Dek Mirna

Dek Mirna
Episode XL : I am Dek Mirna


Tugas berat menangkap pelaku yang jadi musuh bebuyutannya telah berakhir. Namun, tugas Mirna sebagai detektif tetap saja belum berakhir. Banyak yang membutuhkan jasanya untuk menyelesaikan dan mengungkapkan kebenaran.


Dirinya diundang ke istana presiden. Presiden Javabirna, Pak Joko, berpidato terlebih dahulu. Sementara Mirna berdiri sejajar di belakangnya bersama Rizki dan Shania. Mereka dikumpulkan bersama para anak buah kepolisian Javabirna.


Di depan jepretan foto kamera para wartawan dan warga negara Javabirna, mereka tersenyum biasa. Bu Eka yang duduk sebagai tamu khusus karena ia keluarga utamanya Mirna, tersenyum haru. Bangga atas apa yang cucunya lakukan selama ini, menggantikan tugas almarhum putra dan almarhumah menantunya.


Di sebelah kanannya ada Sella. Ia juga amat bangga atas apa yang suaminya lakukan selama ini. Dia tersenyum dengan tangis haru, sambil menggendong putrinya yang masih kecil. Ia juga dapat kursi sebagai tamu utama yang berwenang.


Keluarga Shania juga datang. Tak menyangka, sejak putri mereka jadi tunanetra, ternyata malah jadi orang sakti, tangguh. Bisa mendeteksi orang yang berbohong atau jujur. Namun dia juga tak kalah lincah dengan sahabatnya.


Tak hanya keluarga. Tapi para guru SMA-nya Mirna dan Shania juga ikut datang dan dapat tempat duduk di istana presiden itu. Mereka turut bangga atas prestasi dua anak didik mereka. Sisanya, ada Banyu, Febri, kemudian Beim dan Ronzi pun turut hadir. Di tambah lagi keluarganya Beim dan Ronzi, Anti serta ayah baru mereka yang turut hadir, Irwanta Mersi.


Dan terakhir, ada juga dua pesulap yang diidolakan Mirna, Veriel serta istrinya serta Rival dan juga pacar yang kini jadi tunangannya.


Ketika Pak Joko memanggil Mirna, satu istana bertepuk tangan dengan meriah. Mirna diminta berpidato. Dengan semangat gadis itu berkata dengan sedikit berapi-api di podium.


"Assalamualaikum, semuanya! Kalian mungkin sudah tahu siapa saya. Saya amat berterima kasih pada Allah SWT, yang telah banyak membantu saya memberikan kekuatan, khususnya dalam menghadapi berbagai cobaan. Tak lupa pada Baginda Rasulullah Saw, lalu keluarga saya yang sudah wafat maupun yang masih hidup. Kemudian pada pihak kepolisian Javabirna yang telah membantu saya dalam menangani berbagai kasus. Tak lupa juga para sahabat saya di sekolah serta para guru, yang turut mendukung saya. Terakhir pada para warga yang meminta bantuan jasa saya. Senang bisa membantu anda semua. Sekian dari saya, terima kasih! Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh!"


Satu istana presiden bertepuk tangan kembali. Kini presiden memanggil Rizki, sebagai kepala atau ketua kepolisian Javabirna untuk berpidato juga. Satu istana kembali bertepuk tangan. Sama persis seperti Mirna, pidato Rizki juga ucapan terima kasih. Namun, ia menambahkan dengan semangat pada rakyat negara agar menjaga kehormatan satu negeri ini sebagai manusia beradab.


Pidato pun berakhir. Mereka diminta maju ke depan dan membungkukkan badan. Tanda ucapan terima kasih sekali lagi. Sekarang satu istana presiden bertepuk tangan untuk yang terakhir kalinya. Tapi ini lebih meriah lagi. Ketika berdiri tegak, Mirna serasa melihat ada arwah sang ayah dan ibunya berdiri di sebelah kiri Bu Eka. Keduanya juga ikut tersenyum bangga.


Mirna melambaikan tangan sambil tersenyum dan mulai menangis haru. Biarpun sudah wafat, tapi kedua orang tuanya rupanya masih sanggup hadir melihat kesuksesan putri tunggal mereka, walau hanya hadir sesaat. Dan akhirnya hilang lagi.


...***...


1 tahun kemudian, setelah ujian SMA...


Mirna, Shania, Banyu, Febri dan yang lainnya melempar topi wisuda mereka. Jeritan lulus sekolah amat sangat membahagiakan dan merupakan momen yang ditunggu-tunggu. Apalagi Mirna dapat juara kelas, tak hanya jadi juara sebagai detektif swasta muda negeri ini.


Ucapan selamat ia terima. Foto wisuda dengan Bu Eka juga sudah dilaksanakan. Hingga saat tengah mengobrol, tiba-tiba datanglah Hannah dan Ikbal padanya.


Sambil menangis, gadis itu memeluk erat Mirna. Ia meminta maaf atas apa yang pernah diperbuatnya selama masih sekolah dulu. Ikbal juga demikian, tapi tidak sampai memeluk Mirna.


Mirna tersenyum kecil. Ia pun membalas, "Sebelum kalian meminta maaf pun, aku sudah memaafkan kalian. Ku harap kalian tidak seperti itu lagi!"


Hannah mengangguk dan berkata, "Kau juga sama. Makin sukses memecahkan kasus rumah tangga yang misterius. Mencegah terjadinya KDRT serta mengurangi LGBT dan wanita pelacur."


"Ku harap juga begitu."


Keduanya kembali saling berpelukan. Dan sekarang saatnya mereka berpisah. Entah kapan bisa bertemu lagi.


...***...


1 bulan kemudian...


Setelah kuliah selama satu bulan di sebuah universitas ayahnya dulu, Mirna malah di datangi oleh Ronzi dan keluarganya. Ia datang dengan tujuan yang amat mengejutkan. Ia mau melamar Mirna untuk menjadi istrinya.


Mirna tak percaya dengan semua itu. Tapi, ia jadi mengerti kenapa Ronzi menyukainya. Tak hanya karena dia putri kandung sang idola, tapi karena memang Mirna wanita yang tangguh. Tak mau pacaran, gadis itu langsung melakukan pengenalan diri lebih jauh lagi dengan Ronzi. Hingga akhirnya ia menerima lamaran itu.


Banyu yang awalnya menyukai Mirna, bisa mengikhlaskan Mirna bersama Ronzi. Karena ia laki-laki yang baik, dan bisa menerima semua itu. Jika jodohnya bukanlah Mirna, cowok itu bisa baik sekali. Tak apa, karena ia sama seperti Mirna. Tak mudah terlena dengan dunia 'cinta'. Ia berharap, memang Ronzi-lah pasangan yang cocok untuk Mirna.


Ia datang ke pernikahan Mirna dan Ronzi. Banyak mendatangi pernikahan mereka. Bahagia, tak lupa daratan. Bahkan Yumne juga turut hadir, walaupun ia dikawal polisi. Hingga kini, tugas Mirna terus berlanjut sebagai detektif khusus masalah rumah tangga.


...~ The End ~...


{Itulah kisah ku. Tak peduli apa kata orang. Hingga kini, tugasku masih terus berlanjut. Namun, aku berhenti saat ada penerusku. Lihat saja nanti, siapa yang akan meneruskan pekerjaan ini di generasi berikutnya!


...Siapa aku?...


Akulah, Mirna Setyawati. Panggil aku:


...Dek Mirna!}...