yakin itu tidak cukup bagi Mirna untuk melawan tindak kriminal itu.


...***...


Malam harinya, Mirna sudah berdandan rapi untuk pergi ke acara itu. Tak lupa ia memakai jilbab kesayangan yang diberikan almarhumah ibunya dulu. Ditambah dengan parfum, agar bisa tercium oleh sang idola (katanya).


Setelah dandan, terdengar klakson mobil di depan rumahnya. Bu Eka melihat keluar lewat jendela. Sudah ada Rizki yang menjemput dengan mobilnya. Ia segera memanggil Mirna.


Mirna bersalaman dengan neneknya. Barulah masuk ke mobilnya Rizki. Dengan sopan Rizki dan Shania juga pamit. Mereka pun pergi ke lapangan itu, sebelum acaranya dimulai.


Acaranya dimulai jam 7 nanti. Shania yang memegang brosur itu. Karena dalam syarat untuk masuk ke acara itu, harus membawa brosurnya. Satu keluarga harus bawa brosur untuk bisa masuk. Jadi dengan adanya brosur itu dari Mirna, Shania bisa masuk. Untuk Rizki tak perlu memakai brosur itu supaya bisa masuk. Karena ia pemimpin para polisi penjaga di sana.


Tiba-tiba, Shania menutup matanya dan mendeteksi lagi kejadian yang akan terjadi di acara itu. Begitu buka mata, ia amat terkejut. Karena Mirna juga akan jadi korban penculik itu.


Namun demi sahabatnya bahagia, Shania tak mau memberitahukan Mirna akan hal ini. Ia takut sahabatnya tidak akan mempercayainya, kemudian kecewa padanya, sehingga ia pulang dan tak bisa lihat dua pesulap yang sangat ia ingin temui itu.


Dan sampailah mereka di sana. Di depan gerbang lapangan sudah ada papan iklan besar dengan foto dua pesulap terkenal itu. Sudah ada penyambutan lewat papan iklan tinggi dan cukup lebar itu. Mirna masuk dengan rasa tidak sabarnya seperti anak kecil. Rizki menyabarkannya karena ia harus memarkirkan dulu mobilnya.


Setelah terparkir, Rizki keluar dari mobil dan tangannya segera ditarik oleh Mirna. Shania hanya mengikuti dari belakang Rizki dalam diam seribu bahasa di bibirnya. Brosur yang dipegangnya sudah ia serahkan pada Mirna saat mau keluar dari mobilnya Rizki tadi.


Begitu masuk ke tenda yang sangat besar dan lebar untuk acara itu, Mirna menyerahkan brosur itu pada petugas yang berjaga di pintu masuknya. Lalu ia masuk dengan Shania. Petugas penjaga itu memberi hormat pada Rizki, sebagai komandan pasukan kepolisian Javabirna yang juga menjaga keamanan acara ini.


Mirna dan Shania duduk bersebelahan. Shania duduk di sebelah kirinya, sedang Rizki di sebelah kanan. Acaranya akan dimulai lima menit lagi. Kursi penonton sudah hampir penuh terisi. Penonton sudah banyak meskipun acaranya belum dimulai. Untungnya Mirna dapat tempat duduk paling bawah, agar bisa dekat dengan sang idola.


Mirna melihat Rizki yang melihat area acara ini dengan tatapan mata tajam. Ia pun bertanya, "Nyari siapa, Mas? Serius amat!"


Dengan tegas Rizki menjawab, "Lihat-lihat aja. Takutnya ada yang aneh-aneh di sini. Coba pakai gelang hidung kamu buat endus. Bisa aja, 'doi' sama pelacur itu ada di sini."


"Nanti aja. Sekarang saatnya hiburan dulu."


Akhirnya acara di mulai. MC dua orang, laki-laki dan perempuan, dengan semangat cerianya membuka acara dan menyambut para penonton. Mirna dengan semangat ikut bertepuk tangan, bahkan sampai bersiul keras. Rizki dan Shania hanya bertepuk tangan santai.


Ternyata, dua MC itu mengetahui ada Mirna yang ikut menonton. MC perempuannya berseru, "Wah, ada detektif negara kita yang ternyata ikut menonton! Tepuk tangan untuk detektif kita yang turut hadir di sini, Dek Mirna!"


Para penonton yang baru menyadari ikut senang riang gembira. Mereka memberikan tepuk tangan meriah dan sorak-sorai pada Mirna. Mirna sedikit terkejut, tapi ia hanya menanggapinya dengan santai dan senyuman.


Kemudian disusul MC laki-laki yang berseru, "Nggak hanya putri detektif Javabirna. Ada juga sang kepala polisi Javabirna yang turut hadir di sini. Tepuk tangan semuanya untuk Komandan Rizki!"


Sama seperti pada Mirna, penonton juga bertepuk tangan dan memberikan sorak-sorai. Dan tanggapan Rizki juga sama persis dengan Mirna, senyuman santai. Biasa saja.


Namun untuk Rizki, mereka memberikan terima kasih juga, karena sudah memberikan keamanan yang ketat di acara ini. Rizki membalas dengan senyuman dan sedikit anggukan.


Kini acara dimulai. Dua MC ini memanggil dua pesulap yang akan ditampilkan. Saat dua pesulap berbeda warna itu keluar bersamaan, para penonton lebih heboh lagi memberikan tepuk tangan meriah dan sorak-sorainya. Termasuk juga para wanita yang mengidolakan mereka, khususnya Mirna.


Ada yang menjerit, "Rival! I LOVE YOU SO MUCH!!!".


Ada juga yang menjerit, "VERIEL! OPPA KOREA-KUUU!!!"


Aneka pujian penonton berikan pada keduanya, terutama yang fanatik. Mereka memuji sambil menunjukkan poster bergambar idola mereka masing-masing.


Namun tanggapan dua pesulap itu hanya senyum biasa, sambil melambaikan tangan. Atau dengan ciuman jarak jauh. Sekarang saatnya atraksi mereka dimulai.


Dimulai dari sulap yang dilakukan Veriel. Ia melakukan sulap kartu. Sulap sederhana ini ia lakukan dengan penonton. Dimana penonton harus mengambil salah satu kartu, dan jangan ditunjukkan padanya, tapi pada para penonton. Setelah itu, kartunya kembalikan lagi pada Veriel. Pria berambut dan berbaju, celana dan sepatu merah itu mengambil kartu itu dan mengocoknya.


Hingga saat terbuka kartu yang paling atas, ia tunjukkan pada penonton dan bertanya, "Ini kartunya bukan, semuanya?"


Para penonton menggelengkan kepala, pertanda bukan kartu itu yang diambil salah satu penonton barusan. Sampai Veriel meminjam tas penonton yang mengambil kartu tadi. Penonton itu memberikan tas kecilnya, dan dirogoh isinya oleh Veriel.


Ajaib, kartu yang diambil penonton tadi ternyata ada di tas itu. Padahal tadi sungguh-sungguh ia kembalikan pada Veriel. Saat Veriel tunjukkan kartu itu, para penonton membenarkan. Banyak yang merasa heran, bagaimana bisa kartu itu ada di tas penonton tadi yang mengambilnya?


Suara tepuk tangan dan sorak-sorai yang heboh kembali terdengar. Dan sekarang giliran Rival yang menunjukkan atraksi sulapnya.


Namun, sulapnya berbeda. Ia meminta salah satu penonton yang memakai kalung untuk memberikan kalungnya. Penonton itu duduk di baris kedua dari bawah. Wanita itupun memberikan kalung emas putihnya, berliontin namanya.


Dalam diam bibirnya, Rival menutup kalung itu ditangannya dengan sarung tangannya. Kemudian ia usap tangan kanannya itu dengan tangan kiri secara perlahan. Ajaib, saat terbuka kalung itu jadi ada dua. Yang satunya berliontin berlian.


Suara tepuk tangan dan sorak-sorai kembali lagi terdengar. Termasuk juga tepuk tangan dari Veriel. Tapi kali ini disusul dengan penonton yang menjeritkan kata 'lagi' berulang-ulang.


Rival dan Veriel menyanggupi. Penonton senang. Keduanya pun mengambil tongkat sulap hitam. Untuk Veriel, ia lempar dulu tongkat itu ke udara. Saat ia tangkap, ia putar dulu tongkatnya dengan satu tangannya.


Keajaiban terjadi lagi. Veriel memutar badannya dan seketika tongkatnya berubah jadi tiga bunga mawar merah yang sudah bersatu.


Setelah menjadi bunga, dengan senyuman dan jalan mendekati Mirna, Veriel berkata, "Ini, bunga yang special untuk detektif tangguh, gagah perkasa negara kita. Mirna."


Mirna terkejut. Ia merasa ini hal yang romantis yang ia dapat. Kemudian dengan senang hati ia terima bunga itu. Gadis itu mencium aromanya, dan amat ada rasa puas.


Penonton merasa ada yang ikut baper. Ada juga yang biasa saja. Tak sedikit juga yang memberikan sorak-sorai layaknya kepada orang yang baru saja dapat cinta sejatinya. Namun, tanggapan Mirna hanya senyum biasa saja dan sedikit gelengan kepala.


Tak mau kalah, Rival tersenyum pada Mirna. Seperti ingin menarik perhatian Mirna, layaknya laki-laki lain yang cari perhatian gadis yang diincar hatinya. Rival memutar tongkatnya dulu, hingga ia memutar badannya. Dan tongkat itu jadi kumpulan macam bunga saat diputarnya sedikit.


Mirna jadi lebih baper lagi. Tak hanya Mirna, penonton yang perempuan juga banyak yang seperti itu. Ada yang merasa meleleh, ada yang merasa iri pada Mirna, dan sebagainya. Kumpulan bunga itu adalah bunga-bunga yang Mirna sukai, seperti mawar merah, melati, tulip, anggrek dan bunga lili.


Itu adalah bunga-bunga yang Mirna sukai. Romantisnya lagi, Rival memberikan bunga itu pada Mirna dengan cara laki-laki yang menyatakan cinta pada wanita idaman lainnya. Kaki kirinya ia tekuk ke bawah.


Mirna jadi lebih bahagia lagi. Ia mengucapkan terima kasih pada keduanya. Bunga-bunga itu ia cium bersamaan dan membuatnya semakin amat bahagia. Rizki dan Shania jadi ikut senang melihat hal itu.


Hingga acara pun selesai. Namun akan ada lagi atraksi ini setelah dua pesulap itu beristirahat. Ini adalah momen Mirna ingin membeli cemilan. Bunga-bunga itu ia simpan di mobilnya Rizki.


Ketika tengah membeli makanan ringan dan aksesoris bergambar dua pesulap itu, tiba-tiba Shania merasakan sesuatu yang aneh. Dari kejauhan ia merasa seperti ada tiga orang yang membawa sesuatu yang diseret. Seperti dua benda yang diseret. Benda itu dibawa keluar dari basecamp.


Namun, ia acuhkan karena mengira itu karung sampah. Hanya saja ia berpikir lagi, kalah itu karung sampah dari acara ini, kenapa dibawa tiga orang?


...***...


Acara sulap selanjutnya di lanjutkan. Dua MC yang masih sama memberikan sambutan pada penonton. Dan tanpa berlama-lama lagi, keduanya memanggil Veriel dan Rival.


Akan tetapi, ini tak biasa. Dua pesulap yang mereka panggil tidak masuk ke area acara. Dua MC itu kembali memanggil. Namun hasilnya nihil. Dua pesulap itu masih belum juga kembali ke area acaranya.


Tak hanya dua MC ini. Para penonton juga ikut merasa heran, terutama Mirna, Shania dan Rizki. Ketiganya pun segera beraksi. Rizki segera memberikan aba-aba pada para anak buahnya untuk ikut beraksi juga dalam pencarian Veriel dan Rival.


Mirna pun sadar, inilah yang Shania maksud. Terjadi sesuatu yang buruk pada kedua pesulap itu, hingga membuat mereka hilang begitu saja, bak ditelan bumi.


...Kemana Veriel dan Rival menghilang???...


...Bagaimana bisa mereka menghilang???...


...Kalau diculik, siapa yang menculik mereka???...


...°°°...