Dek Mirna

Dek Mirna
Chapter XIV : Aktuelle Ausgaben Zuerst


Mirna dan Shania menuju keluar area sekolah. Shania sudah meminta pada Mirna kalau mulai hari ini, ia akan ikut Mirna dan Rizki untuk pergi menyelidiki kasus detektif ini. Selain itu, Shania juga akan selalu di sebelah Mirna jika butuh alat-alat canggih ayahnya.


Tepat saat sudah keluar area sekolah, terlihat mobil polisi sudah terparkir di depannya. Artinya Rizki sudah datang. Di dalam memang sudah ada Rizki yang kini tengah mengobrol lewat rekaman suara patrolinya pada anak buahnya di tempat lain.


"Pass banget! Ayo, kita segera cabut!" seru Rizki begitu melihat Mirna dan Shania.


"Iya, tapi kita cabut ke rumahku dulu. Aku harus ganti pakaian, ambil alat-alat papaku dan alat-alat untuk menyamar," balas Mirna.


"Untuk Tn.Thoriq, kamu bakal nyamar jadi apa?"


"Untuk kasus begini, aku nyamarnya jadi pelacur. Karena nggak mungkin aku buka jilbab aku, aku pakai wig-ku sendiri. Aku punya skenario sendiri yang selalu muncul spontan kalau digoda sama laki-laki kayak gitu."


Rizki mengangguk paham. Sampai Mirna merasa terkejut karena ada yang terlupakan baginya.


"Oh iya! Mas, kenalin ini sahabat aku, Shania. Dia orangnya baik banget. Pendiam, nggak bawel kayak cewek-cewek lain."


Sambil menyetir, Rizki melihat ke belakang lewat kaca depannya yang lebar. Ia pun memanggil Shania. Gadis di belakangnya pun terkesima dan dengan sopan membalas ucapan perkenalan diri Rizki padanya.


Sampailah mereka di rumahnya Mirna. Mirna, Shania dan Rizki turun dari mobil. Ketiganya memasuki rumah sambil mengucapkan salam. Bu Eka yang tengah memasak di dapur menjawab salam ketiganya. Mirna dan Shania bersalaman tangan dengan Bu Eka, sedangkan Rizki hanya menyatukan kedua tangannya untuk menghormati Bu Eka yang bukan muhrimnya.


"Mau bantu Mirna tugas selidiki orang lagi, ya?" tanya Bu Eka dengan tersenyum.


"Iya, Bu. Katanya mau selidiki target yang namanya Tn.Thoriq," jawab Rizki.


Bu Eka membenarkan. Ia juga bercerita sedikit bahwa Thoriq ini adalah suami dari sahabat almarhumah ibunya Mirna.


Rizki dan Shania mengangguk paham. Dan Mirna pun datang dengan penampilan seperti anak-anak dugem. Namun lebih tepatnya anak gadis yang berpenampilan seperti laki-laki. Memakai celana jeans, jaket kulit, dan kerudung segitiga yang dipasangkan pin agar tidak terbuka saat kena angin nanti.


"Ini alat-alat canggih papaku udah ada di dalam tas ini, sama wig-nya juga. Jadi nanti tinggal dipakai saat mau menginvestigasi target," kata Mirna sambil memberikan tasnya pada Shania.


"Kamu nggak bawa mukena dan sejadah, Mir?" tanya Bu Eka.


"Nggak, Nek. Aku mulai saat masih di sekolah tadi. Untungnya masih ada uang jajan untuk beli itunya."


"Ya udah kalau gitu. Hati-hati, ya! Pulangnya jangan kemalaman!"


"Bereslah, Nek! Nanti diantar sama Mas Riz."


Ketiganya pun pamit pergi. Bu Eka melepas kepergian cucunya yang meneruskan jasa sang ayah untuk mendamaikan dua insan yang saling berselisih itu.


Namun sebelum penyelidikan dimulai, ketiganya harus antarkan dulu Shania pulang. Ia harus berganti baju juga menjadi baju untuk pergi.


Rumah Shania berada di dalam sebuah komplek perumahan yang cukup ramai juga. Begitu sampai di rumah, hanya Shania yang turun dari mobil. Kebetulan kedua orang tuanya bekerja, dan kakaknya kuliah di luar negeri. Jadi Shania hanya diasuh pembantunya selama ia ditinggal kerja ortunya.


Sambil menunggu Shania balik ke mobil, Mirna mendapat pesan foto dan sebuah ketikan alamat dari Delia. Memberitahukan dimanakah kantornya Thoriq bekerja.


Mirna memberikan kiriman foto dan alamat itu pada Rizki, "Ini foto orangnya, Mas. Kalau yang di bawah itu alamat kantor perusahaannya."


Rizki menerima ponselnya Mirna. Ia pun mengangguk paham dan berkata, "Ya. Aku tahu arah menuju perusahaan ini. Jadi, kamu jangan pakai lensa kontakmu!"


"Ya udah," balas Mirna singkat.


Tak berapa lama setelah itu, Shania kembali ke mobil. Sekaranglah saatnya untuk melakukan penyelidikkan ke perusahaan itu. Tanpa berlama-lama lagi, Rizki pun menginjak gas mobilnya perlahan.


Rizki meng-gas mobilnya dengan santai. Karena ia sungguh-sungguh tahu arah jalan ke perusahaannya Thoriq. Katanya, ada salah satu anak buahnya yang sering patroli di sana. Karena sering terjadi tawuran antar anak SMA di tempat ini, dan harus pihak kepolisian yang menanganinya.


Sesampainya di sebuah perusahaan, Mirna menuju ke sebuah toilet umum di sebuah SPBU yang ada di sebelah gedung perusahaan itu untuk ganti penampilan. Mirna meminta Shania untuk menemaninya ke sana. Sementara Rizki menunggu di mobil.


"Ini untuk pemberitahuan apa yang sedang terjadi dan apa yang dia lakukan! Pakainya hati-hati, jangan sampai ketahuan!" pinta Rizki sambil memberikan perekam suara yang berantena itu.


"Siap! Aku segera bergegas ya!" balas Mirna.


Rizki mengangguk dan sekali lagi mengingatkan Mirna untuk berhati-hati. Mirna mengangguk, dan segera keluar mobil bersama Shania.


Di toilet umum, Mirna segera memakai wig dan sepatu hak tingginya. Ia juga mengganti celana jeans-nya dengan celana karet panjang hitam. Lalu memakai rok panjang dan lebar seperti rok-nya gaun.


"Ini kosmetiknya, Mir. Aku yang dandanin, ya!" pinta Shania.


"Iya," balas Mirna pendek.


Shania pun mendandani Mirna dengan perlahan dan hati-hati sambil melihat cermin toilet. Kebetulan masih belum ada yang datang ke toilet perempuan ini.


Beberapa saat kemudian, Mirna selesai di dandani. Wig-nya juga sudah ia sisir, jadi nampak sangat rapi juga. Jika sudah tertangkap basah sang pelaku, maka wig itu akan ia lempar untuk dilepas. Memang begitulah cara Mirna menangkap pelaku perselingkuhan itu dalam penyamarannya menjadi seorang gadis kupu-kupu malam.


"Beres, deh! Kamu cantik juga kalau begini!" seru Shania memuji Mirna lewat pantulan cermin besar di depannya dan Mirna.


"Iya. Makasih ya, Shan! Aku nggak nyangka kamu pinter banget dandani orang," balas Mirna memuji juga.


"Mamaku 'kan kerjanya jadi tukang dandani pengantin, penyanyi atau pagelaran teater drama. Jadi udah biasa. Aku pun diajari gitu."


Mirna mengangguk paham. Lalu memberikan aba-aba pada Rizki untuk menjemputnya di toilet umum itu, karena malu dilihat oleh orang-orang yang ada di sana. Jadi saat keluar toilet, Mirna harus segera ditarik ke mobil secepat kilat.


"Tes satu-dua! Kepada Tn.Rizki di mobil, jemput saya di toilet! Ganti!"


Rizki yang mendengar langsung membalas, "Baik, saya segera jemput ke toiletnya."


Rizki pun membelokkan mobilnya masuk ke SPBU itu. Dan membantu Shania menuntun Mirna jalan untuk masuk secepatnya ke mobil, agar tidak diketahui oleh siapapun di sini selain mereka berdua.


"Baik, sekarang kita tunggu orangnya di parkiran mobil," kata Mirna.


"Lebih baik di luar tempat parkir. Karena satpam pasti akan curiga jika melihat ada mobil polisi masuk perusahaan ini," Rizki memberi saran.


Mirna menuruti saran Rizki. Bagi Rizki, yang jelas tahu nomor polisi mobilnya. Jadi bisa diikuti diam-diam.


"Tahu nomor polisinya?"


"Ya, ini sudah diberitahu oleh Tante Delia."


"Bagus. Kita tinggal tunggu aja mobilnya."


Mereka pun menunggu arah mobilnya. Hingga sore hari pun tiba. Kira-kira menjelang ashar. Mobilnya Thoriq belum juga keluar. Tapi ketiganya berusaha sabar.


...°°°...