Budakku Canduku

Budakku Canduku
Episode 26


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Memasangkan jaket tebal ketubuhnya sambil menenteng kunci mobilnya, dengan langkah panjang tuan Devan akan keluar dari hotel, untuk mencari keberadaan Lona.


Menuju parkir, Ia segera membuka pintu mobilnya untuk segera masuk kedalam mobil, didalam sana ia mulai akan langsung tancap gas. Namun urung setelah melihat Lona keluar dari dalam sebuah mobil mewah. Jemari tau Devan memutih karena terlalu kuat menggenggam kemudinya. Ia murka saat ini, ia murka karena barangnya diantar pulang entah dari mana oleh pria lain.


Mungkin saja itu adalah sebuah rasa cemburu. Tapi, ia tak sadar akan hal itu. Ia hanya marah karena barang miliknya dimainkan oleh orang lain. Begitulah kira-kira isi pikirannya.


Setelah mobil mewah itu menghilang dari pandangnya. Ia segera keluar dari mibilnya. Tuan Devan menutup pintu mobilnya sekuat tenaga, hingga menimbulkan suara yang membuat Lona terlonjak kaget.


"Tu-tu-tuan," ucap Lona terbata.


Tak ada suara yang keluar dari bibir tuan Devan. Ia langsung saja menghampiri Lona dengan mata elangnya membuat Lona bergidik ngeri.


Sampai didekat Lona, tuan Devan langsung menyerat Lona kasar. Lona merasa terbang diudara saking cepatnya seretan tuan Devan. Dengan berlari Lona masih tak mampu mengimbangi langkah tuan Devan yang begitu besar.


Didalam lift tuan Devan mengunci tubuh Lona, dengan kedua tanganya.


"Kau sudah semakin berani padaku," hardik tuan Devan langsung ******* bibir Lona dengan kasar. Bibir Lona seakan menjadi candu baginya, tak pernah puas ia menyes*p, meng*git, menikmati semua yang ada didalam sana. Lona hampir kehabisan Nafas, tapi hal itu tak membuat tuan Devan melepaskan bibir manis Lona.


Tuan Devan terus saja ******* bibir Lona, meski tangan Lona yang menepuk-nepuk dadanya mulai melemah. Melihat Lona yang hampir pingsan, barulah Tuan Devan melepaskan pangutan itu. Tuan Devan mengelap bibirnya yang dipenuhi oleh salivanya juga Saliva milik Lona.


Lona tak mampu berucap, bibirnya sampai bengkak bahkan mengeluarkan darah akibat gigitan gemes dari tuan Devan. Ia hanya bisa menumpahkan air matanya, dengan nafasnya yang tereng*h-eng*h.


Lift terbuka, kembali tuan Devan menyeret kasar Lona, membawanya memasuki kamar gudang milik Lona.


Dengan kasar tuan Devan melempar tubuh Lona keatas lantai yang hanya beralaskan kardus. Lona mengerti menahan sakit pada bok*ngnya yang terhentak di lantai.


Lona merasai sakit pada bok*ngnya yang terhentak, ringisan Lona tak membuat tuan Devan iba. Ia malah semakin mendekat pada Lona, Lona yang ketakutan semakin memundurkan tubuhnya hingga mentok di dinding.


Merasa geram karena Lona selalu menghindarinya, tuan Devan menarik kasar kaki Lona. Lona pun terjungkal padanya. Dengan kasar tuan Devan kembali menarik tengkuk Lona.


Menyerang Bibir ranum Lona yang baner-benar manjadi Candu baginya. Lona telah pasrah, tenaganya telah habis untuk terus memberontak. Taun Devan melepaskan Ci*man panasnya dibibir Lona. Ia turun ke leher jenjang Lona. Kembali meninggalkan tanda kemerahan disana.


"Tuan, saya mohon jangan begini, saya mohon lepaskan saya," lirih Lona, tak didengarkan oleh Tuan Devan, tuan Devan terus saja melancarkan aksinya.


"Aku benar-benar harus secepatnya menyingkirkanmu Lona!" Ucap Myla mengepalkan tanganya, saat mengintip aksi kekasihnya yang menjajahi tubuh Lona.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Like, komen, hadiah, dan vote πŸ™


Rate bintang 5 pleaseeeee πŸ™


Maafkan typonya πŸ™


Selamat membaca dan semoga suka πŸ’–


Lope readersss 😘😘😘


πŸ”₯πŸ‚