
π₯π₯π₯
"Bagaimana kondisi ayah saya, dokter?" Tanya Lona yang kini sudah berada di rumah sakit.
"Masih sama, nona. Tuan Brandi masih bertahan karena alat-alat yang terpasang ditubuhnya. Tapi, nona berdoa saja, mana tau akan ada keajaiban untuk ayah nona," tutur sang dokter.
"Terima kasih, dokter," jawab Lona. Lalu Lona duduk disamping sang ayah yang tak sadarkan diri dengan selang terpasang disetiap bagian tubuhnya.
"Ayah, cepatlah sadar Ayah. Lona merindukan Ayah, Lona sudah tau dari dulu, kalau Ayah adalah Ayah kandung Lona. Lona ingat saat Lona kecil dulu. Ayah sering ingin membuang Lona, tapi Ayah akan kembali lagi, dan membawa Lona ikut pulang bersama Ayah. Lona sangat berterima kasih kepada Ayah, karena Ayah tidak pernah benar-benar ingin membuang Lona, padahal kala itu, Ayah taunya Lona bukanlah anak kandung ayah. Lona memang tidak pernah tau bagaimana masa lalu Ayah. Bagaimana pun jahatnya Ayah, Ayah tetaplah Ayah Lona. Lona sangat menyayangi Ayah. Terima kasih karena tidak pernah meninggalkan Lona sendirian, Yah." Tutur Lona sambil memeluk erat sang Ayah, dengan air mata yang mengalir begitu derasnya.
"Sudahlah Lona, kita harus memeriksa kandunganmu," ucap Ansel memegang lembut bahu Lona.
Lona melirikkan pandangannya kebelakang.
"Baik, kak," jawab Lona singkat, namun tersenyum manis.
Keluar dari ruangan Brandi, Ansel dan Lona berjalan pelan menuju ruangan Obigyn.
Setelah kepergian sang putri, tampak setetes air mata lolos dari kedua sudut mata Brandi. Sepertinya Brandi bisa mendengar jelas setiap perkataan Lona. Hingga ia menjadi merasa begitu bersalah pada Lona yang ternyata adalah putri kandungnya sendiri.
Di ruangan Obigyn :
"Nona dan tuan bisa liat ini, Ini adalah jabang bayi Nona dan tuan. Usianya baru 5 Minggu, dia sehat, tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai Usiannya." Jelas sang dokter.
"It-itu bayi saya, dokter?" Tanya Lona terharu.
"Benar Nona, apa nona Lona punya keluhan?" Tanya song dokter.
"Nona harus bersyukur kalau begitu. Banyak diluaran sana ibu ibu hamil yang mengalami mual dan muntah muntah. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang tidak bisa makan. Nona sangat beruntung karena tidak mengalami apa yang wanita lain alami. Tapi pesan dari saya, nona harus banyak-banyak makan makanan yang bergizi. Dan ingat jangan diet ya Nona," pesan dokter kuatir, kala melihat tubuh Lona yang kurus.
"Istri saya memang langsing dan seksi sejak lahir, dokter. Dia tidak perlu diet untuk langsing." Sarkas Ansel yang tak terima atas ucapan sang dokter yang seakan menjelekkan Lona-nya.
"Baguslah kalau benar begitu, tuan. Saya juga punya pesan untuk tuan. Ingat ya tuan, jangan sering-sering melakukan hubungan suami istri dulu. Apalagi dalam mood istri tuan yang sedang tidak baik. Jika ingin melakukannya, ingatlah untuk pelan-pelan saja." Ucap sang dokter tersenyum sinis pada Ansel. Ansel tampak begitu kesal atas balasan dokter wanita paruh baya itu padanya.
Sedangkan Lona hanya berusaha menahan malu. Bagaimana pun ia malu kala mendengar pesan dari sang dokter yang menurutnya cukup vulgar untuk ia dengar.
"Ini, ada beberapa vitamin. Ingatlah untuk membantu istri tuan untuk jangan telat minum vitaminnya." Ujar dokter itu, semakin menggoda Ansel yang masih tampak kesal.
πππ
Reader : Kenapa Lona harus kembali pada Devan?
Othor : Karena Devan Harus bertanggung jawab atas Lona. Bagaimanapun, Devan telah mengambil kesucian Lona. Jadi, Othor nggk rela kalau Lona sama yang lainπ
Reader : Kenapa Lona tidak sama Ansel aja si tor? Devan kan jahat sama Lona, ini tidak adil Thor!
Othor : Karena Ansel harus bertanggung jawab pada wanita lain yang tidak sengaja dia rusak (spoiler) π
Kalian sih, kan jadi bocorππ
Untuk Devan, semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.