
Belum ada pemberitahuan dari Rizki di hari Minggu ini tentang dimanakah keberadaan Yumne dan kelompoknya sekarang. Padahal, Mirna sudah pinjam 2 pasang lensa kontak canggihnya pada dua anak buahnya Rizki. Karena ada informasi kemarin, bahwa kelompok Yumne ada di kota Garutya. Lensa kontak dan gelang hidungnya juga dipinjam. Tinggal milik pribadinya yang ia simpan di kamar yang masih ada.
Sambil menunggu itu, Mirna lebih banyak bantu Bu Eka. Seperti mencuci piring, menyapu dan pel lantai, hingga menyetrika baju. Tapi bajunya sendiri. Mirna lebih sering seperti ini untuk bisa membawa dirinya tidak menjadi orang sombong atau menyuruh terus orang yang lebih tua darinya.
Tak heran kenapa Bu Eka amat sangat menyayangi Mirna. Itu karena Mirna sudah dididik olehnya sejak kecil untuk menjadi anak yang rajin dan mandiri. Karena itulah, Mirna lebih suka melakukan apapun sendiri kalau ada di rumah. Tak mau menyuruh-nyuruh neneknya.
Bahkan saat kedua orang tuanya masih ada dan mereka memiliki pembantu (walau Bu Eka juga tinggal di rumah itu), Mirna tak mau menyuruhnya. Kalau tidak sibuk mengerjakan tugas sekolah, ia pasti mendekati pembantunya dan bilang, "Biar aku yang lakuin, Bi! Bibi kerjain yang lain aja!"
Hanya satu yang tak pernah Mirna lakukan kalau mengerjakan pekerjaan rumah. Yaitu mencuci pakaian walau ada mesin cuci dan memasak. Kalau memasak, Mirna baru bisa membuat makanan sederhana. Seperti mie atau spagheti, nasi goreng atau telur. Entah itu jadi telur dadar atau telur mata sapi.
Tugas selesai sekarang. PR dari sekolah juga sudah tuntas ia kerjakan. Mirna menuju ke sebuah ruangan yang pernah ia datangi untuk mengambil barang-barang canggih buatan mendiang ayahnya itu.
Sampai akhirnya, Mirna menemukan sebuah buku yang cukup tebal dan besar. Sampulnya berwarna putih dengan gambar bunga merah muda di beberapa bagiannya. Tapi tanpa perlu bertanya lagi pada neneknya, Mirna sudah bisa menebak kalau buku seperti itu adalah album foto.
Ketika di buka, Terlihat olehnya foto kedua orang tuanya Mirna. Ayahnya tampan dan gagah, sedangkan ibunya cantik jelita. Zukonio Setyawan alias Pak Zuko itu tersenyum tampan senang sambil mengecup keningnya Mirna yang masih bayi mungil. Sedangkan ibunya menggendong sambil menyentuh kecil pipi imutnya Mirna.
Banyak koleksi foto Mirna dan mendiang kedua orang tuanya, mulai dari ia masih bayi mungil, hingga saat sudah tumbuh remaja di waktu SMA kelas 1. Namun di foto terakhirnya yang masih SMA kelas 1 itu, itulah foto terakhir Mirna dengan orang tua satu-satunya yang ia miliki saat itu. Sang ayah.
Zuko yang juga seorang detektif itu juga sama hebatnya dalam menangani kasus. Beliau juga bisa karate. Namun kalau dibandingkan, Mirna jauh lebih hebat ketimbang almarhum ayahnya. Karena Mirna sudah bisa karate sejak masih duduk di bangku SD. Sedangkan Zuko bisa karate sejak masuk usia anak sekolah SMA.
Alat-alat canggih itu dibuat Zuko saat ia sudah masuk kuliah. Otaknya cerdas dalam dunia permesinan. Mungkin Albert Einstein saja mulai kalah otaknya. Jadi bukan rahasia lagi jika alat-alat detektif milik Zuko berbeda dengan alat-alat detektif pada umumnya, khususnya Sherlock Holmes. Tak perlu lagi gunakan kaca pembesar, menggambar atau menulis ciri-ciri pelakunya dan lain sebagainya.
Mirna diam-diam membawa buku album foto itu ke kamarnya. Lalu ia mengunci pintu kamar dari dalam. Matanya pun mulai berkaca-kaca. Sedih. Menangis, akan kerinduan yang ia rasakan saat ini.
Ia anak berada yang berbeda dengan orang lain. Yang lain masih lengkap orang tuanya, bahkan memiliki saudara kandung. Akan tetapi, ia harusnya merasa beruntung. Karena ada satu lagi anggota keluarganya mencintai dan menyayangi dirinya apa adanya. Nenek yang baik hatinya, ikhlas dan tulus menjalankan amanah merawat cucunya yang sudah yatim-piatu itu. Dan mendukung apa yang dia lakukan, selama perbuatan itu masih halal untuk dilakukan.
Mata Mirna mulai meneteskan air mata, dan mengenai salah satu foto di album itu. Itu foto Mirna dengan kedua orang tua dan sang nenek, saat mereka liburan naik sebuah gunung. Karena keluarga Mirna memang pecinta alam bebas, khususnya alam di gunung.
"Mah! Pah! Aku kangen. Aku kangeeen banget sama kalian," kata Mirna kemudian memeluk album foto itu. Ia sudah menangis tersedu-sedu. Terisak-isak.
Sekarang beberapa tetes air matanya menetes dan membasahi album itu. Sebagiannya juga meluncur di pipi atasnya dan langsung lompat terjun membasahi celana yang dipakainya dan salah satu lembar halaman album itu.
...•••...
Saat itu, Mirna masih memiliki orang tua lengkap. Ia masih duduk di bangku SD kelas 5. Mirna dibangunkan oleh Siti dengan sabar. Ini hari ulang tahun Mirna. Jadi tidak dengan amarah. Memang Siti orangnya sabar.
Mirna terbangun untuk sholat subuh. Lalu segera ambil air wudhu dan laksanakan sholat subuh. Setelah itu, ia mandi dan memakai seragam putih-merahnya. Di usia yang bertambah menjadi 11 tahun ini, Mirna biasa saja. Karena tak mengapa baginya jika ulang tahun dirinya tidak dirayakan.
"Wah, putri cantik Papa udah harum!" seru Zuko di meja makannya ketika melihat kedatangan Mirna.
Mirna tersenyum dan membalas, "Papa bisa aja. Namanya juga orang mau pergi, ya harus harum sabun."
Zuko hanya tersenyum kecil mendengarnya. Ia kembali memakan roti sarapannya. Mirna duduk berseberangan dengan ibunya. Lalu membalikkan piring yang tertutup, dan mengambil dua lembar roti tawar itu. Kemudian diberi olesan selai coklat dan memakannya.
Mirna tak pernah mau makan roti tawar yang diambilkan atau diolesi selai isinya oleh orang lain. Pernah ia marah-marah sewaktu masih SD kelas 2, diambilkan rotinya oleh Siti.
"Mama! Mirna 'kan bukan anak TK lagi. Mirna aja yang ambil sendiri!" begitulah seruan protesnya saat itu.
Akhirnya, Siti menuruti apa kata putri satu-satunya itu. Dan kebiasaan hingga kini, Mirna selalu melakukan apapun sendiri. Dengan hal kecil seperti ini pun harus ia lakukan sendiri. Pokoknya mandiri!
Mirna pun pergi ke sekolah dengan gembira. Di antar sang ayah menggunakan mobil hitamnya yang cukup besar dan canggih. Setelah mengantarkan Mirna, Zuko harus segera ke kantor polisi untuk melanjutkan penyelidikan kasus pembunuhan seorang wanita muda di sebuah kamar kost-nya di kabupaten.
Saat masih SD ini, Mirna tak dapat bully. Malah dia terkenal karena anak seorang detektif ternama dan terhormat di Javabirna. Terkadang ia diburu adik-adik kelasnya. Banyak yang bertanya, seperti apa pekerjaan detektif. Atau bagaimana rasanya jadi anaknya detektif. Ada juga yang menanyakan kabarnya Zuko.
Banyak yang sering menanyakan kabar Zuko. Atau menanyakan kasus apakah yang sedang Zuko tangani saat ini. Mirna menjawab dengan halus dan sabar. Teman-teman sebayanya yang laki-laki maupun yang perempuan juga ikut bertanya.
Malah ada teman laki-lakinya yang menanyakan seperti apa desas-desus kasus itu. Dan bagaimana cara ayah Mirna menyelesaikannya dengan tuntas hanya dalam waktu singkat. Namun, Mirna hanya menjawab kalau caranya dengan menggunakan alat-alat canggih buatan Zuko sendiri.
Biarpun begitu, tapi Mirna tak pernah memberitahu pada siapapun seperti apa alat-alat canggih detektif buatan ayahnya itu. Dan teman-temannya bisa mengerti kenapa Mirna tak mau memberitahukan hal itu.
...•••...
...°°°...