
Tring!
Tring!
Tring!
Melinda yang duduk di samping Seto menatap ke arah pria itu, karena merasa kesal dengan bunyi suara ponsel Seto yang disetel dalam volume yang tinggi.
"Kak Seto, bisakah nada dering untuk pesannya dipelankan sedikit?" Ucap Hera yang juga duduk di samping Seto langsung membuat pria itu mengerutkan keningnya dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Ahh maaf, aku terlalu semangat melakukan chat dengan seseorang jadi tidak menyadari nya." Kata pria itu dengan wajah tersenyum lebar, sangat jelas bahwa pria itu sedang berada dalam suasana hati yang sangat baik.
Melinda yang melihat itu hanya bisa memalingkan wajahnya dan kembali fokus ke laptopnya sembari menggerutu dalam hati, 'Apakah dia begitu senang bisa berkenalan dengan Cynthia? Apakah dia pikir kalau perempuan itu hanya menyukainya seorang?'
Sementara Seto, dia kembali melihat pesan yang masuk ke ponselnya.
*Iya, aku agak kesal dengan Melinda, tapi aku juga merasa kasihan padanya yang sudah menjadi yatim piatu. Jadi aku mohon pada Kak Seto untuk memperlakukannya dengan baik di kantor. Mohon untuk menjaganya.* Pesan dari Cynthia langsung membuat Seto mengerutkan keningnya.
Pria itu lalu menoleh ke arah Melinda yang sedang fokus bekerja lalu dia kembali menatap pesan yang masuk ke ponselnya.
Pria itu mengeryit, 'Cynthia ini terlalu muda untuk dirayu, tapi dia juga memiliki hati yang sangat baik dan tulus pada Melinda, tapi bisa-bisanya Melinda bersikap buruk padanya. Tidak menyangka, ternyata gadis yang semula culun ini malah berhasil menipu gadis riang seperti Cynthia.
'Tapi meskipun Chintya berkata agar aku tidak membalaskan apa yang telah dilakukan Melinda pada Cynthia, tapi aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja.
'Aku akan memberi pelajaran pada Melinda supaya dia lebih tahu diri dan tidak bersikap seenaknya lagi pada Cynthia,' ucap Seto dalam hati lalu pria itu segera membalas pesan Cynthia dengan singkat.
Setelah itu, pria itu meletakkan ponselnya lalu dia mulai fokus pada pekerjaannya hingga ruangan itu menjadi sangat hening karena tidak ada lagi bunyi ponsel Seto yang sedari tadi terdengar.
Akhirnya, jam makan siang sudah tiba, jadi Melinda dengan segera menulis sebuah pesan di kertas dan diam-diam menyerahkannya pada manajernya.
*Aku akan menunggumu di tempat parkir,* tulis pria itu yang jelas tahu bahwa Melinda adalah orang yang sangat menjaga reputasi dan tidak ingin dirinya menjadi bahan gosip orang lain.
Jadi dia sadar bahwa dia harus sembunyi-sembunyi agar tidak banyak yang membicarakan mereka apalagi nanti jika Melinda sampai dianggap sebagai perempuan yang berusaha mendekati manajernya agar mendapat keuntungan.
Setelah membaca tulisan di dalam, maka Melinda melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam sakunya, lalu dia segera berdiri.
Karina yang juga melihat manajer telah keluar langsung berdiri dan memperlihatkan sebuah video di ponselnya.
"Tadda!!!" Seru perempuan itu dengan raut wajah yang tampak senang berbunga-bunga memperlihatkan sebuah rekaman CCTV yang mana Di situ terlihat jelas bahwa sel manajer sedang tersenyum.
Meski hanya beberapa detik, tetapi Semua orang dapat melihat senyum itu.
Jadi Seto langsung ternganga dan melotot melihat video tersebut lalu dia merampas ponsel karena.
Dia sudah berjanji akan mentraktir semua orang selama 1 bulan asalkan Karina bisa membuktikan bahwa manajer tersenyum.
"Jadi mulai hari ini dan 30 hari ke depan kita akan ditraktir oleh asisten Manager Seto!!!" Seru Karina langsung membuat semua orang bersorak kegirangan lalu mereka mulai membicarakan Di mana mereka akan makan untuk traktiran pertama dari Seto.
Melinda yang mendengarkan itu langsung berkata, "Maaf sekali hari ini aku tidak bisa ikut makan siang dengan kalian. Selamat menikmati makan siang kalian."
"Ehh tunggu!!!" Seru Karina memanggil Melinda yang langsung berlari setelah berbicara dengan mereka padahal belum ada satupun dari mereka yang sempat berkata apapun untuk menjawab ucapan perempuan itu.
"Hah,, Sepertinya dia sudah ada janji, karena hari ini dia tidak membawa bekal makan siangnya." Komentar Hera sembari menatap punggung Melinda yang menjauhi mereka.
Meski dia merasa agak aneka mah tetapi dia juga merasa senang pada perempuan itu karena akhirnya secara perlahan-lahan perempuan itu sudah terlihat seperti perempuan yang normal.