
"Hiks,, hiks,, hiks,,," Cynthia menangis tersedu-sedu setelah menyadari bahwa dia ketinggalan ponsel dan seluruh barang-barangnya di restoran yang menandakan bahwa dia tidak bisa menghubungi siapapun karena nomor ponsel Niko pun dia tidak menghafalnya.
Lebih parahnya lagi, Dia harus meninggalkan Rumah sakit sembari berjalan kaki, sebab Dia tidak memiliki uang sepesar pun untuk membayar taksi, sedangkan di apartemen tempat dia berada taksi tidak bisa masuk ke sana.
Dan yang menyebalkan lagi bahwa saat itu kakinya sedang sakit, jad akan sangat menyakitkan baginya ketika dia pulang berjalan kaki dan matahari sangat terik.
Apalagi, semua orang akan melihatnya secara jelas hingga akan memalukan baginya
Sementara perempuan itu menangisi kemalangan yang menimpa dirinya, maka seorang suster mendatanginya setelah mendengar suara isakannya.
"Nona, Apakah Nona baik-baik saja?" Tanya suster itu sembari memperhatikan perempuan yang duduk di atas ranjang sembari meneteskan air matanya.
Maka Chintya segera menggelengkan kepalanya, "Aku ingin sendiri," ucap perempuan itu yang merasa amat kesal karena seumur hidupnya dia sudah hidup dari belas kasihan orang lain, Jadi saat ini dia tidak ingin mengandalkan hal seperti itu lagi karena menurutnya itu sangat memalukan.
Maka sang suster yang mendengar ucapan perempuan itu hanya bisa pergi lalu dia mengambil sebotol minuman dan juga roti panggang untuk menghibur perempuan itu.
Setelah suster itu meletakkannya di nakas samping tempat tidur Cynthia, maka dia segera pergi membiarkan perempuan itu terus menangis di bilik kamarnya.
"Kau dengar itu? Perempuan itu menangis sejak tadi."
"Ah iya, tadi aku mendengar percakapannya dengan seseorang katanya dia dipecat dari tempat kerjanya dan harus menanggung denda yang begitu banyak."
"Ahh,, sayang sekali, dia benar-benar nasib buruk, Karena tadi aku melihat beberapa bagian wajahnya juga terluka, jadi pastilah itu akan berbekas dan akan memalukan."
Orang-orang di tempat itu saling berbisik-bisik di bilik tempat tidur mereka masing-masing tanpa memperdulikan perasaan Cynthia yang semakin kacau mendengarkan hal tersebut.
Hal itu semakin membuat Chintya menangis amat keras meratapi nasibnya yang begitu malang sembari menyalahkan orang-orang di sekitarnya.
Isakan perempuan itu mengganggu seseorang yang sedang tidur, jadi dia menghampiri bilik kamar Cynthia dan menyuruh perempuan itu untuk diam.
"Kalau kau tahu ini Rumah sakit maka jangan membuat keributan! Kalau kau ingin menangis kembalilah ke rumahmu dan menangis di sana!!!" Geram pria bertubuh gemuk itu lalu dia kemudian keluar untuk kembali ke bilik kamarnya.
Hal itu kembali lagi membuat orang-orang jadi berbisik menyalakan Cynthia yang memang mengganggu ketenangan di rumah sakit itu.
Maka Chintya tidak bisa berkata apapun lagi, dia hanya menangis dalam diam dan pada sore hari menjelang malam dia mengambil makanan yang dibawakan oleh suster lalu menghabiskannya.
Setelah itu, perempuan itu turun dari tempat tidur dan meninggalkan rumah sakit yang biaya rumah sakitnya telah dibayar oleh pihak restoran sebab akan dihitung juga ke dalam denda yang harus dibayar oleh Cynthia.
Maka sembari berjalan, Chintya terus meneteskan air matanya dan dia mengingat bahwa semua kemalangan yang menimpanya berawal dari Melinda.
'Sial!! Seandainya Melinda tidak membuatku marah, maka aku tidak akan menghasut Seto untuk memberinya pelajaran di kantor. Dan seandainya aku tidak melakukan itu, maka saya tidak akan pernah datang ke tempatku mengobrak-abrik ruang VIP hingga aku dipecat!!!
'Aku benar-benar marah padanya dan aku akan membalaskan semua hal yang sudah ia lakukan padaku!!!" Geram perempuan itu terus melangkahkan kakinya dengan tertatih-tatih sebab dia merasa begitu sakit pada kakinya yang terluka.
Perempuan itu juga bertemu beberapa orang, tetapi untunglah saat itu malam hari jadi tidak ada yang akan melihat keadaannya yang kacau dan akan menghinanya lagi lalu mengejeknya.
Maka Chintya terus berjalan sembari menundukkan kepalanya hingga dia melihat dua orang yang berjalan ke arahnya.
Tentu saja Cynthia mengabaikan pria yang berada di sebelah Melinda, dan lebih fokus melihat Melinda.
"Kau jallang sialan!!!!" Teriak Cynthia pada perempuan yang di depannya.
Tetapi ketika dia berpikir untuk menabrak perempuan itu hingga mereka terjatuh ke tanah dan dia berada di atas Melinda untuk memberi pelajaran pada perempuan itu, dia sangat terkejut ketika dia semakin mendekat dan tubuh Melinda ditarik oleh Dilan ke samping.
Sehingga saat itu Chintya sudah tidak bisa lagi menjaga keseimbangannya karena terlanjur semua berat badannya telah ditimpahkan ke depan karena yakin akan menabrak Melinda.
Maka perempuan itu tersungkur ke depan dan terjatuh mencium tanah. Maknyus!!!
Melinda yang melihat hal itu begitu terkejut, Tetapi dia merasa lega ketika menyadari bahwa ternyata Dilan menyelamatkannya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Dilan sembari memeluk Melinda dengan erat.
"Iya, aku baik-baik saja," jawab Melinda sembari melihat Cynthia yang kini berusaha bangun.
Tetapi ketika mereka pikir perempuan itu akan bangun untuk kembali menyerang mereka, betapa terkejutnya dia kalah perempuan itu malah berteriak kencang.
"Tolong! Tolong! Seseorang mencelakai saya Padahal saya baru saja kembali dari rumah sakit mendapatkan pengobatan dan sekarang saya didorong sampai terjatuh!! Tolong!! Tolong!!!" Suara teriakan perempuan itu langsung membuat semua orang yang berjalan di sekitar rumah sakit kini melihat ke arah mereka.
Beberapa pejalan kaki yang ada di sekitar itu langsung melihat keadaan Chintya yang tersungkur di lantai dengan luka yang kembali berdarah Jadi mereka menghampiri perempuan itu untuk menolongnya.
"Nona baik-baik saja?"
"Siapa yang melakukan ini nona?"
Semua orang bertanya pada Chintya sembari melihat wajah perempuan itu yang penuh air mata karena terisak.
Dan menjawab pertanyaan Semua orang, maka dia kemudian menatap Melinda dan Dilan sembari berkata, "perempuan dalam pelukan pria itu memiliki dendam padaku, jadi dia mendorongku hingga seperti ini, dan pria itu bukannya menolongku Tetapi malah membela kekasihnya!!! Mereka berdua berniat mencelakaiku!!! Hiks hiks....!!!"
Ucapan perempuan itu segera membuat semua orang menatap Melinda dan Dilan dengan marah, lalu salah satu pria kemudian berdiri menghampiri keduanya dan pria itu hendak melayangkan pukulan ke arah Dilan membuat Melinda sangat ketakutan jadi dia kemudian berpindah dengan cepat melindungi Dilan hingga dialah yang terkena pukulan.
Buk!!!
Sang pria yang memukul itu langsung terkejut ketika dia melihat Melinda kini terjatuh ke pelukan Dilan dengan luka di pipinya.
Maka semua orang yang ada di sana begitu terkejut dan seorang pria lain kembali memukul pria yang sudah memukul Melinda karena dia sangat marah jika pria itu memukul seorang perempuan.
"Sialan!!! Beraninya kau memukul perempuan seperti itu?!!!" Teriak pria itu dengan sangat marah.
Dilan yang melihat keadaan Melinda langsung berlari membawa perempuan itu ke arah rumah sakit meninggalkan kerumunan yang kini semakin riuh di tempat itu.
Bagaimana tidak, pria-pria yang bersama dengan pria yang baru saja memukul Melinda kini memukul balik pria yang baru saja memukul teman mereka hingga terjadi perkelahian antara dua kubu.
@info.
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow author agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga untuk masuk di grup chat otor ya,, bisa liat di profil otor.