
Semua orang menunggu jam istirahat karena tentunya mereka hendak menanyakan masalah yang terjadi pada Melinda di jam istirahat.
Tetapi, betapa kecewanya mereka ketika jam istirahat tiba dan Melinda yang berdiri langsung ditarik oleh Dilan, lalu diajak keluar meninggalkan 4 orang yang terpaku di tempat mereka masing-masing.
"Astaga,, mereka benar-benar memiliki hubungan!!!"
"Apa yang dibicarakan semua orang di grup perusahaan ternyata memang benar!!!"
"Astaga,, Aku tidak tahu apakah harus senang atau bagaimana, sebab aku rasa manajer pasti orang yang sangat kaku saat menjalin hubungan. Apakah Melinda tidak akan tertekan Jika dia benar-benar menjalin hubungan dengan manajer?"
"Aku setuju saja, tapi Melinda Memang agak kasihan, dan karena Melinda itu orang yang sangat polos dan lugu aku rasa dia dipaksa oleh manajer."
Semua orang menghela nafas mengetahui fakta tersebut.
Sementara Melinda yang ditarik oleh Dilan, mereka menaikin lift bersama dengan banyak orang, dan Dilan dengan percaya dirinya terus menggenggam tangan Melinda hingga membuat jantung Melinda terus berpacu dengan kuat.
Itu pertama kalinya di depan umum dia digenggam dengan erat oleh seorang lelaki!!!
"Sudah kubilang kan apa yang kubilang di grup itu benar!!"
"Ah,, iya, ternyata mereka memang memiliki hubungan, dan aku rasa perempuan ini dipaksa untuk menjalin hubungan dengan manajer yang terkenal dingin ini."
"Iya, apalagi katanya perempuan itu adalah perempuan yang polos dan lugu, itu sebabnya mantan calon suaminya dan sahabatnya bisa membohonginya."
Orang-orang berbisik-bisik di dalam lift, tetapi baik Dilan maupun Melinda, mereka tidak mengatakan apapun dan hanya membiarkan orang bergosip-gosip.
Sampai akhirnya mereka tiba di lobi lalu Dilan masih dengan percaya dirinya memegang tangan Melinda dan membawa perempuan itu keluar dari kantor.
Begitu masuk ke dalam mobil, Dilan menatap perempuan di sampingnya, "kau tidak apa-apa kan?" Tanya pria itu yang merasa cemas Jika saja Melinda terkejut dengan apa yang terjadi.
Tetapi Melinda menggelengkan kepalanya lalu perempuan itu tersenyum, "aku senang," ucap Melinda langsung membuat hati Dilan merasa sangat lega.
"Kalau begitu, kita akan pergi makan siang dan lanjut ke rumah sakit untuk menemui ayahku." Ucap Dilan langsung diangguki oleh Melinda, lalu kedua orang itu kemudian pergi ke sebuah restoran untuk makan siang bersama.
Setelah makan siang, Melinda berinisiatif membungkus satu porsi makanan untuk calon Ayah mertuanya, lalu mereka kemudian meninggalkan restoran dan berangkat ke rumah sakit.
Begitu tiba di rumah sakit, mereka menaiki lift untuk pergi ke ruangan VIP, dan Melinda merasakan jantungnya berdegup amat kencang karena dia merasa gugup bertemu dengan ayah Dilan dan terutama dia terlalu gugup Jika saja orang tua Dilan sudah mendengar kabar tentangnya.
"Memangnya kejahatan Apa yang dilakukannya?" Tanya Melinda.
"Aku sudah menyelidiki semuanya, dan ternyata beberapa masalah perusahaan yang akhir-akhir ini terjadi semuanya disebabkan olehnya, karena dia ingin mendesak ayahku menikahinya agar putranya bisa menggantikan ayahku menjadi seorang CEO.
"Karena perempuan itu tahu kalau aku tidak berniat menjadi CEO di perusahaan ayahku." Ucap Dilan langsung membuat Melinda mengulurkan tangannya dan memegang tangan pria itu dengan hangat.
"Jangan cemas, semuanya akan baik-baik saja," ucap Melinda langsung diangguki oleh Dilan, pria itu terus melangkahkan kakinya hingga mereka berdua tiba di ruangan tempat rawat inap ayah Dilan.
Begitu memasuki ruangan, Dilan dan Melinda langsung disambut oleh seorang pria yang terduduk di tempat tidur sembari tersenyum ke arah mereka.
"Ayah," ucap Dilan sembari berjalan ke samping Ruben dengan tangannya masih terus memegang erat tangan Melinda.
Pria itu meletakkan paper bag berisi makanan yang ia bawa di atas meja, lalu dia menarikan kursi untuk Melinda agar perempuan itu bisa duduk.
"Apakah ini adalah calon menantuku?" Tanya Ruben dengan senyum terukir indah di wajah pria itu sembari menatap Melinda dengan hangat.
"Halo Om, perkenalkan nama saya Melinda" ucap Melinda mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Ruben.
Ruben yang mendengar itu langsung menyambut uluran tangan Melinda Dan Dia begitu senang melihat perempuan cantik di depannya.
"Panggil aku ayah!" Ucap Ruben mengamati perempuan di depannya, "Kau sangat cantik, aku sampai tidak bisa menemukan alasan Bagaimana kau menerima Putraku menjadi calon suamimu. Padahal Putraku bukanlah orang yang baik-baik,,," kata Ruben dengan senyum terukir indah di wajahnya.
Melinda yang mendengar itu, ia tersenyum kikuk lalu dia menoleh ke arah Dilan karena dia benar-benar tidak percaya bahwa ayah dari pria itu adalah orang yang begitu hangat, berbeda sekali dengan Dilan.
Sementara Vivin yang berada di samping kanan Ruben, perempuan itu juga menatap Melinda dan berkata, "Dia sangat cantik, dia sangat cocok dengan Dilan yang tampan."
Mendengar itu, Melinda langsung melihat perempuan di depannya Dan Dia teringat akan ucapan Dilan jadi dia merasa agak kikuk untuk berbicara dengan perempuan itu.
Dan untungnya Dilan menyelamatkannya dengan pria itu langsung merangkul melindas sambil berkata, "aku hanya datang mengenalkan Melinda pada ayah, dan kami juga sudah membawa makan siang untuk ayah. Sekarang kami harus pergi karena masih ada urusan di kantor."
"Ahh begitu, Baiklah, kalian pergilah jangan membuat pekerjaan tertunda. Lain kali kalian harus datang lagi ya, dan saat itu kita harus mengambil banyak waktu untuk berbincang-bincang." Ucap Ruben yang merasa puas karena akhirnya dia benar-benar sudah melihat calon istri putranya.
@info.
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow author agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga untuk masuk di grup chat otor ya,, bisa liat di profil otor.