Budakku Canduku

Budakku Canduku
Episode 42


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Keesokkan paginya, Lona terbangun dari tidur panjangnya. Mengerjabkan matanya pelan. Lona tak bisa melihat apapun. Karena memang kebiasaanya harus cuci muka dulu baru bisa melihat.


Cukup lama akhirnya Lona pun bisa membuka matanya, dan sudah dapat melihat dengan jelas. Lona Kembali menangis saat melihat tubuh telanjangnya yang dipenuhi dengan tanda dimana-mana.


Kedua tangannya terasa begitu pegal, karena semalaman terikat keatas. Terlepas dari itu, dibagian intinyalah yang paling terasa nyeri. Perlahan Lona menekuk lututnya, setidaknya ia bisa sedikit menyembunyikan asetnya dengan posisi kaki seperti itu.


"Kau sudah sadar, sayang ..." Ujar Tuan Devan berdiri dari duduk santainya. Tanpa Lona sadari, tuan Devna melihat semua gerak geriknya. Dan sepertinya hal itu sukses membuat senjatanya kembali bangun. Apalagi melihat lekuk tubuh indah Lona yang masih polos tanpa terhalang apapun.


Tuan Devan berjalan perlahan dengan membawa cawan anggurnya.


"Kau pasti haus, sayang," ucap tuan Devan membuka paksa mulut Lona. Dan memaksa Lona untuk meminum anggurnya.


Uhuk ... Uhukk ...


Lona tersedak, karena tak suka minuman aneh itu.


Pyaaarrr ...


Tuan Devan membuang cawannya kesembarang arah. Lagi, lagi, lagi dan lagi. Ia mengukung tubuh Lona.


Gila! Tuan Devan benar-benar merasa gila akan kenikmatan tubuh Lona. Kenikmatan yang tak pernah ia dapatkan dari tubuh Myla sekalipun.


Lona hanya dapat menangisi Kamalangan nasibnya. Tuhan semakin menguji keteguhan hatinya. Dan Lona sudah semakin menyerah tak sangup.


"Tu-an, saya moh-mohon. Hen-tiiikhaaaan, tuaaan," lirih Lona bercampur dengan erangannya ketika tuan Devan kembali menggagahi tubuhnya.


Tak bergeming sedikitpun. Tuan Devan hanya fokus pada kenikmatan yang membuatnya semakin menggila. Entah terbuat dari apa tubuh Lona hingga bisa senikmat itu. Ia benar-benar tak bosan sedikitpun, yang ada ia malah ketagihan, ingin lagi dan lagi.


Entah sudah kali ke berapa ia mendapatkan pelepasan, tapi ia masih belum juga berhenti. Hingga Lona kembali tertidur karena kelelahan.


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Malam harinya, Lona terbangun kala merasakan perutnya yang terasa lapar. Lona merasa sangat jijik. Karena saat ini, tuan Devan terlelap dengan memeluknya erat. Lona berusaha melepaskan ikat pinggang tuan Devan yang masih mengikat kedua tanganya. Tapi, tak berhasil karena memang ikatan itu sangatlah erat.


Tuan Devan terbangun, karena gerakan-gerakan kecil dari tubuh Lona.


"Apa hukuman dariku masih kurang, sayang?" Tanya tuan Devan lagi.


"Saya lapar, tuan. Saya haus," jawab Lona kembali menangis.


"Kau lapar, sayang. Aku sampai lupa memberimu makan," ujar tuan Devan segera bangun. Menuju dapur, lalu membawa sepotong roti. Dan melemparkannya pada Lona.


Roti yamg masih terbungkus itu, terjerambab tak berdaya disamping Lona. Ia begitu tergiur melihat roti itu. Tapi, apalah daya, ia tak bisa menjangkau roti itu, karena kedua tangannya masih terikat erat.


"Aku sampai melupakan ikatan ditanganmu, sayang. " Ujar tuan Devan mendekat pada Lona, membuka bungkus roti dan segera memasukkannya kasar kedalam mulut Lona.


Walau kasar, Lona tetap mengunyah roti itu antusias. Lihatlah betapa besarnya keinginan Lona untuk tetap hidup.


Tuan Devan yang baik hati, mengambil Air putih di nakas, lalu meminumkannya secara paksa hingga membuat Lona kembali terbatuk.


Begitu selesai Lona mengunyah rotinya, tuan Devan kembali memandang tubuh telanjang Lona penuh nafsu.


"Tuan, saya kedinginnan. Saya mohon berikan saya selimut, Tuan." Lirih Lona Memohon.


"Tidak usah pakai selimut sayang. Aku sendiri yang akan membuatmu merasa hangat." Kembali tuan Devan menerkam Lona. Dan untuk kali ini, Lona benar-benar menyerah.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Like, komen, hadiah, dan, vote


Rate bintang 5 pleaseeeee


Maafkan typonya


Selamat membaca dan semoga suka


Lope readerss😘


πŸ”₯πŸ‚