
Setelah Dilan bersiap-siap, dia keluar dari kamar dan mendapati Melinda berdiri di sana sembari menenteng beberapa kotak bekal yang ada di tangannya.
Melinda yang juga melihat pria yang keluar dari kamar langsung berkata, "Aku tidak menemukan tas untuk menaruh ini, jadi--"
"Tunggu sebentar!" Sela Dilan lalu pria itu segera pergi mencari tas untuk digunakan oleh Melinda.
Setelah selesai memasukkan semua kotak bekal itu ke dalam tas, maka keduanya segera turun ke tempat parkir dan berjalan menuju sebuah mobil yang tak lain adalah mobil milik Dilan.
"Itu, biar saya saja yang menyetir karena manajer belum sarapan jadi manajer sebaiknya sarapan di jalan." Ucap Melinda.
"Ah,, tidak perlu, aku yang akan menyetir." Ucap Dilan segera membuka pintu kemudi karena dia tidak mau terlalu banyak merepotkan perempuan itu.
Melihat pria itu sudah bersikap keras kepala, maka Melinda tidak mempermasalahkannya lagi dan hanya duduk di kursi penumpang depan.
Selama perjalanan ke rumah Amira, kedua orang itu terus hening karena mereka berdua sibuk dalam pikiran mereka masing-masing, terutama Melinda yang sibuk menyusun pertanyaan yang harus ia tanyakan pada Dilan.
Sampai mereka tiba di rumah Melinda, maka kedua orang itu turun dari mobil dengan Melinda yang langsung mengajak Dilan masuk ke dalam rumahnya.
"Ini,, sebaiknya manajer sarapan dulu sebelum kita berangkat ke kantor sembari menunggu saya bersiap-siap." Kata Melinda sembari menuntun pria itu ke arah meja makan.
"Baik, terima kasih," kata Dilan sembari duduk di depan meja makan dan melihat perempuan itu membuka bekal-bekal yang tadi ia bawa, di atas meja makan juga tersedia beberapa menu sarapan yang telah disiapkan oleh pelayan.
"Nona?!" Tiba-tiba sang pelayan keluar dari dapur dan terkejut melihat Melinda yang telah kembali.
"Selamat pagi Im," Kata Melinda sembari melemparkan senyumnya ke arah pelayan nya.
"Ah,, Selamat pagi Nona. Tapi kenapa Nona malah pulang pagi-pagi begini? Kemarin malam Nona ada di mana? Tidak terjadi sesuatu kan?" Tanya pelayan itu yang merasa cemas pada Nona nya jika terjadi sesuatu pada perempuan itu.
Melinda langsung tersenyum, "Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Tolong layani manajer saya karena saya akan pergi siap-siap untuk berangkat ke kantor." Ucap Melinda pada pelayan itu langsung dianggap oleh sang pelayan.
Jadi Melinda langsung pergi ke kamarnya, sementara pelayan itu tinggal dan melihat pria di depannya adalah pria yang sangat dingin merupakan pria yang kemarin datang ke rumah mereka.
"Air putih," ucap Dilan dengan suara datarnya langsung dianguki oleh sang pelayan, lalu perempuan itu segera mendapatkan segelas air putih untuk Dilan.
Karena dia agak takut melihat ekspresi pria itu yang tampak dingin, maka pelayan itu hanya meletakkan air putihnya di meja lalu dia hendak pergi dari tempat itu ketika Dilan tiba-tiba menghentikannya dengan kata-katanya.
"Tunggu!" Tegas pria itu langsung membuat sang pelayan yang hendak pergi kini berbalik menatap Dilan dengan raut wajah gugupnya karena dia benar-benar gelisah bertatapan dengan pria di depannya.
"Apakah masih ada yang perlu saya bantu?" Tanya sang sang pelayan.
"Aku ingin bertanya sesuatu tentang Melinda," ucap Dilan.
"Ya, silahkan tanya," ucap pelayan.
"Apakah kau tahu bahwa Melinda akan menikah dengan seorang pria?" Tanya Dilan yang ingin mengetahui apakah Niko pernah datang di rumah itu.
Dia mengerutkan keningnya ketika melihat ekspresi pelayan yang sangat terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Eh? Nona Saya akan menikah? Dengan siapa?" Tanya sang pelayan terkejut mendengar berita itu, karena dia sama sekali tidak mengetahui apapun tentang rencana pernikahan Melinda dengan Niko.
"Ahh, jadi dia tidak pernah bercerita,,, Lalu apakah Melinda pernah membawa seseorang ke rumah ini?" Tanya Dilan.
"Ya, dia hanya pernah membawa dua orang ke rumah ini, yaitu Nona Cynthia dan juga tuan. Yang lainnya tidak pernah." Jawab pelayan itu entah kenapa membuat Dilan merasa sangat lega dan tanpa sadar dia tersenyum.
Dia adalah pria pertama yang dibawa Melinda ke rumahnya, itu artinya kemungkinan ada sesuatu yang spesial padanya hingga membuat Melinda mempercayainya untuk menjadi pria pertama yang datang ke rumahnya.
Pelayan yang melihat senyum pria di depannya begitu terkejut karena dia pikir pria itu tidak bisa tersenyum ketika dia memperhatikan wajah pria itu yang tampak dingin dan selalu saja datar, bahkan caranya berbicara juga tampak sangat datar.
Tapi Siapa yang menyangka bahwa ketika pria itu tersenyum senyumnya begitu sangat indah hingga Dia pikir pegunungan Himalaya akan runtuh jika melihat senyuman pria di depannya.