
Mirna istirahat sejenak di kamar sambil menyentuh kulit di wajahnya. Kulit yang ditutupi plester karena terluka sampai memerah darah. Tepatnya berada di sebelah kanan bibirnya. Ia jadi seperti orang yang tengah sakit gigi.
Baru saja tenang dirinya setelah kelelahan juga karena habis melakukan perkelahian yang cukup dahsyat hari ini, tiba-tiba neneknya mengetuk pintu kamar sambil menyebut namanya.
"Masuk aja, Nek! Nggak dikunci," kata Mirna dari dalam.
Bu Eka membuka pintu kamar cucunya, dan melihat apa yang sedang dia lakukan saat ini. Mirna hanya terduduk bersandar di kasur, sambil menyentuh pipinya yang terluka itu.
"Emang sakit, ya?" tanya neneknya. "Makanya jangan sampai berantem gitu! Apalagi kamu 'kan perempuan."
"Nggak sakit sih. Cuman mau sentuh aja. Lagian ini luka merah biasa, nggak sampai berdarah betulan," balas Mirna halus.
"Ya udah terserah. Ini, telepon dari Delia. Katanya, dia minta bantuan kamu untuk selidiki sesuatu."
Mirna menghela nafas panjang. Ia pun mengambil telepon rumah itu dan memanggil seorang tante yang bernama Delia itu. Sebetulnya, dia adalah sahabat almarhumah mamanya Mirna dulu. Sahabat sewaktu masih sekolah SMA.
Tante Delia sudah lama kenal Mirna dan amat sangat akrab. Keduanya sama-sama sangat suka dunia buku. Sama-sama kutu buku, buku apapun itu. Khususnya buku cerita novel. Dan Tante Delia sendiri sekarang jadi seorang penulis buku.
"Assalamualaikum, Tante! Apa kabar?" Mirna memanggil dan basa-basi sejenak menanyakan kabar. Karena keduanya sudah jarang bertemu setelah pemakaman ibunya Mirna.
"Wa'alaikumsalam, cantik! Alhamdulillah Tante sehat-sehat aja," jawab Delia dengan senyum.
"Ngomong-ngomong, ada yang bisa Mirna bantu?"
"Ada. Ada banget. Ini tentang suaminya Tante. Kamu masih ingat 'kan siapa?"
"Iya, masih. Emang ada apa sama Oum Thoriq?"
Delia menjelaskan apa masalahnya pada Mirna, tentang sang suami yang bernama Thoriq. Ia adalah seorang CEO paling tajir. Punya banyak cabang pabrik tekstil dan makanan ringan di berbagai tempat, bahkan sampai keluar negeri Javabirna, seperti Sumatrani, Kalimatana, Sulawesia dan Papuani. Pusatnya tentu ada di Baradina ini. Orangnya memang baik, dan sangat suka anak-anak.
Namun, akhir-akhir ini sikapnya Thoriq aneh. Tidak seperti biasanya, ia selalu pulang malam. Dan kalau sedang weekend, tak pernah ada di rumah. Tidak pernah lagi berkumpul dengan keluarganya. Ia selalu pergi dengan alasan diajak main dengan kerabat kerjanya yang juga sesama CEO.
"Tante cemas. Takutnya dia cuman nge-less aja. Dia bohong jadinya. Bisa aja selama weekend 2 minggu ini, dia ternyata pergi untuk selingkuh. Bukan main sama rekan sesama CEO," tambah Delia sambil menunjukkan wajah khawatirnya.
"Wah, kasihan amat! Ya udah, insya Allah Mirna akan selidiki Sabtu nanti sepulang sekolah," balas Mirna.
"Makasih ya, Sayang! Kalau udah berhasil, kabarin Tante lewat telepon HP ya! Nanti Tante ke rumah sambil bawa uang bayarannya."
"Iya, Tante. Sama-sama."
"Ya, semoga berhasil ya!"
"Okey!"
Mirna kembali menyerahkan teleponnya pada Bu Eka. Dan obrolan pun diakhiri oleh salam Bu Eka pada Delia. Mirna tinggal tunggu kiriman fotonya Thoriq, walau Mirna masih ingat rumah dan wajahnya Thoriq.
Nanti Mirna juga mau meminta bantuan Rizki untuk mencari tahu tentang Thoriq yang sekarang hobi pergi tanpa keluarganya jika sudah masuk akhir pekan.
...***...
Besoknya di sekolah, Mirna menghubungi Rizki. Ia secepat kilat menghubungi karena sebentar lagi bell masuk akan berbunyi. Saat ditelepon, yang menjawab ternyata asistennya Rizki.
"Hallo, dengan siapa ini?"
"Saya Mirna. Saya mau bicara dengan Pak Rizki," jawab Mirna tegas dan sedikit gemetar. Karena takut kalau saat ia tengah menelepon, tiba-tiba bell masuk berbunyi.
"Oh...Pak Rizki sedang patroli, Dek Mirna. Katanya mau menelusuri hotel yang jadi tempat persembunyian musisi Yumne dan selingkuhannya. Setelah penelusuran itu, beliau akan beritahu anda."
Mirna terdiam sejenak. Namun ia biarkan saja kalau Rizki yang menyelidiki lebih lanjut tentang Yumne dan Johana.
"Ya sudah, terima kasih. Katakan pada beliau, kalau saya menelepon, ya!"
Mirna mengucapkan salam dan menutup telepon. Kini saatnya ia masuk kembali ke kelas, setelah menelepon Rizki di balkon (karena kelas Mirna ada di lantai atas).
Waktu istirahat tiba. Mirna melihat ponselnya, ada telepon tak terjawab dua kali dari Rizki. Mirna pun bergegas ke sebuah warung kecil dekat sekolahnya dan menghubungi Rizki lagi. Kali ini, yang menjawabnya benar-benar Rizki.
"Maaf, Mas! Tadi aku masih belajar di kelas," Mirna meminta maaf pada Rizki.
"Ya nggak apa-apa. Saya mengerti," balas Rizki.
"Jadi gimana, ada informasi baru?"
Rizki menghela nafas kecewa. Dan ia pun menjawab, "Tadi nyaris ketangkap. Tapi sayang, dia, Johana, sama anak buahnya yang lain berhasil kabur. Mereka pun pindah tempat. Udah nggak di hotel itu lagi."
"Mereka kabur ke tempat lain?"
"Iya. Tapi aku udah kirim beberapa anak buahku untuk ikuti mereka. Jadi, lensa kontakmu bisa menelusuri arah anak-anak buahku nanti."
Mirna terdiam sejenak. Dan ia pun berkata, "Ya udah. Besok kita telusuri. Soalnya, malam ini saya butuh bantuan Mas untuk melakukan investigasi seorang CEO yang selingkuh. CEO ini suaminya sahabat almarhumah mamaku."
"Baik, aku ikut. Dimana kita janjian?" tanya Rizki tak sabar.
"Depan sekolahku aja. Kebetulan hari ini aku bawa senjata juga. Tapi cuman tali, nggak sama belati lempar."
"Ya udah. Sampai jumpa nanti siang."
Mirna pun mengucapkan salam juga. Dan keduanya menutup telepon masing-masing. Setelah menelepon, Mirna memesan secangkir kopi susu. Tepat saat itulah, datang beberapa teman sekelasnya yang jajan ke sana.
"Wah, mesennya kopi susu, nih! Nambah tenaga, ya?!" ledek Febri kemudian disusul tawanya.
"Bukan nambah tenaganya. Tapi nambah bau mulut, Feb," balas Iqbal.
"Cewek jilbab tapi sok jago kayak laki. Nggak masuk akal!" tambah Hanah dengan angkuhnya.
Mirna harus bisa sabar untuk menghadapi teman-temannya yang suka membully ini. Sampai akhirnya, ia melihat ada kulit pisang yang kebetulan berada di belakangnya Iqbal. Dan di belakang kulit pisang itu pun ada becekan air hujan.
Namun, firasat Mirna mengatakan bahwa yang kena adalah Hanah, bukan Iqbal. Karena Hanah berlagak sok cantik dengan angkuhnya di hadapan semua orang yang ada di sana. Jadi, Mirna tersenyum kecil. Ia meneruskan minum kopi susunya dengan santai tanpa melihat lagi.
Hingga sesuatu terjadi sehingga mengundang tawa keras yang melihatnya. Hanah yang memang jatuh terpeleset kulit pisang dan sampai mengenai genangan air becek hujan itu. Sepertinya, itu becekan hujan kemarin malam.
Mirna yang melihat hanya tertawa kecil. Sedangkan yang lain menertawakan dengan keras dan lantang, termasuk Iqbal dan Febri.
Seragam, jilbab dan rok abu-abunya Hanah pun kotor kumuh. Bahkan sebagian wajahnya juga ikut kotor karena air becek hujan itu.
Hanah pun kesal dan jengkel. Bahkan ia mulai menangis. Menangis sambil marah-marah pada yang menertawakannya. Namun mereka yang kena marah Hanah bukannya takut, malah tambah menertawakan.
"UDAH DIEM SEMUAAA!!!" seru Hanah menjerit.
Mirna pun berdiri dan menghampiri Hanah. Pesta tertawa pun berhenti saat melihat apa yang Mirna lakukan.
"Mau bantuan?" tanya Mirna pendek sambil mengulurkan tangannya. Ia mau membantu Hanah berdiri.
Hanah terdiam. Namun, ia pun berdiri dengan bantuan Mirna. Mirna membantu Hanah juga untuk membersihkan wajah, seragam, jilbab dan roknya.
Setelah itu, Mirna membuang sampah kulit pisang itu pada tempatnya. Akan tetapi walau dibantu Mirna, Hanah bukannya berterima kasih malah pergi ke kelas dengan berlari. Ia berlari sambil menangis dan kesal.
Mirna hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepala. Lalu lanjut minum kopi susunya.
...°°°...