Budakku Canduku

Budakku Canduku
Episode 43


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Siang berganti malam, malam berganti siang. Tuan Devan terus mengurung Lona di dalam kamarnya. Lona yang menjadi candu baginya, tak pernah ia lepaskan sekalipun. Bahkan ia tak melepaskan ikatan pada kedua lengan Lona. Semakin hari keadaan Lona semakin memburuk. Hanya diberi makan sekali sehari oleh tuan Devan membuat Lona semakin tak bertenaga.


Hampir satu bulan libur, dan menyerahkan tugas perusahaan pada Sekretaris Aron. Kini, tuan Devan kembali berangkat ke perusahaan. Pagi itu, tuan Devan telah siap dengan pakaian kantornya.


Selama beberapa hari terakhir ini, Lona tak lagi banyak bicara, bahkan ia tak lagi berontak kala tuan Devan menggagahi tubuhnya untuk yang berpuluh-puluh kalinya. Saat diberi makan Lona memuntahkannya, jika sudah begitu, maka tuan Devan akan menghukumnya dengan kembali menggagahi tubuhnya.


Lona sudah bagaikan mayat hidup, kehidupan seakan hilang dari dirinya. Dalam hatinya ia hanya ingin pergi yang jauh. Surga! Tempat indah itulah yang ada dalam benaknya, ia ingin merasakan kebahagiaan, dan ia yakin kebahagiaan hanya ada di di alam sana. Sementara di dunia hanya ada kesedihan dan juga ketersiksaan.


Hanya ingin segera mengakhiri hidup, itulah yang ada dipikirkan Lona. Bagaimanapun caranya ia hanya ingin pergi yang jauh sekali, dimana hanya ada dirinya juga kebahagiaanya.


Dikamar itu, kamar yang seakan adalah neraka bagi Lona. Karena dikamar itulah beragam penyiksaan ia terima. Lihatlah tubuhnya yang sudah tak lagi mulus. Bercak-bercak merah dan bercak-bercak biru keunguan memenuhi sekujur tubuh Lona.


Setelah kepergian tuan Devan yang telah berangkat bekerja. Lona hanya berada di dalam kamar, mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar itu.


Lalu, Lona berusaha melepaskan ikatan pada kedua lengannya. Tapi, sia-sia karena ikatan itu sangatlah kencang.


Merasa ada seseorang yang akan memasuki kamarnya. Lona langsung berpura-pura tidur, karena takut yang masuk kedalam kamar adalah tuan Devan.


"Lona," Lona langsung membuka matanya kasar, kala mendengar suara yang begitu ia kenal. Suara itu bukanlah suara tuan Devan, melainkan suara kak Ansel.


Tangisan Lona pecah, kala melihat seseorang yang ia yakini adalah malaikat penolongnya.


"Lona, kakak terlambat," ujar Ansel mendekat pada Lona. Setetes air mata yang pantang ia keluarkan, lolos seketika. Kala melihat keadaan wanita yang ia cintai begitu hancur sehancur--hancurnya. Penyesalan begitu ia rasakan kala melihat Lona yang sudah tak berdaya dibalik selimut dengan kedua lengan yang memerah karena terlalu lama terikat.


"Kak Ansel. Tolong Lona kak," tutur Lona lirih dengan tangisnya yang tak kunjung berhenti.


Ansel perlahan mendekati Lona, begitu sampai didekat Lona. Ia segera melepaskan ikatan pada lengan Lona. Begitu terlepas, tampak kulit Lona sudah lecet-lecet.


Tanpa memikirkan tubuhnya yang polos, Lona bangun dan langsung memeluk tubuh Ansel dengan terisak-isak. Tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan juga bahagia karena malaikat penyelamatnya telah menunjukkan wujudnya.


"Maafkan kakak, Lona. Kakak banar-benar terlambat menyelamatkan mu. Maafkan kakak," sesal Ansel membalas pelukan Lona erat.


Lona tak menjawab, ia hanya terus terisak-isak. Menangisi kemalangan nasibnya.


"Sudah Lona, kita harus segera pergi dari sini, sebelum Devan menyadari keberadaan Kakak di sini." Seru Ansel melepaskan pelukannya pada Lona. Melihat keadaan Lona, hatinya seakan teriris pedih.


Membalutkan tubuh Lona dengan selimut putih itu, menggendong Lona, lalu membawanya keluar dari neraka biadab itu.


Mengendap-endap Ansel berhasil keluar dari hotel, tanpa diketahui oleh pegawai hotel. Sampai di mobil Ansel meletakkan Lona perlahan. Lalu tancap gas menuju tempat persembunyian mereka.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚