Budakku Canduku

Budakku Canduku
Episode 54


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Hari itu, Sekretatis Aron kembali menemukan tuan Devan dalam keadaan pingsan.


Tanpa pikir panjang, ia langsung membawa mantan tuannya ke rumah sakit.


"Apa perut saya bermasalah lagi, dokter?" Tanya Devan acuh.


"Tidak tuan, tidak ada masalah dengan perut anda." Jawab sang dokter.


"Benarkah dok," tanya sekretatis Aron tak percaya.


"Benar tuan, tidak ada masalah dengan kondisi perut tuan Devan." Jelas sang dokter.


"Saya memang sudah tidak lagi minum. Semenjak saya sering muntah muntah di pagi hari. Dan anehnya saya juga tidak menyukai aroma alkohol. Bahkan saya sudah buang semua botol alkohol dikamar saya. Karena saya akan mual hanya karena mencium aromanya saja." Jawab tuan Devan yang memang sedikit telah sadar. Walau kondisinya sudah sedikit membaik. Tapi, ia tetap terus mengurung dirinya di dalam kamar.


"Ini agak aneh. Apa tuan Devan punya istri sebelumnya, yang mungkin telah tuan cerai kan?" Tanya sang dokter membuat Devan dan sekretatis Aron kebingungan.


"Tidak dokter, sayang belum pernah menikah sebelumnya," jawab tuan Devan jujur.


"Apa tuan pernah menanam benih tuan di rahim perempuan?" Tanya sang dokter yang memang mengenal tuan Devan.


"Saya pernah memiliki seorang kekasih, tapi dia sudah meninggal. Dan saya punya seorang Bu ..." Ucap tuan Devan terhenti, ketika hatinya berdenyut nyeri ketika mengingat setiap adegan, dimana ia sering menanamkan benihnya dengan paksa di rahim Lona sang Budaknya.


"Apa maksud dokter. Kenapa dokter malah bertanya tantang hal itu. Dan apa hubungan semua itu, pada kondisi saya saat ini?" Tanya tuan Devan dengan tak sabaran.


"Bagini, tuan Devan. Jika menilai dari apa yang sedang tuan alami. Saya curiga kalau tuan tengah mengalami Sindrom Simpatik." Jelas sang dokter.


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Acara pernikahan sederhana itu hanya, dihadiri beberapa tetangga dekat rumah.


Setelah pengucapan janji suci, Lona tampak hanya terdiam. Ia tidak pernah menginginkan takdir yang seperti ini.


Dihamili lelaki lain, dinikahi lelaki yang lain lagi. Yang bahkan tidak dicintainya.


Bersama dengan lelaki kejam yang dicintai, dan tersiksa. Lalu bersama dengan lelaki yang baik yang tak dicintai, juga tersiksa. Ada apa dengan takdir, apa takdir tengah mengajak Lona bermain. Kenapa takdir mempermainkan Lona sebegitu kejamnya. Apa kesalahan yang telah ia lakukan, hingga dihukum sedemikian rupa.


Setetes air mata menyapu pipi mulus Lona. Ansel mengerti apa yang Lona rasakan. Ia tau bahwa hati Lona sang gadis pujaan, bukanlah lagi miliknya. Ia tau bahwa Lona telah jatuh cinta pada Devan. Tapi, Ansel tak mungkin membiarkan Lona tersiksa terus-terusan.


Bukan hanya Lona yang tersakiti, tapi juga dirinya. Dirinya lebih tersakiti jika melihat wanita yang dicintainya menderita.


"Lona, maafin kakak Lona," ujar Ansel seraya mengelus rambut Lona pelan.


"Aku baik-baik saja kak, aku tidak apa-apa." Jawab Lona menundukkan wajahnya.


"Kakak berjanji, tidak akan menuntut hal apapun darimu." Ucap Ansel mengangkat wajah Lona dan menyeka air mata Lona dengan penuh kasih sayang. Lona menatap Ansel nanar.


"Seharusnya kakak tidak perlu melakukan ini," tutur Lona pelan, tapi masih bisa terdengar oleh Ansel.


"Tidak Lona. Kakak akan melakukan apapun untukmu," jawab Ansel yakin.


"Terima kasih, kak." Jawab Lona memeluk erat tubuh Ansel. Tangisannya pun pecah, Ansel sangat mengerti bagaimana perasaan Lona. Hatinya juga ikut berdenyut kala mendengar isakan Lona yang semakin keras.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


jangan lupa like, komen, hadiah, vote, dan rate bintang 5πŸ™