
π₯π₯π₯
"Kamu langsung istirahat saja ya." Pinta Ansel, karena tak tega melihat Lona yang sedari tadi tampak pucat.
"Iya kak, nafasku juga agak sesak, kak." Jawab Lona pelan. "Aku kenapa ya kak. Kenapa nafasku sesak dan dada ku juga nyeri banget?" Tambah Lona lagi.
"Sesak nafas dan nyeri di bagian dada, umumnya memang sering terjadi pada perempuan yang sedang hamil. Kamu yang sabar ya. Nanti juga akan hilang dengan sendirinya." Jawab Ansel asal.
"Banarkah begitu, kak! Kalau sesak nafas mungkin saja. Tapi, kalau nyeri di bagian dada sudah lama aku mengidapnya, kak. Kalau tidak salah dari usiaku 15 tahun." Jawab Lona membuat Ansel merasa khawatir.
Apa nyeri yang Lona katakan. Ada hubungannya dengan dipanggilnya aku oleh dokter tadi. Batin Ansel.
"Itu tidak apa-apa, Lona. Kamu lupa ya apa yang dikatakan oleh dokter tadi. Kamu dan juga janin kamu baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikuatirkan. kamu hanya perlu istirahat, setelah istirahat kamu akan kembali fit lagi," bohong Ansel.
"Emm ... Baiklah, kak. Aku ke kamar dulu." Jawab Lona.
Ada yang kakak sembunyikan dariku. Aku mengenalmu, kak. Ucap Lona dalam hati. sambil berjalan pelan masuk kedalam kamarnya.
Setelah memastikan bahwa Lona sudah istirahat. Barulah Ansel keluar dari apartemen menuju mobilnya di parkiran. Sampai di Parkiran, Ansel langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera tancap gas menuju rumah sakit
Ansel buru-buru ke ruamg sakit, karena akan menemui dokter Diana. Setelah menerima SMS dari dokter Diana, yang mengatakan bahwa ia punya hal penting yang ingin disampaikan pada Ansel, mengenai kahamilan Lona.
25 menit perjalanan Ansel telah sampai di rumah sakit di kota itu. Berjalan cepat Ansel menuju ruangan dokter Diana.
Mengetuk pintu, lalu segera masuk. Kini, Ansel telah duduk dihadapan dokter Diana.
Hawa terasa begitu tegang, membuat Ansel merasa sedikit takut bercampur kuatir kala melihat raut wajah dokter Diana yang tampak begitu serius.
Dokter Diana melepas kacamata nya, lalu meletakkannya diatas meja. Lalu menatap Ansel dengan seksama.
"Apa kau benar-benar suaminya?"
"Apa maksudmu Dokter?"
"Aku curiga tuan Ansel bukan suami dari nona Lona, kalian menjaga jarak sangat terlihat. Lupakan masalah itu, ada hal lain yang lebih penting yang ingin saya sampaikan kepada tuan selaku suami dari nona Lona." Tutur dokter Diana.
"Katakan, dokter," jawab Asel singkat dan tak sabaran.
"Begini tuan, menurut pemeriksaan saya kemarin. Ada masalah yang serius pada jantung Nona Lona." Jawab dokter Diana lesu.
"Apa maksudmu, dokter. Jangan menakutiku," bentak Ansel.
"Saya serius tuan, ada masalah pada jantung Nona Lona. Pada kasus nona Lona, dimana seorang ibu hamil dengan riwayat penyakit jantung. Hal seperti ini tentu saja berisiko untuk ibu dan juga janinya. Risiko untuk ibunya yang paling besar adalah meninggal dunia. Sedangkan untuk janin, berakibat akan terjadi peningkatan denyut jantung, dan dikuatirkan jantung akan kelelahan. Akhirnya pengiriman oksigen dan zat makanan dari ibu ke janin melalui ari-ari akan terganggu. Dan oksigen yang diterima janin semakin lama akan samakin berkurang.
Akibat lanjut ibu hamil bisa saja mengalami keguguran atau kelahiran prematur. Saya terpaksa harus mengatakannya pada tuan secara langsung, karena bila saya mengatakannya dihadapan nona Lona ditakutkan akan memperburuk kerja jantungnya. Dan ...
"Stop dokter! Saya tidak perlu penjelasan anda secara detail. Katakan pada saya apakah ada solusinya? Apa yang harus saya lakukan? Jika kehamilan bisa memperburuk keadaan istri saya. Apakah harus digugurkan? Saya tidak ingin terjadi apa-apa pada istri saya, dok."
πππ
Like, komen, hadiah, vote, dan rate bintang 5 pleaseeeee πππ