
π₯π₯π₯
Tuan Devan langsung mengangkat tubuh Myla, yang telah berlumuran darah dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bahkan juga ada darah yang mengucur deras dari pangkal pahanya.
Setelah kepergian Tuan Devan, Lona masih mematung diatas sana. Pikirannya benar-benar kalut, andai saja tadi dia berhasil menangkap Myla. Pasti Myla tidak akan jatuh separah itu. Tapi, Lona tak dapat berbuat banyak saat Myla bergelinding disampingnya.
Lona merasa bersalah karena tak dapat menolong Myla. Selain perasaan bersalah, Lona juga merasa takut akan tatapan tuan Devan padannya. Apakah tuan Devan salah paham padanya? Apakah tuan Devan berpikir bahwa ialah yang menjadi penyebab Myla terjatuh? Kalau iya! Habislah dirinya. Sudah dipastikan tuan Devan akan menyiksanya.
Lona sempat berpikir, untuk pergi dari tuan Devan. Tapi, itu tidak mungkin terjadi. Kalau ia pergi, bagaimana nasib keluarganya. Ayah, ibu, apalagi kedua adik kembarnya. Tidak! Lona tidak akan pernah meninggalkan keluarganya. Meskipun sang ayah juga ibu tidak menyayanginya, tapi ia tetap menyayangi mereka.
Lona yang masih mematung di anak tangga. Dikejutkan oleh suara yang memanggilnya begitu nyaring.
"Lona! Lona! Dimana kamu Ha!" Teriak Nyonya Zeline memanggil Lona tak sopan.
Dengan ketakutan, Lona menghampiri asal suara.
"Ada apa nyonya?" Tanya Lona, memecah lenggang.
"Kau! Apa yang kau lakukan pada calon cucu dan menantu ku? Apa begitu caramu balas dendam padaku, dasar kau wanita tidak tau diuntung. Masih untung anakku mau memungutmu. Dasar Jal*ng!" Teriak nyonya Zeline sambil menarik kuat rambut Lona.
"Ampun nyonya. Sayang tidak melakukannya nyonya. Lepaskan! Saya mohon lepaskan saya, nyonya," pinta Lona sambil memegang rambutnya yang kini masih digengam erat oleh nyonya Zeline.
"Awas kalau sampai terjadi apa-apa pada calon cucu juga menantuku. Jangan harap kau akan hidup tenang!" Teriaknya lagi, lalu melepaskan cengkramannya dengan kasar pada rambut Lona.
Setelah mengatakan ancamannya. Nyonya Zeline pun keluar dari hotel. Menuju rumah sakit untuk melihat keadaan calon menatu juga cucunya.
Setelah kepergian nyonya Zeline, Lona juga ikut menyusul ke rumah sakit. Juga untuk melihat keadaan Myla.
π₯π₯π₯
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" Tanya tuan Devan mengakui Myla sebagai istrinya.
"Maafkan kami, tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, luka dikepala serta benturan yang sangat dahsyat. Membuat kami tidak bisa menyelamatkan keduannya. Ibu juga bayinya, keduannya tidak bisa kami selamatkan." Jawab Dokter itu sendu.
"Itu tidak mungkin dok, dokter jangan bercanda. Katakan sekali lagi dok. Katakan bahwa istri dan bayi kami baik-baik saja, dok. Cepat katakan!" Teriak Tuan Devan, tak percaya akan apa yang barusan ia dengar. Devan yang murka menarik kerah baju dokter itu dengan kasar.
"Devan, lepaskan dokternya, nak. Lepaskan Devan," bentak nyonya Zeline berusaha melepaskan cengkraman putrannya pada dokter yang kini kesusahan bernafas.
Begitu terlepas, dokter tadi langsung meninggalkan Devan dan nyonya Zeline disana.
Tuan Devan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia menangis saat ini, ia menangis iblisnya ,yang selama ini menemani hari-harinya.
"Devan, sayang. Kita harus mengikhlaskan kepergian Myla juga calon baby mu. Tapi, kau harus memberi pelajaran pada Lona. Mom sangat yakin, dialah yang mencelakai Myla. Kau harus menghukumnya seadil-adilnya, Devan. Mom ingin dia membusuk di penjara," tutur nyonya Zeline menghasut putrannya untuk menyiksa Lona.
Tuan Devan menengadahkan pandangannya. Ia bangkit dari posisinya.
"Aku tidak akan memenjarakan Lona, Mom," jawab Devan membuat nyonya Zeline tak percaya. Apakah putrannya itu tidak akan menyiksa Lona yang telah membunuh calon menantu juga calon Cucunya.
πππ
Cerita ini memang mengandung banyak bawang yah guys. Khusus Othor buat untuk pecinta novel sedih. Walau sedih ini akan happy ending ya guys. Karena Othor sendiri tidak suka novel sad ending πππ
Like, komen, hadiah, dan vote π
Rate bintang 5 pleaseeeee π
Maafkan typonya π
Selamat membaca dan semoga suka π
Lopeeeee readerssss πππ
π₯π