
Di tunggu mobilnya Thoriq belum juga keluar. Bahkan hingga membuat Rizki dan Shania tertidur pulas setelah sholat ashar. Sementara mata Mirna terus tertuju fokus pada sebuah tempat keluar mobil dari perusahaan itu.
Namun kedua telinganya ditutupi oleh headset untuk mendengarkan musik dari ponselnya. Sampai waktu pun menunjukkan pukul 5 sore. Terlihatnya mobilnya Thoriq keluar dari area perusahaan tersebut. Mirna segera membangunkan Rizki untuk mengendarai mobilnya mengikuti arah mobil Thoriq.
Rizki terbangun, dan segera tancap gas mobilnya. Mobil Thoriq pergi ke suatu daerah yang amat ramai. Hingga akhirnya sampailah mereka di sebuah diskotik. Diskotik itu belum terlalu ramai. Maklum saja karena masih sore hari. Biasanya tempat ini mulai ramai setelah waktu magrib.
Mobilnya Thoriq sudah terparkir rapi. Sedangkan mobilnya Rizki berada di depan sebelah halte sebelah diskotik itu. Mirna pun segera beraksi sendirian.
"Nanti tunggu aba-aba dari aku, kalau Oum Thoriq mau ke hotel! Baru kita bisa tangkap di sana," pesan Mirna pada Rizki sebelum keluar mobil.
"Okey. Kamu hati-hati, ya! Jangan sampai ketahuan, dan waspada kalau kamu di ajak minum minuman yang begituan!" balas Rizki juga memberi pesan.
"Pastinya, Mas. Aku udah biasa nyamar begini."
Mirna pun segera keluar mobil. Setelah menutup pintu mobil, ia menata kembali sedikit wig-nya agar rapi dan tidak mudah lepas. Supaya tidak mudah ketahuan juga oleh siapapun. Karena ia punya firasat juga, kalau orang-orang diskotik pasti tahu siapa dia sebenarnya.
Mirna masuk dengan perlahan, bergaya seperti orang yang benar-benar mau menikmati suasana diskotik dengan musik DJ dan dugemnya. Celana karet yang tidak terlalu ketat itu bisa membuatnya menutupi aurat kakinya, dengan rok mini di atasnya. Perhiasan yang dipakai pun sederhana, karet gelang hitam biasa. Kalungnya juga kalung karet yang cukup panjang.
Namun baru saja masuk, ternyata penyamaran Mirna sebagai anak dugem sudah berhasil membuat beberapa anak anak muda laki-laki mempercayai begitu saja, kalau Mirna benar-benar gadis dugem pada umumnya. Gadis diskotik. Bukan gadis detektif yang terkenal di negara ini.
"Halo, cantik! Boleh kenalan, nggak?" tanya salah satu anak muda cowok itu. Usianya terlihat jauh lebih tua daripada Mirna, kira-kira usia anak kuliahan.
Cowok itu membuat Mirna sedikit terkejut. Dengan sedikit gemetar ia menjawab, "Mmm...boleh. Aku...Emmm...Ica."
"Ica? Nama yang cantik dan imut. Kayak orangnya," kata cowok lainnya.
Mirna hanya tersenyum kecil. Namun, ia sedikit gelisah karena harus buru-buru mencari Thoriq. Tapi, nampaknya oum-oum yang satu ini seperti semut, kecoak atau nyamuk, susah ditangkap.
Mirna yang menyamar menjadi gadis yang bernama Ica itu segera pamit pergi menghindar dari kawanan anak muda cowok yang kuliahan itu. Ia harus buru-buru mencari Thoriq untuk menangkapnya hari ini juga, karena takutnya dapat permintaan baru dari klient terbarunya.
Sayangnya, salah satu cowok itu menghalanginya. Ia mencegah Mirna untuk pergi meninggalkan mereka, "Yah...jangan terburu-buru napa, Sayang! Udah di sini aja, sama kita-kita."
Salah satu dari mereka meminum bir dari botol kaca hijau itu kemudian menambahkan, "Iya, cantik! Udah di sini aja. Mending pesta ini."
Mirna jadi sedikit ketakutan. Tapi, akal bulusnya selalu langsung muncul. Ia pun membalas, "Maaf seribu maaf, nih! Aku mau sama kalian. Tapi, udah ada pacar aku yang nunggu di sana. Nanti dia marah kalau lihat aku sama kalian. Nanti disangka selingkuh."
Beruntunglah untuk Mirna, karena anak-anak muda itu percaya apa kata Mirna. Maklum saja karena otak mereka sudah dikuasai oleh pengaruh alkohol dari khamr yang mereka minum. Mereka pun berlagak kecewa karena Ica alias Mirna ini sudah punya pacar.
Akhirnya, mereka membiarkan Mirna pergi. Bahkan salah satu dari mereka dengan suara sendawa dan badan mabuknya malah berkata, "Ya udah. Sana, cari cowok kamu, gih! Kasihan kalau dia kelamaan nunggu kamu di tempat ini."
"Ya, makasih atas pengertian kalian! Sekali lagi, saya mohon pamit. Permisi!"
Anak-anak muda itu melambaikan tangan pada Mirna seperti anak kecil. Mirna membalas dengan senyuman kecil saja. Setelah cukup jauh ia berhasil menghindar dari cegatan anak-anak muda pemabuk itu, Mirna segera mencari-cari Thoriq.
Mirna mencari dengan teliti. Sambil mencari, ia mengirim laporan suara pada Rizki, "Mirna lapor pada Mas Rizki! Target masih belum di temukan. Sekali lagi, target belum ditemukan. Ganti!"
Mirna berhenti memberikan laporan. Dan balasan suara pun datang dari Rizki, "Kepada Dek Mirna dari Rizki! Cari dengan teliti! Sekali lagi, cari dengan teliti, ganti!"
"Laporan saya terima. Siap laksanakan, ganti!"
Mirna tak dapat balasan dari Rizki. Hingga akhirnya, target ia temukan. Ia tepat berada dekat tempat para pengunjung diskotik untuk minum sambil duduk di sofa yang tidak terlalu lebar dengan meja kaca di depannya. Dan tempat duduk Thoriq sedikit dekat dengan speaker musik DJ.
Setelah ditemukan, Mirna segera memberikan lagi laporan suara, "Mirna lapor pada Mas Rizki! Target ditemukan sedang minum. Sekali lagi, target ditemukan sedang minum, ganti!"
"Kepada Dek Mirna dari Rizki! Target minum sendiri atau dengan perempuan? Ganti!" balas Rizki dengan tanya.
"Dengan dua orang perempuan, di kanan dan kirinya, ganti!"
"Mulai lakukan pengintaian yang biasa kau lakukan! Laporan telah saya terima, ganti!"
"Siap laksanakan, ganti!"
Setelah melapor, Mirna segera melakukan penyamarannya sebagai pelacur itu. Dan ia kembali menyamarkan namanya sebagai Ica. Segera ia dekati Thoriq.
Mirna berakting sebagai pelacur yang jalan seksi tepat di depan Thoriq. CEO yang sudah berusia sekitar 50 tahunan lebih yang awalnya tengah melakukan canda tawa sambil minum dengan wanita-wanita cantik muda nan seksi terbuka pakaiannya itu, tiba-tiba jadi salfok karena kehadiran Mirna.
Thoriq pun segera mendekati Mirna. Ia pamit pada gadis di kanan dan kirinya. Dan ini berhasil dilakukan Mirna. Gaya akting dalam penyamarannya sebagai pelacur memang tak pernah gagal. Pernah gagal, tapi hanya satu kali saja. Saat itu ia masih belajar, dan sang ayah masih ada.
"Hei! Boleh kenalan? Kamu cantik banget!" seru Thoriq mengajaknya kenalan dan memuji Mirna sampai berapi-api.
Dengan percaya diri tingginya Mirna menjawab, "Boleh, Oum. Saya Ica."
"Oh...Ica. Nama yang cantik, secantik orangnya."
"Oum bisa aja!"
"Saya Thoriq. Dan jangan panggil Oum. Panggil saya, Mas. Okey?"
"I...iya, Oum. Eh, Mas!"
Mungkin karena sudah langsung terpana, Thoriq langsung saja membawa Mirna ke sebuah tempat. Ya, ia mengajak ke hotel. Hotel yang cukup mahal.
Namun, sebagai pelacur palsu Mirna harus sedikit berlagak seperti pelacur, "Mmm...apa nggak takut dimarahin karena telat pulang, Mas?"
Thoriq tertawa dengan percaya diri tingkat dewanya dan menjawab, "Nggak kok, Sayang. Yuk, udah nggak sabar nih!"
Mirna pun menyanggupi. Ia pun keluar diskotik bersama Thoriq. Keduanya menuju parkiran mobil. Lalu segera pergi dengan mobilnya Thoriq. Mobilnya Thoriq pun siap diikuti oleh mobil polisinya Rizki.
Rizki harus menyetir ekstra hati-hati, agar tidak dicurigai Thoriq kalau ia diikuti oleh polisi.
Dan sampailah mereka di sebuah hotel mewah. Keduanya menuju ke tempat resepsionis hotel untuk mendapatkan kunci kamar. Setelah itu, mereka menuju ke lift. Dalam lift, Mirna memberitahukan nomor kamarnya pada Rizki melalui pesan WhatsApp. Rizki dan Shania segera menuju ke sana. Tapi melalui tangga.
Sesampainya di sana, Mirna dan Thoriq segera menuju kamar kedua di sebelah kiri lift. Kemudian masuklah keduanya dengan beradegan mesra bagai sepasang kekasih.
Dalam kamar, Mirna izin pada Thoriq untuk mengirim pesan pada ibunya. Padahal, tentu aslinya ia kirim pesan pada Rizki.
[Aku udah di kamar, nih! Sedikit percepat datang. Tunggu aba-abaku kalau udah sampai di depan kamar!]
Kebetulan Rizki sudah sampai saat pesan itu tiba. Rizki melihatnya dan membaca, kemudian ia membalas.
[Kami udah sampai. Kami tunggu aba-aba kamu di depan pintu kamar.]
[Ya. Siapkan aja pistolnya! Dan buat Shania, siapkan tali aja.]
Rizki menunjukkan balasan pesan dari Mirna. Shania pun merogoh tas Mirna, dan mengambil talinya.
Di dalam kamar, Mirna ditanya Thoriq, "Udah belum?"
"Udah, Mas. Ayo, kita mulai!" jawab Mirna cepat. Ia simpan ponselnya di meja sebelah kanan kasur hotel.
Mirna diminta yang membuka terlebih dahulu. Di saat inilah, ia selalu membuka identitasnya untuk menangkap sang pelaku tersebut. Mirna melepas jaket dan rok mininya.
Thoriq kebingungan melihat Mirna seperti ini. Dan wig itu juga dilepas lalu dilempar ke lantai. Dan dengan berlagak seperti polisi, Mirna berseru, "Jangan bergerak!"
Thoriq kaget bukan main. Ia pun segera tahu, bahwa Ica ini bukan pelacur sungguhan. Melainkan Mirna yang ia kenal tak hanya sebagai gadis detektif penangkap tukang selingkuh. Tapi juga anak dari sahabat istrinya.
Mirna mengetuk pintu, memberikan aba-aba pada Rizki untuk segera menangkap Thoriq. Rizki dan Shania masuk. Thoriq mulai panik dan tertangkap basah. Segera saja, ia di tembak oleh Rizki. Dan badannya segera diikat oleh Mirna dengan talinya.
"Dek...Dek Mirna!" serunya dengan gemetar takut.
"Segera masuk ke penjara!" pinta Mirna tegas.
Anak buah Rizki yang sudah Rizki hubungi segera memborgol Thoriq. Segera saja ia dibawa ke kantor polisi. Dan talinya dibuka di sana. Thoriq pun dinyatakan bersalah.
...Kasus selesai!...
...°°°...