
π₯π₯π₯
Kini, tuan Devan tengah berada di ruang tamu. Semalaman tak bisa tidur membuatnya mengantuk. Dan pada akhirnya ia pun tertidur pulas, siang itu.
Saat ini, Lona meneguk air putih sebanyak-banyaknya. Setidaknya ia bisa mengurai rasa laparnya dan memberinya sedikit tenaga. Merasa lega, Lona kembali melakukan pekerjaannya.
Lona menghentikan kesibukkannya sesaat. Kala merasai punggungnya mulai terasa amat sakit.
"Apa aku akan terus berada disini. Aku tidak ingin selalu hidup seperti ini. Apa aku bisa pergi darinya. Kak Ansel, dia mau membawaku pergi. Tapi, apa dia juga mau membawa Kalika dan Kalina. Apa aku harus mencobanya. Iya! Aku akan meminta tolong pada kak Ansel, kalau dia benar telah dijebak. Dia pasti juga mau membawa Kalika dan Kalina. Aku tidak ingin hidup seperti ini, aku juga mau hidup bahagia," batin Lona sambil berjalan pelan menuju ruang tamu.
"Tuan Devan, saya harus pergi dari tuan. Saya memaafkan segala penyiksaa yang tuan lakukan pada saya. Saya akan menganggap semua penyiksaan ini sebagai penembus hutang saya pada tuan, saya mohon biarkan saya pergi tuan," Lona kembali membatin ketika telah berada di ruang tamu. Disana ia bisa melihat tuan Devan tengah tertidur pulas.
Perlahan namun pasti, Lona berhasil menuju pintu. Membukanya dan segera keluar dari neraka itu. Lona berlari sekuat tenaga yang tersisa, menuju lift. Masuk kedalam lift, Lona menuju lobby.
Lega! Itulah perasaannya saat berhasil menghirup udara segar. Perjuangannya untuk melarikan diri masihlah panjang. Ia harus berlari menuju kontrakknya untuk menjemput kedua adiknya. Setelahnya barulah menuju rumah Ansel.
Ia harus cepat membawa sang adik, sebelum tuan Devan bangun dan menyadari semuanya. Dan lebih dulu membawa kedua adiknya sebelum dirinya.
Siang itu, ditengah teriknya matahari. Lona terus menyusuri jalan raya yang begitu luas. Penampilannya begitu berantakan. Sesekali ia harus berhenti, untuk meminimalisir rasa sakit disekujur tubuhnya.
Perjuangannya tak sia-sia, 1 Jam lebih menyusuri jalan dengan bertelanjang kaki. kini, Lona sudah berhasil sampai di kontraknya.
Tersenyum samar, Lona segera masuk kedalam kontrakkannya.
"Kalika! Kalina!" Panggilnya sambil mengedarkan pandangan, Lona mulai cemas ketika tak mendapatkan Sautan dari kedua adik kembarnya. Sedikit berlari Lona membuka kamar satu persatu. Tapi tak ada siapapun didalam sana.
Kembali Lona memeriksa dapur dan kamar mandi. Tapi juga tak menemukan penghuinya.
Merasa ada yang aneh, Lona kembali lagi memeriksa kamarnya juga kamar sang adik. Ia membuka lemari dikamar itu. Nafasnya terasa sesak karena tak menemukan sehelai pun pakaian sang adik.
"Kenapa kau ada disini ha!" Bentak seseorang langsung mengunci kedua tangan Lona.
"Ayah, lepasin tangan Lona. Sakit, Yah." Rintih Lona.
"Lona tidak sangup, ayah. Lona mohon biarkan Lona pergi," tutur Lona terisak-isak.
"Apa kau mau membunuhku ha! Enak saja kau ingin kabar dari tuan Devan,"
"Lona anak ayah bukan? Kenapa ayah tidak menolong Lona, Yah," tangis Lona pecah.
"Kau anakku! Cih ... Aku tidak pernah punya anak. Kau maupun Kalika dan Kalina bukanlah anakku. Dan seenaknya kau mau pergi. Lalu bagaiman pundi-pundi uangku," jawab sang Ayah membuat Lona kaget serta syok atas pernyataan sang Ayah.
"Apa maksudmu, Yah. Apa benar kami bukanlah anakmu?" Tanya Lona.
"Itu tidak penting bagiku. Yang penting kalian semua bisa menghasilkan uang untukku," ketus Brandi sinis.
"Dimana Kalika dan Kalina, Yah?" Tanya Lona.
"Mereka juga menghasilkan uang untukku. Kau tidak akan pernah bertemu dengan mereka lagi," jawab Brandi lagi.
"Ayo! Tuan Devan pasti telah mencarimu," ujar Brandi menyerar kasar Lona.
πππ
Like, komen, hadiah, dan vote
Rate bintang 5 pleaseeeee
Maafkan typonya
Selamat membaca dan semoga suka
Lopeeeee readersss πππ
π₯π