Budakku Canduku

Budakku Canduku
Episode 61


***


Sampai di rumah sakit, Lona langsung menuju UGD. Lona tampak kebingungan karena tidak tau dimana ruangan Ansel. Beruntung ada suster yang lewat dan langsung Lona cegat.


"Suster, Dimana pasien yang baru saja mengalami kecelakaan?" Tanya Lona to the point.


"Ada banyak pasien kacelakaan nona," jawab suster itu.


"Dia laki-laki, sus."


"Pasien laki-laki, dengan luka parah dibagian kepalanya. Coba nona lihat diruangan sana," tunjuk suster itu.


"Kebetulan pasien itu telah selesai menjalani operasinya. Dan hanya tinggal pasien itu yang belum dijenguk oleh keluarganya." Tutur sang suster semakin membuat Lona gemetar kala mendengar.


"Ba-baik suster, terima kasih banyak." Ucap Lona tulus. Kemudian Lona berjalan perlahan menuju ruangan yang ditunjuk suster tadi.


Begitu sampai Lona segera memutar ganggang pintu.


Kreeiit ...


Begitu pintu terbuka, Lona tampak jelas terkejut. Kala melihat kondisi Ansel yang terbaring lemah tak berdaya dengan kain kasa membalut keningnya. Wajahnya tampak begitu pucat. Matanya yang terpejam menyiratkan begitu banyak kesedihan.


Lona berjalan semakin mendekat. Salah satu tangannya gemetar ingin menyentuh wajah Ansel, sedangkan tangan sebelahnya membekap mulutnya erat agar tak terdengar tangisannya.


Tangan Lona baru berhenti bergetar ketika telah mendarat di pipi Mulus Ansel. Lona membelai wajah Ansel dengan seksama. Tak ada kata yang terucap dari bibir Lona. Bibirnya yang telah bergetar tak mungkin dapat mengucapkan kata, lidahnya seakan kelu.


Aaaakh ...


Teriak Lona kaget, ketika tanganya dicengkam kuat oleh Ansel yang tiba-tiba saja terbangun.


"Siapa kau?" Ketus Ansel.


"A-aku lo-lona, kak." Jawab Lona.


"Pergi, aku tidak mengenalmu. PERGI!" Tegas Ansel membuat Lona ketakutan.


"Kak, aku Lona kak, a-aku istri kakak." Jawab Lona ragu. "Kakak tidak mungkin melupakanku. Aku Lona kak, aku mohon jangan lupakan aku kak," tambah Lona lagi.


"Sudah kubilang aku tidak mengenalmu. Sekarang cepatlah pergi, aku tidak suka melihat orang asing. Pergi sana!" Usir Ansel lagi.


"Ta-tapi kak. A-aku ..."


Ucap Lona tak selesai.


"Ada apa ini?" Tanya seorang dokter laki-laki yang masuk kedalam ruangan rawat Ansel.


"Dokter, usir perempuan itu, saya tidak suka melihatnya!" Bentak Ansel membuat Lona seakan tak mengenal lagi Kak Ansel yang ia selama ini begitu baik padanya.


Begitu berada di luar, dokter itu menyuruh Lona duduk dikursi. Karena tak tega melihat Lona yang tengah hamil tua.


"Dokter, kenapa suami saya tidak mengenali saya. Dan dia juga tidak menginginkan saya berada didekatnya." Tanya Lona tak sabaran.


"Tenanglah nona, keadaan tuan Ansel sudah semakin membaik. Tuan Ansel memgalami benturan keras dikepalanya. Sehingga menyebabkan masalah pada otaknya. Nona mengerti bukan? Apa yang akan terjadi bila seseorang mengalami luka dibagian otak." Tutur sang dokter.


"A-apakah suami saya Amnesia dok." Terka Lona.


"Tepat sekali nona. Untuk itu saya minta kerja sama nona. Bila tuan Ansel meminta anda untuk tidak menemuinya. Maka, tidak usah dulu menemuinya. Bila dia marah-marah seperti tadi. Itu dapat memperburuk keadaannya. Jadi, saya minta nona pulanglah lebih dulu. Tenangkan pikiran nona." Ujar sang dokter


"Lalu, siapa yang akan merawat suami saya, dok.?"


"Masalah tuan Ansel tidak perlu nona kuatirkan. Saya adalah teman dekat Ansel. Jadi, saya yang akan merawatnya.


"Ta-tapi dok, saya ..


"Sudahlah nona. Nona sedang tidak sehat, lebih baik nona istirahat saja dirumah. Saya akan meminta supir saya untuk mengantar nona pulang. Sekarang nona tunggulah sebentar dipinggir jalan. Supir saya akan segera menghampiri nona. Mari nona saya antar." Ujar sang dokter mengiring Lona keluar dari rumah sakit.


Walau sedikit bingung, tapi Lona tetap mengikuti arahan dokter itu. Hatinya begitu remuk saat ini. Sedihnya semakin mendalam. Sekarang dia benar-benar sendiri. Sosok malaikat pelindung baginya, telah melupakannya.


***


Ansel menatap punggung Lona yang semakin menjauh darinya. Semakin lama, semakin hilang dipandangannya.


"Selamat tinggal wanita yang kucinta. Kuharap kau bahagia bersama lelaki yang kau cinta." Gumam Ansel perih.


Setitik air mata yang lolos, langsung diseka kasar oleh Ansel. Lalu ia meraih ponsel di sakunya. Dan membuat panggilan pada seseorang.


"Hallo, Jaga dia baik-baik. Jika kau melukainnya sekecil apapun. Maka aku akan membunuhmu, walau aku juga akan mengorbankan nyawaku ...


Bersambung ........


.


.


.


.


Silahkan reader menerka, apa yang sebenarnya terjadi🙃


Reader mah pandai, pasti sudah bisa menebaknya bukan😉