Balas Dendam Istri Yang Dikhianati

Balas Dendam Istri Yang Dikhianati
73.


Begitu meninggalkan rumah sakit, Melinda terdiam seperti melupakan sesuatu.


'Aku ini kenapa? Kenapa aku merasa bahwa Ada hal penting yang telah ku lupakan setelah kembalinya aku dari rumah sakit? Padahal aku rasa semua pertemuan kami hari ini berjalan dengan lancar, bahkan ayahnya Dilan juga tidak mempermasalahkan tentang gagalnya pernikahanku kemarin.' ucap Melinda dalam hati melihat keluar jendela dengan pikiran yang begitu kalut, karena dia benar-benar pesanan dengan perasaannya sekarang.


Dilan yang melihat perempuan itu seperti terus menghayal langsung mengulurkan tangannya memegang bahu perempuan itu hingga membuat Melinda terkejut dan menoleh ke arah Dilan.


"Ada apa?" Tanya Melinda yang berpikir bahwa pria itu menyentuhnya karena ada sesuatu yang akan dikatakan oleh Dilan.


Tapi Dilan malah tersenyum padanya, kata pria itu, "Kau tampak seperti terus melamun, jadi aku pikir kau memiliki masalah yang mungkin bisa kubantu diselesaikan."


Ucapan Dilan langsung membuat Melinda tertawa kecil.


Perempuan itu menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal lalu dia berkata, "aku merasa ada sesuatu yang terlupakan sejak kita kembali dari rumah sakit, tetapi aku tidak bisa mengingat nya."


Mendengar itu, Dilan tersenyum dan pria itu berusaha menghibur Melinda, "Aku juga pernah seperti mu, aku pernah kehilangan pulpenku padahal ternyata pulpenku ada di tanganku sendiri. Atau suatu ketika ketika aku hendak memakai kaos kakiku, aku bolak-balik mencari kaos kakiku, padahal kaos kakiku itu terus berada di tanganku." Ucap Dilan sembari tersenyum mengingat kebodohannya yang kerap kali ia lakukan.


"Ahhh,, Ternyata bukan hanya aku yang sering seperti itu, ternyata manajer juga seperti itu." Ucap Melinda lalu kedua orang itu tersenyum dan tiba-tiba saja Melinda teringat akan sesuatu.


'Astaga!!! Ternyata apa yang telah kulupakan ialah mengatakan perasaanku yang sebenarnya!!! Hah,, ini pasti karena tadi aku terlalu fokus memperhatikan perempuan yang ada di ruangan itu setelah mendengar cerita manajer.' ucap Melinda dalam hati sembari menghela nafas, lalu perempuan itu memikirkan cara lain untuk mengungkapkan perasaannya.


Setelah mereka tiba di kantor, keduanya langsung duduk di meja kerja mereka dengan empat orang di dalam ruangan itu tentu saja memperhatikan mereka secara bergantian.


Dua orang yang sangat mencurigakan itu langsung fokus pada pekerjaan mereka tanpa menyapa siapapun, jadi semua orang menghela nafas dan berusaha fokus pada pekerjaan mereka.


Tak tak tak....


Suara keyboard yang di ketuk-ketuk menjadi pengiring sunyinya ruangan itu, sampai Melinda tiba-tiba saja menoleh ke arah Dilan dan melihat pria itu sedang memegang ponselnya.


Setelah 5 menit mengetik, dia melihat bahwa Dilan sudah kembali fokus ke komputernya, jadi perempuan itu hanya menyalin pesannya lalu dia kembali bekerja sesekali mengawasi Dilan, dia menunggu pria itu memegang ponselnya.


Beberapa kali melirik ke arah Dilan, dia melihat bahwa pria itu tak lagi memegang ponselnya, jadi hal itu membuat Melinda menjadi agak kesal.


'Hah,, ayolah, pegang ponselmu supaya aku bisa mengirim pesanku!!!' ucap Melinda dalam hati sembari memperhatikan Dilan dari sudut matanya.


Tetapi, setelah sekitar 30 menit kembali bekerja dengan benar-benar tidak memegang ponselnya sampai akhirnya ketika salah seorang berdiri untuk membuat kopi maka Melinda melihat Dilan sudah memegang ponselnya.


Maka dengan terburu-buru dan paniknya Melinda cepat mengambil ponselnya, karena dia takut manajernya kembali meletakkan ponselnya hingga tidak terlalu membuat pria itu terkejut ketika melihat pesannya.


Tuk tuk tuk....


Kedua jempol Melinda dengan cepat menari di layar ponselnya, sampai akhirnya dia selesai mengirim pesan itu dan dia menahan nafasnya sembari berpura-pura melihat ke arah komputernya.


Dilan yang memegang ponselnya langsung menerima sebuah pesan, tetapi bukan pesan pribadi, melainkan pesan grup.


Dan karena yang mengirim pesan itu adalah Melinda, maka dia membuka grup itu dan betapa terkejutnya pria itu ketika dia melihat pesan yang dikirim oleh Melinda di dalam grup itu.


Dia berusaha tenang membacanya, berusaha mengendalikan dirinya agar jantungnya tidak meledak saking deg-degannya dia mengetahui bahwa Melinda ternyata mengakui perasaannya lewat grup perusahaan.


Yang artinya bahwa perempuan itu ingin mengabarkan pada semua orang bahwa dia juga menyukainya setelah gosip yang beredar keseharian tentang dia yang mengatakan perasaannya pada Melinda.


@info.


Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow author agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga untuk masuk di grup chat otor ya,, bisa liat di profil otor.