
π₯π₯π₯
Lona mengerjabkan matanya perlahan, seperti biasa ia tak dapat melihat apapun. Dengan tanganya ia meraba, lalu tak sengaja tersenggol gelas berisi air putih diatas nakas. Beruntung gelasnya tak jatuh dan pecah dilantai.
Lona menggosokkan matanya perlahan dengan air yang ada di gelas. Kemudian barulah ia bisa melihat dengan jelas.
Lona kaget melihat dimana dirinya kini. Ia berusaha turun dari ranjang, merasa jijik melihat kasur itu.
Ia tahu diamana tempatnya sekarang, kasur itu adalah tempat dimana kekasihnya sedang bergelut dengan wanita lain. Padahal laki-laki itu masih berstatus sebagai kekasihnya.
"Lona, kamu sudah sadar. Kenapa malah dilantai, apa kamu terjatuh?" Tanya Ansel pada Lona yang kini terduduk lemah dilantai dingin itu.
"Jangan sentuh aku, kak," tolak Lona saat Ansel akan membantunya berdiri.
"Oke-oke, kakak tidak akan menyentuhmu," jawab Ansel mundur dan mengalah.
"Kenapa aku bisa ada disini, Apa yang kakak lakukan padaku," tanya Lona dengan nadanya yang membentak.
"Kakak tidak melakukan apapun padamu. Kakak hanya menyelamatkanmu, kakak tidak sengaja menemukanmu dalam keadaan pingsan dijalan," jawab Ansel jujur.
Lona terdiam, berusaha mengingat kejadian itu beberepa saat kemudian ia pun sudah mengingat kejadian diamana ia kehilangan kesadaran nya di trotoar jalan.
"Aku ingin pulang, aku tidak ingin berada disini," ujar Lona berusaha untuk bangun.
"Jangan Lona! Kau harus ikut kakak. Kau tidak boleh terus-terusan bersama Devan. Dia bukanlah orang baik Lona. Percayalah pada kakak," ucap Ansel mencoba menahan Lona.
"Kakak juga bukan orang baik," sekak Lona.
"Lona, kalau masalah itu kakak bisa jelaskan padamu kalau kakak tidak bersalah. Kakak sudah menyelidiki semuanya, Lona. Kakak dijebak! Dan apa kamu tau siapa yang menjebak kakak. Dia adalah Devan. Dia sengaja memberikan kakak obat perangsang dan tidur dengan wanita bayarannya. Kakak berani bersumpah. Percayalah pada kakak. Kakak benar-benar telah dijebak oleh Devan." Jelas Ansel.
"Bohong! Kakak tidak usah membohongi Lona lagi kak. Alasan apa yang membuat tuan Devan menjebak kakak, alasan kakak sangat tidak masuk akal kak," teriak Lona tak percaya.
"Untuk memisahkan kita, Lona. Dia menginginkan dirimu, kakak juga tidak tau apa alasannya. Tapi yang pasti dia sengaja menjebak kakak Agar dia bisa mengambil dirimu dari kakak," jelas Ansel lagi.
"Cukup kak! Mau kakak dijebak atau apapun itu. Semuanya sudah terlambat kak, kita sudah berakhir. Aku sudah menjadi Milik tuan Devan. Dan aku mohon pada kakak, jangan mengganggu hidupku lagi. Aku mohon kak, biarkan aku menjalankan hidupku sendiri," ucap Lona dengan berlinang air mata.
"Aku ingin pulang kak," ucap Lona menatap Ansel sendu.
"Tidak Lona, kakak mohon ikutlah bersama kakak. Kakak bisa menyembunyikanmu darinya. Kamu akan aman bersama kakak," ucap Ansel masih berusaha membujuk Lona.
"Tidak kak! Aku tidak mungkin meninggalkan keluargaku. Aku mohon biarkan aku menjalani hidupku sendiri," jawab Lona keukeuh.
"Lona!" Ucap Ansel pelan.
"Aku mohon kak. Jangan membuat masalahku tambah rumit. Biarkan aku menjalani semua ini, aku mohon kak," jawab Lona sendu.
"Baiklah, kakak akan mengantarmu. Tapi, jika sesuatu terjadi. Datanglah pada kakak, kakak pasti akan menolongmu," ucap Ansel, kecewa akan penolakkan Lona.
Lona tak mengiyakan namun juga tak menolak. Ansel membantu Lona berdiri dan membawa Lona keluar untuk dikembalikan pada sang pemilik.
πππ
Like, komen, hadiah, dan vote π
Rate bintang 5 pleaseeeee πππ
Maafkan typonya π
Selamat membaca dan semoga suka π
lope readersss π
π₯π