Balas Dendam Istri Yang Dikhianati

Balas Dendam Istri Yang Dikhianati
74.


Di rumah sakit, Ruben merasa sangat senang setelah anaknya datang ke rumah sakit memperkenalkan calon menantunya, jadi pria itu dengan senang menghabiskan makanan siangnya sembari membuka messenger nya, sebab dia ingin mengabarkan kabar baik itu pada semua anggota keluarganya.


Ting!


Tiba-tiba saja, sebuah pesan dari grup umum perusahaan mereka masuk dan betapa terkejutnya pria itu ketika dia membukanya dan yang mengirim pesan di sana ternyata adalah nomor ponsel dengan nama Melinda.


Maka dia langsung membaca pesan itu ke bawah dan pria itu benar-benar terkejut melihat bahwa perempuan itu sedang mengatakan perasaannya pada putranya.


Maka begitu pria itu menjadi lebih senang lagi dan dia dengan cepat mengetik.


*Sebagai CEO, aku merestui hubungan kalian berdua!* Ketik pria itu lalu mengirimkannya ke dalam grup.


Sontak saja, semua orang di perusahaan dikejutkan dengan dua pesan yang ada di dalam grup, tetapi tidak ada yang berani berbicara karena tentu saja grup itu sebenarnya hanya digunakan untuk mengirim hal-hal, penting bukan untuk tempat bercanda.


Ke 4 orang yang berada di ruangan tim desain produk juga melihat pesan itu dan mereka semua mengangkat wajah mereka menatap ke arah Melinda.


Terlihat bahwa perempuan itu tidak menyadari sesuatu dan hanya fokus melihat ke arah komputernya.


"Hei..!! Hei!!!" Panggil Karina dengan suara yang pelan langsung membuat Melinda mengangkat wajahnya dan menatap keempat orang sedang menoleh ke arahnya.


Hal itu membuat Melinda sangat bingung, dan dia melihat ke arah Dilan, terlihat jelas pria itu sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya jadi dia berpikir Dilan sedang membalas ponselnya.


"Aku sangat sibuk!!!" Ucap Melinda dengan suara berbisik pelan sembari perempuan itu mengintip ponselnya yang layarnya telah menghitam berharap sebuah pesan kembali masuk ke ponselnya.


Sementara itu, Dilan yang sedang mengetik pesan, dia langsung mengucapkan isi hatinya dan mengucapkan terima kasih pada Melinda karena sudah membalas perasaannya.


Setelah mengirim pesan itu, Dilan melihat Melinda, lalu dia berpura-pura kembali fokus ke komputernya sehingga membuat Melinda merasa aneh bahwa pria itu sudah selesai memainkan ponselnya, tetapi belum ada pesan baru yang masuk ke ponselnya.


'Kenapa dia mengabaikan pesanku?' ucap Melinda yang kini hatinya merasa kacau setelah dia melihat manajernya telah meletakkan ponselnya Tetapi dia belum mendapat sebuah pesan baru.


Yang artinya bahwa pria itu tidak meladeni pesannya.


Namun, karena rasa penasarannya maka dia mengambil ponselnya dan melihat halaman depan messenger-nya, tetapi perempuan itu hanya menerima beberapa pesan dari grup yang telah diarsipkan sehingga dia tidak bisa langsung membukanya.


Dan karena sedari tadi pagi dia sudah mengetahui bahwa semua grup kantor sedang membahas tentang dirinya dan Dilan, maka perempuan itu tidak berniat untuk membuka pesan yang diarsipkan, dan hanya mematikan ponselnya sembari menghela nafas dengan perasaan kacau meletupkan balon hijau di atas kepalanya.


'Dia pasti sudah gila, dia pasti sudah salah kirim pesan tersebut!!!' gerutu Karina dalam hati sembari menulis sebuah pesan singkat di kertas kecil dan melemparkannya ke meja Melinda.


Melinda yang menerima kertas itu hanya bisa mendesah kesal kembali mengambil kertas itu dan membukanya.


*Apa kau sudah gila?? Cepat hapus pesanmu di grup perusahaan!!*


Setelah membaca tulisan itu, Melinda jadi mengangkat wajahnya dan menatap keempat rekannya dengan wajah yang bingung.


Regi yang melihat kebingungan perempuan itu langsung mengangkat ponselnya dan memperlihatkan layar ponselnya pada Melinda.


Melinda yang melihat layar ponsel itu langsung melototkan matanya dan benar-benar tak percaya bahwa pesannya yang harusnya dikirim pada Dilan malah dikirim ke grup umum perusahaan.


Yang lebih parahnya lagi, dia melihat dua orang yang membalas itu ialah CEO mereka dan juga manajernya!!!


'Sial!!!!' teriak Melinda dalam hati yang merasa begitu marah pada dirinya sendiri yang sudah mempermalukan dirinya sendiri dan mencari masalah untuk dirinya sendiri.


Maka dengan kepanikannya Melinda dengan cepat mengambil ponselnya lalu dengan tangan yang gemetaran ia membuka Messenger-nya.


Perempuan itu menelan air liurnya yang terasa seperti duri karena merasa bahwa dirinya akan segera dipecat dari perusahaan Itu karena mengacau di grup umum.


Dan begitu dia membuka grup umum, dia benar-benar melihat pesan dari CEO dan pesan dari Dilan.


Seharusnya dia senang karena Dilan menerima perasaannya, tetapi yang membuatnya sangat kacau ialah pesan dari CEO perusahaan mereka yang ada di sana.


Siapa sebenarnya CEO itu, sehingga bukannya marah, malah pria itu mendukung hubungan mereka?


Tetapi jika memikirkannya lagi, pesan itu pastilah bukan mendukungnya, tetapi pesan itu sedang mengejeknya bahwa dalam beberapa jam ke depan dia akan segera dipaksa menyerahkan surat pengunduran dirinya.


@info.


Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow author agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga untuk masuk di grup chat otor ya,, bisa liat di profil otor.