Balas Dendam Istri Yang Dikhianati

Balas Dendam Istri Yang Dikhianati
38. Foto di kamar manager


Setelah tiba di alamat yang tertera di dalam kartu tanda pengenal Dilan, Melinda berdiri di depan pintu apartemen pria itu sembari berusaha membangunkan Dilan.


"Manager,,,, bisakah kau mengatakan sandi apartemenmu?" Tanya Melinda sembari menepuk-nepuk pipi pria yang masih berada dalam keadaan setengah sadar.


Puk puk puk...


"Manajer,, sadarlah sebentar, dan cepat beritahu saya sandi apartemen ini!!!" Ucap Melinda dengan suara setengah berteriak.


"Hm,, ulang tahun...!!" Tiba-tiba ucap pria itu langsung membuat Melinda kembali membuka dompet Dilan dan melihat ulang tahun pria itu.


Bip bip bip....


Melinda menekan angka kelahiran pria itu, namun tetap saja pintunya tidak bisa terbuka.


Dia mencoba sebanyak dua kali, namun tidak bisa terbuka jadi dia kembali menatap Dilan.


"Ulang tahun siapa yang menjadi sandi pintunya?" Tanya Melinda sembari memperbaiki posisi tubuh pria itu yang terus bersandar padanya.


"Bidadariku, bidadariku,,," ucap Dilan sembari tersenyum kecil membuat Melinda ingin sekali menendang pria itu agar segera sadar.


"Katakanlah siapa nama bidadarimu itu??" Tanya Melinda.


"Hm,,, ng!" Dilan hanya mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas jadi Melinda merasa sangat kesal lalu dia berpikir sesaat dan mengingat Bagaimana pria itu menyimpan fotonya di dalam dompet.


Jadi dia berpikir mungkin saja itu ulang tahunnya jadi Melinda segera menekan tanggal ulang tahunnya dan betapa terkejutnya perempuan itu ketika pintu apartemen itu benar-benar terbuka.


"Astaga,,," Melinda benar-benar tak percaya, tetapi mengingat tubuhnya yang sudah kelelahan menopang tubuh Dilan maka dia dengan cepat membawa pria itu ke dalam dan mencari kamar untuk memberikan pria itu.


"Uhh!!!" Melinda ikut berbaring di samping Dilan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah terlalu lelah membawa pria itu sampai mereka tiba dengan selamat di apartemen.


Namun ketika dia melihat ke dinding Melinda langsung melototkan matanya dan duduk bersila menatap sebuah foto yang dipajang di tempat itu.


'Ini kan fotoku di tempat kerja dan sudut pengambilannya,,,,' Melinda menutup mulutnya dengan kedua tangannya mengetahui bahwa foto itu diambil dari tempat Dilan duduk.


'Kapan dia melakukannya?' ucap Melinda dalam hati kini berbalik menatap pria yang telah tertidur pulas di tempat tidur.


Dia benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Manager,,,, bagaimana bisa kau...?" Melinda menggertakkan giginya karena dia tahu sia-sia saja pertanyaannya. .


Jadi perempuan itu segera keluar dari kamar dan pergi ke dapur untuk mendapatkan air dingin demi menenangkan dirinya.


Ketika dia hendak membuka kulkas, didapatinya pesan yang tadi Ia berikan pada Dilan bersama dengan jus dan cemilan kini ditempel di depan kulkas itu.


Bukan hanya pesan itu saja, pesan itu juga ditambahkan emot hati di sana dan beberapa emot tersenyum seolah orang yang menggambar itu sangat bahagia mendapatkan surat tersebut.


'Apakah artinya manajer benar-benar menyukaiku?' ucap Melinda kembali memegangi jantungnya yang sudah berdegup amat kencang.


Deg!


Deg!


Perempuan itu menelan air liurnya, lalu dia menggelengkan kepalanya sembari membuka pintu kulkas.


Begitu pintu kulkas terbuka, didapatinya jus beserta cemilan yang tadi Ia berikan pada Dilan masih tersimpan di dalam kulkas.


"Ini,,, Kenapa dia tidak memakannya dan malah menyimpannya di sini?" Ucap Melinda yang merasa sangat aneh, tetapi perempuan itu tidak terlalu lama memikirkannya dan hanya mengambil sebotol air mineral lalu meneguknya sampai habis.


Otaknya benar-benar bekerja dengan sangat lelah hingga membuatnya merasa bahwa hari itu dunia benar-benar mempermainkannya.