Budakku Canduku

Budakku Canduku
Episode 44


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Sekitar 20 menit perjalanan, Ansel memarkirkan mobilnya di depan sebuah butik.


"Kita kenapa kesini kak?" Tanya Lona heran, dengan kedua tangan menggenggam selimutnya erat.


"Kamu tunggu disini dulu ya, Kakak beli sesuatu dulu buat kamu," ujar Ansel, lalu keluar dari mobil.


Lona melihat kepergian Ansel yang masuk kedalam sebuah butik. Keluar dari butik, kembali menuju apotik yang berada di samping butik itu. Lona terus memperhatikan Ansel dari dalam mobil.


Ada perasaan menyesal dihatinya, ia menyesal karena tak mempercayai Ansel selama ini. Lona membiarkan dirinya terjebak dalam penjara rasa neraka yang di persiapkan Devan untuknya.


Dengan kebodohannya, ia lebih mempercayai seseorang yang talah menghancurkan dirinya.


Cinta, cinta benar-benar membuatnya tak bisa melihat jelas apalagi membedakan. Mana yang salah dan mana yang benar.


Tak lama, Ansel pun datang.


"Ini, pakailah dulu pakaian ini untuk sementara waktu. Kakak akan menunggu diluar. Ini juga ada salep, oleskan pada setap luka di tubuhmu,"


"Terima kasih, kak." Jawab Lona terharu, ia lupa bahwa ia tak memakai pakaian saat ini.


Ansel keluar dari mobil, ia menunggu di luar sekalian berjaga-jaga. Sementara Lona perlahan pindah ke kursi belakang. Dengan cepat Lona memasangkan pakaian itu satu persatu. Tak lupa mengoleskan sedikit salep pada bagian tubuhnya yang terasa perih.


"Kak, sudah selesai." Seru Lona mendongakkan kepalanya dari pintu mobil. Ansel segera masuk kedalam mobil.


"Ini, makanlah ini dulu, begitu selesai baru kita makan yang enak," tutur Ansel memberikan sekotak pizza pada Lona. Lona yang kelaparan, menyambut pizza itu antusias.


"Makanlah, kamu pasti sudah kelaparan. Ini minumnya," Ansel memberikan sebotol air mineral pada Lona. Kembali Lona menerimanya dengan antusias. Lona melahap makanan dengan cepat, persis seperti orang yang tidak makan selama berhari-hari. Tapi memang itulah kenyataannya, ia selalu memuntahkan semua makanan yang di suapkan Devan padanya.


"Maafkan kakak, Lona. Maafkan kakak yang terlambat menyelamatkan mu. Kakak membiarkan iblis itu menyakitimu, kakak tidak tau penyiksaan seperti apa yang ia lakukan padamu. Tapi apapun itu, kakak akan tetap mencintaimu dan akan menerima bagaimanapun keadaanmu. Kakak masih sangat mencintai mu Lona, kakak akan selalu mencintaimu," batin Ansel dengan hatinya yang seakan teriris pedih. Kala melihat kondisi seorang wanita yang begitu ia cintai itu.


"Kakak tidak makan?" Tanya Lona dengan mulut penuhnya.


"Tidak, Kakak masih kenyang. Kamu makan saja, setelah makan baru kita lanjut lagi. Kakak akan membawamu ke sebuah negara yang Devan atau siapapun tidak akan bisa menemukan mu," seru Ansel.


Mendengar itu, Lona menghentikan makannya. Memandang Ansel dengan menyiapkan berbagai pertanyaan.


"Kita akan kemana, kak? Apakah boleh, bila sebelum pergi kita mencari Kalika dan Kalina terlebih dahulu. Lona tidak ingin pergi tanpa mereka berdua kak," lirih Lona menundukkan wajahnya, menyembunyikan air matanya yang kembali menetes.


"Lona. Dengarin kakak ya, kita harus secepatnya pergi dari sini. Kamu tidak mau bukan, kalau sampai Devan menemukan kita, dan kembali mambawamu?" Tanya Ansel. Dijawab gelengan kepala oleh Lona.


"Untuk itulah, kita harus pergi terlebih dahulu. Masalah Kalika dan juga Kalina, nanti akan kakak pikirkan. Kakak berjanji akan mencari dan menemukan dimanapun mereka berada. Tapi, untuk saat ini, kita harus bersembunyi terlebih dahulu. Kakak tidak ingin iblis itu menyiksamu lagi, Lona. Kamu mengerti kan maksud kakak?" Jelas Ansel.


"Lona mengerti kak," jawab Lona menganggukkan kepalanya. Ia tidak akan pernah bersedia untuk kembali pada Devan yang telah menghancurkan seluruh hidupnya.


"Baguslah, sekarang kita akan berangkat," ujar Ansel lalu segera tancap gas.


Dipertengahan perjalanan, Lona yang tengah terlelap kala itu. Dibangunkan serta dikejutkan dengan Suara tembakkan yang mengelegar, peluru itu berusaha menembus kaca bagian belakang mobil mewah Ansel. Ansel pun tak kala paniknya, tapi ia berusaha untuk tetap fokus pada kemudinya.


Dor!


πŸ‚πŸ‚πŸ‚