
Dilan yang keluar dari kamar langsung ditemui oleh seorang bawahannya yang selalu ia tugaskan untuk tinggal di rumah tersebut demi menjaga ayahnya dan mengawasi tempat itu jika saja Vivin berbuat macam-macam saat berada di rumah tersebut.
"Ini berkas yang Tuan muda minta untuk saya bawakan," ucap pria tersebut sembari menyerahkan sebuah berkas dalam map coklat kemudian diterima oleh Dilan.
"Kau sudah bekerja keras, pergilah bersama teman-temanmu untuk makan," ucap Dilan menyerahkan sebuah kartu kredit pada pria itu, lalu dia segera berjalan ke ruang kerja ayahnya.
Sang pria yang ditinggalkan oleh Dilan merasa sangat senang, jadi dia langsung membungkuk memberi hormat pada Dilan sambil berkata, "Terima kasih banyak tuan muda."
Mendengar suara pria dari belakangnya, maka Dilan hanya mengangkat salah satu tangannya sebagai kode pada pria itu bahwa dia sudah menerima ucapan terima kasihnya, dan membiarkan pria itu pergi menikmati makan mewahnya bersama para pengawal yang lain.
Tok tok tok....
Suara pintu yang diketuk oleh Dilan langsung membuat Ruben menyuruh pria itu untuk masuk.
"Masuk!" Ucap Ruben.
Maka pintu segera terbuka dan Dilan memasuki ruangan itu sembari mendekat ke meja kerja ayahnya dan melihat bahwa pria itu tengah sibuk menelpon seseorang.
Dan yang lebih parahnya lagi, dia melihat nama kontak pada ponsel itu ditulis Putraku Deris.
Yang artinya bahwa pria itu sedang menelpon mantan calon saudara tirinya.
"Ayah tidak perlu menelpon mereka, karena mereka tidak akan menjawabnya," ucap Dilan yang saat itu orang-orangnya sudah selesai menjebloskan Deris ke penjara karena pria tersebut memakai obat-obatan terlarang.
Sementara, Ruben yang mendengar ucapan putranya tidak memperdulikan pria itu, tetapi ketika panggilannya benar-benar tidak diangkat maka pria itu melepaskan ponselnya dan memijat keningnya yang terasa begitu sakit.
Antara orang yang ia cintai dan darah dagingnya sendiri, ini benar-benar membuatnya kesulitan.
"Apakah kau yang menyuruh ketiga pengawalmu menyeret Vivin keluar dari sini?" Tanya Ruben sembari menatap putranya di depannya.
Pria itu kemudian melihat Dilan tersenyum tipis lalu pria itu menyerahkan sebuah map coklat yang telah disiapkan oleh Dilan untuk dilihat oleh ayahnya.
Pria itu berpikir bahwa anaknya sudah merasa diabaikan sehingga Dian berkata seperti itu.
Tetapi beberapa saat kemudian dia mengambil berkas yang diletakkan Dilan di mejanya lalu pria itu membukanya secara perlahan.
Betapa terkejutnya dia ketika dia melihat foto-foto Vivin bersama dengan para petinggi perusahaan, yang mana perempuan itu sedang terlihat sangat intim bukan hanya dengan satu petinggi perusahaan, tetapi hampir semua petinggi perusahaan memiliki foto yang sangat intim dengan Vivin.
Lalu dia juga melihat berkas-berkas yang begitu banyak di dalam amplop tersebut, tetapi butuh waktu agak lama untuk bisa mempelajari semuanya, jadi dia hanya mengambil sebuah kaset yang ada di sana Lalu memutarnya di laptop.
"Tuan Arandi Tenang saja, saya sudah berhasil memikat hatinya, jadi sebentar lagi kami akan menikah dan tentunya saya akan membuat kalian semua menjadi untung. Tapi saya hanya berharap kalian terus mempengaruhinya agar dia mau mempercepat pernikahan kami." Suara Vivin yang sedang berbicara dengan seorang pria, yang mana perempuan itu terlihat sangat dekat sambil menuangkan anggur untuk Tuan Arandi.
Lalu setelah itu, videonya kembali memutar rekaman lain di mana terlihat Vivin bersama dengan salah seorang petinggi perusahaan sedang memasuki sebuah kamar hotel.
Lalu beberapa rekaman lainnya yang memperlihatkan penghianatan Vivian Dan juga bagaimana perempuan itu merayu semua orang agar mendukungnya dalam menjalankan rencananya.
"Perempuan sialan!!!" Geram Ruben merasa sangat marah sembari pria itu memukul mejanya dengan keras karena tak percaya bahwa dia sudah ditipu oleh semua orang.
Ketika dia membawa Vivin dan memperkenalkannya pada semua petinggi perusahaan, mereka semua tampak sangat segan dan mendukung hubungan mereka, Namun ternyata semua itu sudah diatur oleh mereka semua demi mendapatkan keuntungan masing-masing.
Saat itu juga, ponsel Ruben kemudian berdering memperlihatkan sebuah nomor baru.
Pria itu mengerutkan keringnya sembari mengangkat panggilan itu dan betapa terkejutnya dia ketika yang berbicara dari dalam adalah Vivin yang sedang menangis tersedu-sedu.
Maka tanpa ingin menjawab apapun pada orang di seberang telepon, dia langsung mematikan panggilan itu dan merasa sangat marah dengan apa yang terjadi.
@info.
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow author agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga untuk masuk di grup chat otor ya,, bisa liat di profil otor.