
Pertempuran dahsyat Mirna dan Yumne yang keempat kalinya kemarin adalah pertempuran paling dahsyat. Sampai masuk ke siaran berita di stasiun TV. Berita ini sampai ke Javabirna juga.
Setelah bertempur, Mirna dirawat di rumah sakit di Javabirna selama 2 hari. Bersama Rizki dan 4 anak buahnya yang juga ikut terluka. Bu Eka tahu dari berita TV. Ia menemani cucunya dengan ikhlas dan tulus. Ia tidak memarahi Mirna.
Sella sebagai istrinya Rizki juga tidak marah. Ia justru mendukung dan salut pada Mirna yang senekat itu melakukan tugasnya, sebagai detektif andalan Javabirna untuk menangkap penjahat yang satu ini. Namun, ia juga menasihati Mirna agar tidak memaksakan diri jika kesulitan menangkap villain seperti Yumne.
"Bagiku itu sudah biasa, Mbak," kata Mirna santai.
"Tapi kamu dalam keadaan seperti ini. Jadi jangan dipaksa! Bisa-bisa, nyawamu tercabut sama dia," kata Sella cemas.
"Aku nggak akan kenapa-kenapa, Mbak. Membela kebenaran memang harus ada pengorbanan seperti itu. Biarpun nyawa taruhannya."
Sella tersenyum. Ia pun terdiam. Kemudian melihat keadaan suaminya yang kini diperban tangan kanannya. Lukanya Rizki hanya di bagian lengan tangan kanannya yang paling parah. Sisanya hanya luka yang dikompres dengan air hangat di wajahnya.
...***...
Sore harinya saat sudah pulang. Mirna menghabiskan waktunya dengan membaca buku sambil menutup kedua telinganya dengan earphone untuk mendengarkan musik. Tak lama kemudian neneknya memanggil.
"Mirna! Ada tamu nih buat kamu!"
Mirna melepaskan earphone-nya. Bukunya ia tutup dan melihat siapa yang datang. Ternyata itu Shania dan ibunya. Mirna menyambut kedatangan sahabatnya itu dengan senang hati. Lukanya sekarang sudah sedikit membaik.
"Ini, kami bawakan buah-buahan sama makanan ringan buat kamu," kata ibunya Shania dengan senang hati.
"Makasih, Tante! Ini jadi berharga bagi Mirna dan Nenek," balas Mirna.
"Sama-sama, Cantik. Semoga cepat sembuh, ya! Dan bisa lanjutkan misi melindungi negara ini."
Mirna hanya tersenyum mendengar kata-kata itu. Ia pun duduk di sofa dengan tuntunan dari neneknya, agar ia tidak salah duduk. Mirna duduk terdiam. Yang mengobrol hanya Bu Eka dan ibunya Shania. Sampai terdengar obrolan mereka oleh Mirna.
Sejak kejadian kemarin saat di Kalimatana, Shania ingin mendonorkan matanya untuk Mirna. Ini amat mengejutkan Mirna dan neneknya. Malahan Mirna menyangka kalau Shania bercanda.
"Tante juga sempat ngelarang dia. Nasihatin dia. Kalau kasihan sama Mirna, kirimkan do'a saja agar ada orang lain yang mau donorkan matanya untuk kamu. Tapi Shania tetep ngotot. Maunya mata dia yang didonorkan buat kamu," jelas ibunya Shania.
Mirna terharu. Begitu juga neneknya. Namun keduanya setuju dengan kata-kata ibunya Shania. Biar orang lain saja yang donorkan matanya untuk Mirna. Jangan Shania.
"Nanti kamunya yang cacat mata, Shan! Janganlah senekat itu!" Mirna menolak halus.
Shania beranjak dari tempat duduknya. Ia pun mendekati Mirna dan berkata, "Kamu butuh mata yang normal. Negara ini butuh bantuan kamu! Kamu harus segera dapat mata normal lagi. Kalau nggak, aku yakin sampai kapanpun kamu nggak akan menang lagi lawan Yumne."
Mirna terdiam. Memang benar apa yang dikatakan Shania. Sudah dua kali ia kalah berperang dengan Yumne dan pasukannya. Apalagi sekarang Johana juga sakti dengan jurus ilmu hitamnya. Pertempuran kemarin bahkan nyaris benar-benar membuat Mirna tewas terbunuh.
"Tolong, Mir! Please, terima tawaranku ini! Negara ini lebih butuh kamu," pinta Shania penuh harap.
Tidak ada pilihan lain. Akhirnya Mirna mau mendapatkan bantuan Shania ini. Dan pendonoran mata akan dilakukan lusa nanti, setelah Mirna benar-benar sudah pulih total dari luka-luka di tubuhnya.
...***...
2 hari kemudian...
Mirna dan Shania dibawa ke ruang operasi di rumah sakit. Walau gemetar takut untuk Shania, namun ia tetap mau melakukan itu demi sahabatnya bisa melihat dengan normal lagi seperti dulu. Biarlah Shania yang buta selamanya.
Di rumah sakit, yang menemani mereka adalah Bu Eka dengan kedua orang tuanya Shania. Rizki tidak ikut menemani karena ada tugas patroli. Namun, ia dan Sella akan datang jika operasi itu sudah selesai.
Operasi berjalan lancar selama 3 jam lebih. Perban Mirna dibuka perlahan. Ia bisa melihat lagi. Meskipun rabunnya ada juga dari Shania, namun itu tak membuat Mirna kecewa. Rabun mata Shania dengannya pun bisa secara kebetulan sama.
Shania tersenyum mendengar Mirna sudah bisa melihat lagi. Walaupun rabun matanya juga ikut pada Mirna. Akan tetapi dari butanya, ini malah membuat suatu hal yang luar biasa pada Shania.
...°°°...